Izinkan Bapak Mencoba (Catatan Sederhana Buat Ananda)

siluet ayah

Sudah lima tahun, Nak.
Lima tahun yang lalu, Bapak ingat, ibumu melahirkanmu dengan rasa sayang yang amat besar kepadamu. Sempat khawatir waktu itu ketika engkau tidak bisa menangis. Bapak memelukmu, dan ibumu menatap dengan pandangan yang teduh. Ada airmata yang meleleh di pelupuk Bapak karena rasa haru, bahagia dan sekaligus merasa khawatir tak bisa memenuhi tanggung-jawab yang diberikan Allah dengan sebaik-baiknya.

Ketika malam itu engkau menangis untuk pertama kali, setelah beberapa jam Bapak dan ibu menanti, rasanya tak bisa kuungkapkan kepadamu, Nak. Bahagia sekali. Aku lihat raut wajah ibumu berubah kerna rasa bahagia yang tak terungkapkan lewat kata. Engkau tahu, Nak. Puncak kesedihan adalah tangis, dan puncak kebahagiaan juga tangis.

Begitu bahagia perasaan ibumu, sampai-sampai seakan tak pernah ada rasa sakit yang ia rasakan. Padahal baru delapan jam yang lalu ia melahirkanmu, Nak. Ketika malam itu engkau menangis keras-keras sekuat tenaga, ibumu dengan bersemangat belajar menyusuimu. Padahal malam telah benar-benar amat larut, dan manusia sedang lelap-lelapnya tertidur.

Engkau tahu, Nak. Semua keletihan itu tak terasa karena engkau sangat berarti. Semua kepenatan itu tak terhiraukan karena ada rasa bahagia yang amat dalam, sembari diam-diam Bapak berdo’a agar kelahiranmu menjadi kebaikan bagi agama ini. Bagi ummat ini. Itu sebabnya, kami namakan engkau Fathimatuz Zahra -sebagaimana Rasulullah Saw. menamai putrinya-meski kebaikan bapakmu sama sekali tak sebanding dengan beliau.

Sudah lima tahun, Nak.
Sudah cukup bagimu untuk merasakan bagaimana Bapak mendidikmu. Mungkin banyak luka yang membekas di hatimu karena Bapakmu ini, tak selalu mampu mendidikmu dengan kelembutan. Mungkin banyak coretan-coretan buram karena Bapak ini, ternyata tak bisa mengusapmu selembut Rasulullah Saw menyayangi putrinya, Fathimatuz Zahra. Bukan karena Bapak tak cinta kepadamu, Sayang. Tetapi karena jiwa Bapakmu yang masih lemah.

Sudah lima tahun, Nak.
Ingin Bapak menyayangimu sebagaimana Rasulullah menyayangi putri-putrinya. Tetapi hati yang masih keruh, tujuan hidup yang belum bersih, membuat ajakanmu untuk bercanda kadang justru Bapak sikapi dengan kalut. Teriakan kerasmu yang engkau pekikkan dengan penuh semangat, kadang masih saja Bapak hadapi dengan gusar. Padahal itu menunjukkan jiwamu benar-benar hidup.

Sikap yang tidak pada tempatnya ini, bukan karena Bapak tidak menyayangimu, Nak. Bukan. Rasa sayang itu amat besar. Kalau engkau sakit, Bapak merasa kehilangan sekali. Tetapi kegusaran itu ada, semata karena hati yang belum jernih. Ada sedikit pekerjaan yang harus Bapak selesaikan, di saat engkau dan adik-adikmu membutuhkan Bapak untuk bermain bersama. Seperti kata penyair Charles Bukowski, “Bukan masalah besar yang mengirim kita ke rumah gila, bukan hilangnya kekasih, melainkan hanya putusnya tali sepatu di saat kita mesti bergegas.”

