Let It Go

Don´t be embarrassed, don´t be afraid
Don´t let your dreams slip away
It’s determination and using your gift
Everybody has a gift
Never give up, never let it die
Trust your instincts and most importantly
You´ve got nothing to lose
So just go for it

(It’s Amazing​ – Jem)

Lagu ini kurang lebih merepresentasikan rasa yang menggantung 1 tahun belakangan. Di tengah upaya memutar konsep “zona nyaman” dari yang terbiasa nyaman dengan kedinamisan aktivitas luar rumah menjadi nyaman (membangun surga) di rumah. 

Menghidupkan mimpi tak boleh henti sembari menjalani kodrat asasi. Mimpi yang harus terus hidup mendampingi cita akan peradaban rabbani kelak. Mimpi yang harus dirawat bersama “tunas mungil” yang boleh jadi suatu saat menjadi partner terbaik tuk mewujudkan sang mimpi.

Bersama Institut Ibu Profesional (IIP) aku seperti lepas landas, mengepakkan sayap tuk meraih sang mimpi. Bersama para pemimpi yang gairah belajarnya sungguh luar biasa. Semoga sang mimpi melangit bersama doa hingga siap membumi dan menjadi rahmat bagi semesta.

Terima kasih IIP yang telah memberi ruang untuk belajar, beradab, bermimpi, berdaya, berkarya, berbagi. Mudah2an bisa melanjutkan ke jenjang-jenjang berikutnya dengan syukur nan semangat!

Bismillaahirrahmaanirrahiim 😊

Advertisements

​Berbahagialah Bu

“Menjadi seorang ibu itu lompatannya besar. Jauh lebih dari saat menikah. Dunia serasa berubah. Itu yang kurasa.” Ujarku kepada seorang kawan.

Tak pernah kubayangkan ada sensasi sedemikian ketika ada sesosok manusia tumbuh di dalam diriku. Yang menyatu, bergantung padaku dengan izinNya. Jantungnya berdetak seiring jantungku. Rasaku adalah rasanya. Hidupku adalah hidupnya. Hingga kami bertemu saat ia keluar dari tubuhku. Menangis keras menyongsong dunia. Lamat-lamat kulantunkan adzan pada pertemuan pertama kami yang amat singkat itu. Saat itu, hatiku kian tertambat padanya. Nuun Khairana Khatulistiwa.
Menjadi seorang ibu. Tidak hanya sekedar mengubah status dan rutinitas. Jelas berkurang waktu tidurku. Tapi bukan itu. Ada yang berubah tentang dunia. Padahal jutaan wanita mengalaminya. 

Ada khawatir yang lebih dari biasanya. 

Ada rindu yang lebih dari biasanya.

Ada syukur yang lebih dari biasanya.

Ada cinta.

Ada banyak lagi yang tak terlukis kata.