Bukan hilangnya rasa cinta yang membuat Bapak kadang marah kepadamu, tetapi karena terburu oleh perkara kecil. Tapi seperti sebutir debu yang masuk ke mata, perkara yang kecil itu kadang membuat Bapak tidak melihat dengan jernih. Ada yang terganggu saat memandang, dan baru terasa ketika telah berlalu. Seperti raut tegang di wajah Bapakmu, sebenarnya tidak perlu ada. Bukankah tanpa itu kita bisa bermain-main riang? Kita juga bisa bercanda. Sesudah itu engkau bermain-main sendiri, atau mengajak adikmu. Sedangkan Bapak bisa meneruskan pekerjaan dengan hati tenang.

Teringat Bapak pada Ummu Fadhl. Suatu saat ia menggendong putranya dan membawa ke hadapan Nabi Saw. Anak yang masih bayi ini kemudian digendong Nabi, lalu pipis di dada beliau. Ummu Fadhl segera merenggutnya dengan kasar. Ia gusar karena anaknya pipis di dada Nabi Saw. Tetapi Nabi justru menegurnya. Kata Nabi, “Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa yang dapat membersihkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?”

Itu sebabnya, Nak Bapak kadang menangis sendirian di saat engkau telah tertidur. Bapak ingin tak pernah ada raut muka yang tegang, suara yang memekik keras, dan mata memerah yang menatap tajam. Bapak ingin senantiasa menatapmu dengan teduh, menyambutmu dengan canda, mendekapmu dengan hangat, dan membisikkan kepadamu kalimat yang bisa engkau pegangi untuk hidup di hari kemudian. Seperti saat engkau masih bayi, Bapakingin membisikkan di telingamu bahwa tidak ada yang layak engkau sembah kecuali Allah. Dan bahwa hidupmu harus memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.

Dan itu semua, Nak… nilainya tak bisa diukur dengan benda. Uang memang tidak mengalir setiap hari. Benda-benda juga tak datang sendiri. Tetapi rusaknya benda berharga karena engkau jadikan alat untuk belajar, tak ada nilainya apa-apa dibanding ilmu yang engkau dapat dan pengalaman yang menghidupkan jiwamu.

Tetapi, Nak…
Izinkan bapak mencoba sekali lagi. Betapa pun inginnya Bapak mendidikmu sebaik Luqmanul Hakim mendidik putranya, tetap saja ada yang kurang. Selalu saja di setiap penghujung malam, Bapak melihat langkah-langkah keliru. Ingin bersikap tegas kepadamu agar engkau teguh dalam berprinsip, tetapi yang muncul kadang justru sikap keras. Ingin bersikap lembut kepadamu agar engkau bisa menjadi penolong agama Allah, tetapi yang muncul kadang justru sikap lemah.

Ah…, sudah lima tahun usiamu, Nak.
Sudah cukup banyak yang engkau saksikan dari Bapak ibumu. Kelak engkau bisa belajar, mana yang baik dan mana yang buruk dari perilaku Bapak ibumu. Yang baik, ambillah. Do’akan semoga Allah jadikan sebagai amalan yang disukai-Nya, sehingga Ia berkenan memanggil kita ke surga-Nya sebagaimana Allah Ta’ala berkata, “Wahai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” Dan atas keburukan yang engkau dapati, ingatkanlah Bapak ibumu ini dengan perkataan qaulan karima. Maafkanlah kesalahan-kesalahan itu, ikhlaskanlah kekurangan-kekurangan itu, dan mohonkanlah kepada Allah agar memberi ampunan yang sempurna.

Selebihnya, belajarlah untuk menghormati ibumu. Cintailah ia dengan penghormatan yang tinggi dan perhatian yang tulus. Sesungguhnya, surgamu ada di telapak kakinya. Kalau sekali waktu ibumu tampak membelalak atau wajahnya sedikit cemberut, ketahuilah Nak tentang penat yang ia rasakan karena harus menyayangimu -dan juga adik-adikmu-tanpa batas waktu. Kalau hari ini engkau bisa berlari-lari gembira, itu karena ibumu mengikhlaskan keletihannya untuk mencurahkan kasih-sayang kepadamu saat tulang-tulangmu belum kuat. Kekuatan ibumulah yang engkau hisap saat kakimu belum mampu berdiri tegak, sehingga sekarang teriakanmu bisa lantang.