Rasanya ingin berkata pada dunia, “Hei, aku jadi seorang ibu!”
Menjadi seorang ibu membuatku semakin haus ilmu. Bagaimana tidak? Apa-apa tentang manusia baru yang tadinya hanya menjadi perhatian sekilas, kini menjadi prioritas. Setiap perubahan selalu menuntunku belajar. Ini lebih dari sekedar beradaptasi dengan luka bekas operasi, batuk-batuk, puting lecet, payudara bengkak, badan nyeri pegal lelah, baju selalu basah di pekan-pekan pertama. Kini ada seorang manusia yang hidupnya bersandar kepadaku dengan izinNya. Yang membutuhkan ketenangan, kesabaran, kebijaksanaan, kebanggaan, ketulusan, penerimaanku sebagai seorang ibu. Yang masa depannya menjadi tanggung jawabku. Yang akhiratku diperjuangkan melalui hidupnya.
Menjadi seorang ibu membuatku semakin sering merenung. Tentang berbagai peran amanahku, baik di ranah publik maupun domestik. Tentang pertanggung jawabannya kelak di hadapNya. Tentang hisab. Tentang kematian. Aku semakin memperhitungkan tiap amanah publik yang kan kuambil. Bagaimana niatku? Apakah murni untuk menjadi manusia bermanfaat atau masih tergoda dengan kosmetik fana berupa harta, tahta dan pandangan mata? Dalam sujud kupanjatkan doa, memohon petunjuk dan penguatan akan tiap pilihan. Bukan tak pernah aku merasa lelah, jenuh, malas, minder, lemah, diabaikan, tak berdaya. Terjebak media sosial yang hanya menunjukkan hal-hal ideal. Jadi baper, lupa bersyukur. Padahal jika sedikit lebih arif, dengan iman di dada, aku masih jauh lebih beruntung dari banyak insan di luar sana. Ada kalanya ingin keluar, menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa. Tapi untuk apa? Apakah yang kudapat sebanding dengan apa yang kutinggal? Sedangkan Rabbku telah menitipkan sebuah amanah besar yang adalah bagian dari diriku sendiri. Yang hidupnya berasal dari hidupku.
Lantas, sebuah tulisan menyentuhku. Tulisan yang kurang lebih sama dengan tulisan-tulisan lain tentang peran ibu tetapi ada rasa berbeda yang Ia hadirkan. “Pulanglah ke rumah wahai Ibu”, begitu kira-kira intinya. Tentang pentingnya rasa bangga menjadi seorang ibu. Yang lahir dari paradigma tentang makna seorang ibu bagi buah hatinya, bagi peradaban. Yang meskipun hampir tak kurasa ketika meraba masa lalu. Yang semakin kumaknai seiring waktu. Aku bertekad hendak menjadi ibu sejati. Itulah sebab kelak aku ingin dipanggil “ibu” oleh buah hatiku.
Pun, aku teringat cerita salah seorang ibu. Beliau seorang konsultan pendidikan. Yang baru menikah dan langsung dikaruniai beberapa orang anak dari pernikahan suaminya dengan mendiang istri sebelumnya. Dengan jam terbang tinggi dalam dunia pendidikan, dirasanya masih tak sebanding dengan mengasuh anak. Begitu besarnya pengorbanan ibu rumah tangga. Bahkan lebih dari ibu bekerja. Ibu rumah tangga belum tentu mendapatkan apresiasi layaknya ibu bekerja. Selain itu risiko ibu bekerja adalah interaksinya dengan pria yang bisa jadi bencana. Begitu hemat beliau. 
Aku sama sekali tidak bermaksud mengecilkan pilihan yang diambil para ibu yang memutuskan keluar rumah dengan menyadari berbagai konsekuensinya. Apalagi jika “kondisi”mengharuskan ia untuk mengorbankan segalanya demi kehidupan yang lebih baik bagi keluarga dengan berbagai tantangan zaman yang sayangnya semakin tak ramah bagi makhluk bernama wanita. Bagi eksistensi sebuah keluarga yang sesuai dengan fitrah. Begitu pula para wanita yang sudah menemukan jalannya tuk berkontribusi bagi dunia karenaNya. Sekali lagi, bagiku niat itu amat penting.

Semoga Allah mengaruniakan kekuatan bagi para ibu di mana pun yang tengah memperjuangkan makna ibu itu sendiri.
Hanya soal waktu hingga kamu bisa berdaya kembali bagi ummat. Yang penting terus bergerak. Lakukan yang bisa dilakukan meski kecil. Karena peradaban dibangun oleh jiwa-jiwa yang besar bentukan wanita (ibu dan istri) yang bervisi besar lagi berkorban besar. 

“Bukan dari ibu yang “nguplek di dapur aja”, maka untuk saat ini nikmatilah masa-masa bersama anakmu.” Begitu kira-kira nasihat seorang saudari ketika aku curhat. Ya, kita berhak bahagia dengan apa pun kondisi kita dan buah hati kita pun berhak dirawat oleh ibu yang bahagia 🙂
Nak, terimakasih telah hadir dan mewarnai hidup ibu. Mengajarkan ibu banyak hal. Ibu menyayangimu karenaNya.

Dan untukmu para ibu, berbahagialah, bersyukurlah, karena Sang Maha memuliakanmu dengan memperkenankan surga di bawah telapak kakimu.

Rahasia KebajikanNya Yang Menjadi Pembeda

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimush-shalihat 

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, segala kebaikan menjadi sempurna.
MasyaAllah laa quwwata illa billah 

Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada daya kecuali dengan bantuan Allah.
Nuun Khairana Khatulistiwa
Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Tersemat di blog ibu ronakhatulistiwa.wordpress.com. Tempat ibu berbagi rasa dan inspirasi sejak ibu kuliah hingga sekarang. Juga Rumah Khatulistiwa Daycare, wadah ibu berkarya di dunia pendidikan saat ini.

Yang maknanya ibu ambil dari gelar sahabat rasulullah Umar bin Khattab Al Faruq ra. yang berarti pembeda. Bagai bumi Indonesia yang menghamparkan keanekaragaman, ibu berharap agar kelak engkau menjadi pribadi yang luwes, mampu memahami perbedaan dan diterima berbagai kalangan.

Di sisi lain, bagai garis (yang mengiringi kata khatulistiwa), doa ibu kelak kau akan menjadi sosok yang kokoh memegang prinsip, dapat membedakan benar salah, baik buruk, dan menegakkan kebenaran.
Khairana yang berarti kebajikan, kebaikan. Keberadaanmu adalah kebajikanNya, karuniaNya sebagaimana Eyang Kakungmu (bapak ibumu) menitipkan doa yang bermakna karunia dalam namamu. Karunia yang dinantikannya lama setelah kelahiran ibu karena sungguh ini terjadi berkat kebesaranNya. Semoga dengan kebajikanNya, kelak engkau akan menebarkan kebajikan bagi dunia.
Nuun. Hanya Allah yang mengetahui maknanya. Kelak kan dibukakan bagi kita. Rahasia Sang Pencipta. Eyang Siddi, (bapak ayahmu) yang memberikannya. Kami sedang memaknai hikmah apa yang Allah hendak ajarkan kepada kami di balik proses kelahiranmu yang sungguh indah di luar kekuasaan kami. Kelak apa yang kan Allah takdirkan bagi perjalanan hidupmu, hidup kami, juga dunia. Yang kami pinta kepadaNya agar engkau selalu berada di jalanNya hingga ajal menjemput. 
Nama ini takkan terwujud tanpa kebesaran hati ayahmu untuk memberikan haknya menamaimu. Terimakasih banyak ayah :’)
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Rahasia Kebaikan Sang Pencipta yang Menjadi Pembeda. 😊
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Hadiah terindah dari Illahi di hari kelahiran ibu 6 Januari, yang bertepatan dengan hari Jumat yang barakah (sebagaimana hari waktu ibu dilahirkan 28 tahun silam), sebagaimana hari pernikahan ayah dan ibu. Sungguh tak ada yang kebetulan dalam perjalanan takdir.
Semoga kami menjadi orangtua yang amanah dan bahagia. Kelak dapat mengantarmu tuk menyejukkan dunia dan menjadi pemimpin orang bertakwa. Aamiin _Allahumma aamiin_..
Ibu Nesya & Ayah Huzaifah
Sabtu, 7 Januari 2016 pk 05.26
#menunggu Nuun yang hendak diantar ke kamar ❤

Izinkan Bapak Mencoba (Catatan Sederhana Buat Ananda)

siluet ayah

Sudah lima tahun, Nak.
Lima tahun yang lalu, Bapak ingat, ibumu melahirkanmu dengan rasa sayang yang amat besar kepadamu. Sempat khawatir waktu itu ketika engkau tidak bisa menangis. Bapak memelukmu, dan ibumu menatap dengan pandangan yang teduh. Ada airmata yang meleleh di pelupuk Bapak karena rasa haru, bahagia dan sekaligus merasa khawatir tak bisa memenuhi tanggung-jawab yang diberikan Allah dengan sebaik-baiknya.

Ketika malam itu engkau menangis untuk pertama kali, setelah beberapa jam Bapak dan ibu menanti, rasanya tak bisa kuungkapkan kepadamu, Nak. Bahagia sekali. Aku lihat raut wajah ibumu berubah kerna rasa bahagia yang tak terungkapkan lewat kata. Engkau tahu, Nak. Puncak kesedihan adalah tangis, dan puncak kebahagiaan juga tangis.