Sungguh, Nak. Besarnya kasih-sayang seorang ibu tak akan mungkin sanggup digantikan oleh seorang Bapak yang sangat mencintai anak-anaknya. Seperti kata-kata orang bijak, “Satu malam yang dijalankan oleh seorang ibu dalam mengurusi anaknya, bernilai lebih besar daripada bertahun-tahun kehidupan seorang ayah yang setia. Kelembutan dan kasih-sayang yang terkandung dalam mata berbinar seorang ibu adalah kilatan kasih dan sayang Tuhan Sekalian Alam.”

Sudah lima tahun, Nak. Tak terasa.
Begitu banyak yang terjadi dalam waktu yang amat panjang itu, tetapi amat sedikit yang bapak ingat. Seakan hidup ini tak kita pertanggung-jawabkan.

Rasanya baru kemarin engkau lahir. Bapak tak tahu harus tertawa atau menangis ketika ingat teriakanmu yang sangat lantang, lalu Bapak berkata mantap, “Teriakannya membangunkan jiwa yang tertidur. Semoga Allah jadikan ia sebagai kebaikan bagi agama ini.”

Hari ini, kata-kata itu masih menjadi cita-cita di hati Bapakmu.

Ah, sudah lima tahun, Nak.
Ada yang sering Bapak ingat tentang Fatimatuz Zahra putri Nabi Saw. Darinya kuambil namamu. Pernah ada yang bertanya, kenapa kuambil nama putri Nabi untuk namamu? Karena, tak banyak perempuan seperti dia. Dan Bapak ingin engkau bisa bercermin pada kemuliaannya.

Dialah, Nak seorang yang dipenuhi dengan kebaikan. Kalau malam sudah hampir berakhir, ia banyak menangis kepada Tuhan. Ia banyak berdoa untuk orang lain. Doa untuk tetangganya, ia panjatkan lebih dulu daripada doa untuk dirinya sendiri. Sementara ketika hari sudah siang, tangannya banyak menolong hamba-hamba Allah. Pada dirinya berhimpun kebaikan, keimanan, ketakwaan, kedermawanan, kezuhudan, kecerdasan, keberanian, dan tulusnya kasih sayang.

Ya… ya… ya… lima tahun sudah waktu berlari. Banyak yang sudah kita lalui, dan insya Allah masih banyak yang akan kita jalani. Ada yang pasti, dan ada yang harus engkau usahakan. Bapak ibumu akan semakin tua, adalah kepastian. Tetapi tentang nasib kita kelak di Yaumil-Qiyamah, ada yang harus kita persiapkan. Ada banyak pintu yang bisa engkau masuki dengan karunia yang diberikan Allah kepadamu. Atas kecerdasan dan kesempatan yang engkau miliki – di saat jutaan anak lainnya hanya bermimpi menghidupkan akalnya – gunakanlah untuk menolong agama ini. Sebab Allah tak akan memberikannya kepadamu kecuali bahwa ada kebaikan yang bisa engkau kerjakan.

Atas jiwamu yang hidup dan merdeka, sucikanlah! Sesungguhnya setiap saat ada bisikan-bisikan yang mengajak kepada fujur (penyimpangan) dan takwa. Dan berbahagialah engkau jika senantiasa engkau sucikan jiwamu. Sebab Allah sendiri telah berfirman, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. “ (Q.s. asy-Syams [91]: 8-10)

Sumber : Saat Berharga Untuk Anak Kita karya Mohammad Fauzil Adhim

Sekolah Tepat Untuk Buah Hati

TK B Cat SAI Meruyung :  “Berkebun Yuuk!”