Begitu bahagia perasaan ibumu, sampai-sampai seakan tak pernah ada rasa sakit yang ia rasakan. Padahal baru delapan jam yang lalu ia melahirkanmu, Nak. Ketika malam itu engkau menangis keras-keras sekuat tenaga, ibumu dengan bersemangat belajar menyusuimu. Padahal malam telah benar-benar amat larut, dan manusia sedang lelap-lelapnya tertidur.

Engkau tahu, Nak. Semua keletihan itu tak terasa karena engkau sangat berarti. Semua kepenatan itu tak terhiraukan karena ada rasa bahagia yang amat dalam, sembari diam-diam Bapak berdo’a agar kelahiranmu menjadi kebaikan bagi agama ini. Bagi ummat ini. Itu sebabnya, kami namakan engkau Fathimatuz Zahra -sebagaimana Rasulullah Saw. menamai putrinya-meski kebaikan bapakmu sama sekali tak sebanding dengan beliau.

Sudah lima tahun, Nak.
Sudah cukup bagimu untuk merasakan bagaimana Bapak mendidikmu. Mungkin banyak luka yang membekas di hatimu karena Bapakmu ini, tak selalu mampu mendidikmu dengan kelembutan. Mungkin banyak coretan-coretan buram karena Bapak ini, ternyata tak bisa mengusapmu selembut Rasulullah Saw menyayangi putrinya, Fathimatuz Zahra. Bukan karena Bapak tak cinta kepadamu, Sayang. Tetapi karena jiwa Bapakmu yang masih lemah.

Sudah lima tahun, Nak.
Ingin Bapak menyayangimu sebagaimana Rasulullah menyayangi putri-putrinya. Tetapi hati yang masih keruh, tujuan hidup yang belum bersih, membuat ajakanmu untuk bercanda kadang justru Bapak sikapi dengan kalut. Teriakan kerasmu yang engkau pekikkan dengan penuh semangat, kadang masih saja Bapak hadapi dengan gusar. Padahal itu menunjukkan jiwamu benar-benar hidup.

Sikap yang tidak pada tempatnya ini, bukan karena Bapak tidak menyayangimu, Nak. Bukan. Rasa sayang itu amat besar. Kalau engkau sakit, Bapak merasa kehilangan sekali. Tetapi kegusaran itu ada, semata karena hati yang belum jernih. Ada sedikit pekerjaan yang harus Bapak selesaikan, di saat engkau dan adik-adikmu membutuhkan Bapak untuk bermain bersama. Seperti kata penyair Charles Bukowski, “Bukan masalah besar yang mengirim kita ke rumah gila, bukan hilangnya kekasih, melainkan hanya putusnya tali sepatu di saat kita mesti bergegas.”

Bukan hilangnya rasa cinta yang membuat Bapak kadang marah kepadamu, tetapi karena terburu oleh perkara kecil. Tapi seperti sebutir debu yang masuk ke mata, perkara yang kecil itu kadang membuat Bapak tidak melihat dengan jernih. Ada yang terganggu saat memandang, dan baru terasa ketika telah berlalu. Seperti raut tegang di wajah Bapakmu, sebenarnya tidak perlu ada. Bukankah tanpa itu kita bisa bermain-main riang? Kita juga bisa bercanda. Sesudah itu engkau bermain-main sendiri, atau mengajak adikmu. Sedangkan Bapak bisa meneruskan pekerjaan dengan hati tenang.

Teringat Bapak pada Ummu Fadhl. Suatu saat ia menggendong putranya dan membawa ke hadapan Nabi Saw. Anak yang masih bayi ini kemudian digendong Nabi, lalu pipis di dada beliau. Ummu Fadhl segera merenggutnya dengan kasar. Ia gusar karena anaknya pipis di dada Nabi Saw. Tetapi Nabi justru menegurnya. Kata Nabi, “Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa yang dapat membersihkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?”

Itu sebabnya, Nak Bapak kadang menangis sendirian di saat engkau telah tertidur. Bapak ingin tak pernah ada raut muka yang tegang, suara yang memekik keras, dan mata memerah yang menatap tajam. Bapak ingin senantiasa menatapmu dengan teduh, menyambutmu dengan canda, mendekapmu dengan hangat, dan membisikkan kepadamu kalimat yang bisa engkau pegangi untuk hidup di hari kemudian. Seperti saat engkau masih bayi, Bapakingin membisikkan di telingamu bahwa tidak ada yang layak engkau sembah kecuali Allah. Dan bahwa hidupmu harus memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.

Dan itu semua, Nak… nilainya tak bisa diukur dengan benda. Uang memang tidak mengalir setiap hari. Benda-benda juga tak datang sendiri. Tetapi rusaknya benda berharga karena engkau jadikan alat untuk belajar, tak ada nilainya apa-apa dibanding ilmu yang engkau dapat dan pengalaman yang menghidupkan jiwamu.

Tetapi, Nak…
Izinkan bapak mencoba sekali lagi. Betapa pun inginnya Bapak mendidikmu sebaik Luqmanul Hakim mendidik putranya, tetap saja ada yang kurang. Selalu saja di setiap penghujung malam, Bapak melihat langkah-langkah keliru. Ingin bersikap tegas kepadamu agar engkau teguh dalam berprinsip, tetapi yang muncul kadang justru sikap keras. Ingin bersikap lembut kepadamu agar engkau bisa menjadi penolong agama Allah, tetapi yang muncul kadang justru sikap lemah.

Ah…, sudah lima tahun usiamu, Nak.
Sudah cukup banyak yang engkau saksikan dari Bapak ibumu. Kelak engkau bisa belajar, mana yang baik dan mana yang buruk dari perilaku Bapak ibumu. Yang baik, ambillah. Do’akan semoga Allah jadikan sebagai amalan yang disukai-Nya, sehingga Ia berkenan memanggil kita ke surga-Nya sebagaimana Allah Ta’ala berkata, “Wahai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” Dan atas keburukan yang engkau dapati, ingatkanlah Bapak ibumu ini dengan perkataan qaulan karima. Maafkanlah kesalahan-kesalahan itu, ikhlaskanlah kekurangan-kekurangan itu, dan mohonkanlah kepada Allah agar memberi ampunan yang sempurna.

Selebihnya, belajarlah untuk menghormati ibumu. Cintailah ia dengan penghormatan yang tinggi dan perhatian yang tulus. Sesungguhnya, surgamu ada di telapak kakinya. Kalau sekali waktu ibumu tampak membelalak atau wajahnya sedikit cemberut, ketahuilah Nak tentang penat yang ia rasakan karena harus menyayangimu -dan juga adik-adikmu-tanpa batas waktu. Kalau hari ini engkau bisa berlari-lari gembira, itu karena ibumu mengikhlaskan keletihannya untuk mencurahkan kasih-sayang kepadamu saat tulang-tulangmu belum kuat. Kekuatan ibumulah yang engkau hisap saat kakimu belum mampu berdiri tegak, sehingga sekarang teriakanmu bisa lantang.

Sungguh, Nak. Besarnya kasih-sayang seorang ibu tak akan mungkin sanggup digantikan oleh seorang Bapak yang sangat mencintai anak-anaknya. Seperti kata-kata orang bijak, “Satu malam yang dijalankan oleh seorang ibu dalam mengurusi anaknya, bernilai lebih besar daripada bertahun-tahun kehidupan seorang ayah yang setia. Kelembutan dan kasih-sayang yang terkandung dalam mata berbinar seorang ibu adalah kilatan kasih dan sayang Tuhan Sekalian Alam.”

Sudah lima tahun, Nak. Tak terasa.
Begitu banyak yang terjadi dalam waktu yang amat panjang itu, tetapi amat sedikit yang bapak ingat. Seakan hidup ini tak kita pertanggung-jawabkan.

Rasanya baru kemarin engkau lahir. Bapak tak tahu harus tertawa atau menangis ketika ingat teriakanmu yang sangat lantang, lalu Bapak berkata mantap, “Teriakannya membangunkan jiwa yang tertidur. Semoga Allah jadikan ia sebagai kebaikan bagi agama ini.”

Hari ini, kata-kata itu masih menjadi cita-cita di hati Bapakmu.

Ah, sudah lima tahun, Nak.
Ada yang sering Bapak ingat tentang Fatimatuz Zahra putri Nabi Saw. Darinya kuambil namamu. Pernah ada yang bertanya, kenapa kuambil nama putri Nabi untuk namamu? Karena, tak banyak perempuan seperti dia. Dan Bapak ingin engkau bisa bercermin pada kemuliaannya.

Dialah, Nak seorang yang dipenuhi dengan kebaikan. Kalau malam sudah hampir berakhir, ia banyak menangis kepada Tuhan. Ia banyak berdoa untuk orang lain. Doa untuk tetangganya, ia panjatkan lebih dulu daripada doa untuk dirinya sendiri. Sementara ketika hari sudah siang, tangannya banyak menolong hamba-hamba Allah. Pada dirinya berhimpun kebaikan, keimanan, ketakwaan, kedermawanan, kezuhudan, kecerdasan, keberanian, dan tulusnya kasih sayang.

Ya… ya… ya… lima tahun sudah waktu berlari. Banyak yang sudah kita lalui, dan insya Allah masih banyak yang akan kita jalani. Ada yang pasti, dan ada yang harus engkau usahakan. Bapak ibumu akan semakin tua, adalah kepastian. Tetapi tentang nasib kita kelak di Yaumil-Qiyamah, ada yang harus kita persiapkan. Ada banyak pintu yang bisa engkau masuki dengan karunia yang diberikan Allah kepadamu. Atas kecerdasan dan kesempatan yang engkau miliki – di saat jutaan anak lainnya hanya bermimpi menghidupkan akalnya – gunakanlah untuk menolong agama ini. Sebab Allah tak akan memberikannya kepadamu kecuali bahwa ada kebaikan yang bisa engkau kerjakan.

Atas jiwamu yang hidup dan merdeka, sucikanlah! Sesungguhnya setiap saat ada bisikan-bisikan yang mengajak kepada fujur (penyimpangan) dan takwa. Dan berbahagialah engkau jika senantiasa engkau sucikan jiwamu. Sebab Allah sendiri telah berfirman, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. “ (Q.s. asy-Syams [91]: 8-10)

Sumber : Saat Berharga Untuk Anak Kita karya Mohammad Fauzil Adhim

Sekolah Tepat Untuk Buah Hati

TK B Cat SAI Meruyung :  “Berkebun Yuuk!”

Tergelitik saat ada diskusi tentang sekolah yang bagus bagi anak usia 3-6 tahun di grup Facebook UmmI’s Corner. Berhubung jawabanku panjang jadi sekalian diposting aja (2-3 pulau terlampaui ^^)

Aku mau sedikit share ilmu dan pengalaman ya…
Bebelumnya,Pada anak usia prasekolah (3-6tahun) ada 4 kapasitas yang bisa kita jadikan indikator perkembangan anak yakni akhlak, fisik, bahasa, logika berpikir. yang 3 terakhir bisa jadi relatif sesuai karunia yang Alloh berikan tapi yang pertama dan utama yakni akhlak sebisa mungkin konsisten dan tegas.

menurutku sekolah yang tepat untuk anak usia 3-6tahun itu
1. Mengenalkan konsep keimanan, keislaman dan membiasakan akhlak Islami. dalam teori tabula rasa dan sebagaimana fitrah anak yang seperti kertas putih, tentu kita ingin memberikan celupan yang terbaik kan bunda? Nah, akhlak Islami ini bukan hanya tuntutan bagi anak tapi juga sudah menjadi bagian dari kehidupannya alias butuh keteladanan yang konsisten dari keluarga, sekolah maupun lingkungan sekitarnya seperti cinta dengan Al-Qur’an, adab makan, berbagi, cinta lingkungan, berkata yang baik, menghargai orang lain dsb. pun tidak perlu terlalu khawatir jika di sekolah terjadi konflik (selama sekolah peduli dan mencari solusi) karena hal ini justru mengajarkan anak tentang realitas kehidupan dan insya Alloh menjadikan anak imun, bukan steril.

2. Memfasilitasi anak untuk banyak mengeksplor, baik dirinya sendiri
maupun lingkungannya dengan menstimulus panca inderanya, dengan begini kita jadi cepat tahu tipe belajar anak : audio, visual, kinestetik juga minat dan bakat anak jadi tidak hanya fokus pada aspek kognitif saja. di samping itu juga mengajarkan anak cara mengenal dan mengungkapkan perasaan & emosinya sendiri (emosi dasar: senang, sedih, takut, marah) sehingga anak mempunyai kesadaran diri dan lingkungan. jadi tak perlu khawatir jika anak berkotor-kotor ria atau terkesan bermain melulu selama ada hikmah yang bisa anak petik dari berbagai aktivitasnya.

3. Menumbuhkan “kebutuhan belajar” pada anak. belajar kan nggak hanya diukur dengan calistung saja tho? jika anak distimulus untuk berpikir (dengan pertanyaan2) insya Alloh ia akan menjadi manusia yang haus ilmu dan selalu ingin belajar, pun dengan bermain banyak yang bisa anak pelajari misalnya dengan permainan tradisional, anak belajar bersosialisasi, bekerja sama, mengelola emosi (menang/kalah), kejujuran dsb. guru berperan sebagai fasilitator yang menanamkan nilai2 pada setiap aktivitas anak, bukan sekedar mengejar target kognitif untuk jenjang pendidikan berikutnya atau terburu-buru menjejalinya dengan segudang ilmu. percayalah bunda, jika anak tidak mendapat haknya untuk bermain sekarang maka saat dewasa dan harus bertanggung jawab, ia tidak akan siap dan malah menuntut haknya. intinya sekolah ini kaya akan metode pembelajaran dan punya paradigma baik dalam pendidikan.

4. Mengajarkan life skill dan menumbuhkan kemandirian. dalam rentang usia ini, 4 kebutuhan anak yang sebaiknya sudah tuntas adalah eating (mampu makan sendiri, menghabiskan makanan dalam periode tertentu dan fokus serta memperhatikan adab makan), sleeping (tidur cukup http://www.idai.or.id/kesehatananak/artikel.asp?q=2009417114815), toileting (mengenali tanda2 ingin buang air dan menyampaikannya, bersih diri hingga bersih lingkungan), dressing (dari rambut sampai kaki dapat dilakukan sendiri). pun tentang life skill yang sesuai dengan tahap perkembangan anak misalnya membersihkan sisa makanan dan mencuci piring setelah makan. ini mengajarkan anak tanggung jawab, kemandirian, kepercayaan diri, kebersihan, menghargai upaya orang lain pun menghargai makanan. tentunya semua itu dilakukan secara bertahap dan membutuhkan proses sehingga yang perlu kita lakukan adalah pembiasaan dan keteladanan pun perhatikan juga unsur fun-nya sehingga anak senang melakukannya dan lambat laun akan menjadi kebiasaan baik.

5. Mempunyai mekanisme komunikasi yang harmonis dengan ortu. anak kita bukan mobil yang dimasukkan ke bengkel dan bisa kita tinggal sambil makan bakso lalu keluar bengkel sudah terima jadi. sekolah yang peduli dengan kebutuhan anak didiknya tentu akan banyak melibatkan peran ortu dan sering melakukan komunikasi 2 arah untuk menyerasikan apa yang didapat dari rumah dan sekolah, bahkan kalau perlu melibatkan ortu dalam proses KBM.

Kalau sudah begini, tidak perlu kaget kalau prestasi akademis dan non akademis anak melonjak di masa sekolahnya plus berakhlak mulia, karena hak-haknya telah tertunaikan dengan baik dan ia sudah siap untuk menyerap ilmu Alloh yang terbentang di alam semesta ini. percayalah bunda, anak-anak itu lebih cerdas dan lebih peka dari yang kita duga…