Tergelitik saat ada diskusi tentang sekolah yang bagus bagi anak usia 3-6 tahun di grup Facebook UmmI’s Corner. Berhubung jawabanku panjang jadi sekalian diposting aja (2-3 pulau terlampaui ^^)

Aku mau sedikit share ilmu dan pengalaman ya…
Bebelumnya,Pada anak usia prasekolah (3-6tahun) ada 4 kapasitas yang bisa kita jadikan indikator perkembangan anak yakni akhlak, fisik, bahasa, logika berpikir. yang 3 terakhir bisa jadi relatif sesuai karunia yang Alloh berikan tapi yang pertama dan utama yakni akhlak sebisa mungkin konsisten dan tegas.

menurutku sekolah yang tepat untuk anak usia 3-6tahun itu
1. Mengenalkan konsep keimanan, keislaman dan membiasakan akhlak Islami. dalam teori tabula rasa dan sebagaimana fitrah anak yang seperti kertas putih, tentu kita ingin memberikan celupan yang terbaik kan bunda? Nah, akhlak Islami ini bukan hanya tuntutan bagi anak tapi juga sudah menjadi bagian dari kehidupannya alias butuh keteladanan yang konsisten dari keluarga, sekolah maupun lingkungan sekitarnya seperti cinta dengan Al-Qur’an, adab makan, berbagi, cinta lingkungan, berkata yang baik, menghargai orang lain dsb. pun tidak perlu terlalu khawatir jika di sekolah terjadi konflik (selama sekolah peduli dan mencari solusi) karena hal ini justru mengajarkan anak tentang realitas kehidupan dan insya Alloh menjadikan anak imun, bukan steril.

2. Memfasilitasi anak untuk banyak mengeksplor, baik dirinya sendiri
maupun lingkungannya dengan menstimulus panca inderanya, dengan begini kita jadi cepat tahu tipe belajar anak : audio, visual, kinestetik juga minat dan bakat anak jadi tidak hanya fokus pada aspek kognitif saja. di samping itu juga mengajarkan anak cara mengenal dan mengungkapkan perasaan & emosinya sendiri (emosi dasar: senang, sedih, takut, marah) sehingga anak mempunyai kesadaran diri dan lingkungan. jadi tak perlu khawatir jika anak berkotor-kotor ria atau terkesan bermain melulu selama ada hikmah yang bisa anak petik dari berbagai aktivitasnya.

3. Menumbuhkan “kebutuhan belajar” pada anak. belajar kan nggak hanya diukur dengan calistung saja tho? jika anak distimulus untuk berpikir (dengan pertanyaan2) insya Alloh ia akan menjadi manusia yang haus ilmu dan selalu ingin belajar, pun dengan bermain banyak yang bisa anak pelajari misalnya dengan permainan tradisional, anak belajar bersosialisasi, bekerja sama, mengelola emosi (menang/kalah), kejujuran dsb. guru berperan sebagai fasilitator yang menanamkan nilai2 pada setiap aktivitas anak, bukan sekedar mengejar target kognitif untuk jenjang pendidikan berikutnya atau terburu-buru menjejalinya dengan segudang ilmu. percayalah bunda, jika anak tidak mendapat haknya untuk bermain sekarang maka saat dewasa dan harus bertanggung jawab, ia tidak akan siap dan malah menuntut haknya. intinya sekolah ini kaya akan metode pembelajaran dan punya paradigma baik dalam pendidikan.

4. Mengajarkan life skill dan menumbuhkan kemandirian. dalam rentang usia ini, 4 kebutuhan anak yang sebaiknya sudah tuntas adalah eating (mampu makan sendiri, menghabiskan makanan dalam periode tertentu dan fokus serta memperhatikan adab makan), sleeping (tidur cukup http://www.idai.or.id/kesehatananak/artikel.asp?q=2009417114815), toileting (mengenali tanda2 ingin buang air dan menyampaikannya, bersih diri hingga bersih lingkungan), dressing (dari rambut sampai kaki dapat dilakukan sendiri). pun tentang life skill yang sesuai dengan tahap perkembangan anak misalnya membersihkan sisa makanan dan mencuci piring setelah makan. ini mengajarkan anak tanggung jawab, kemandirian, kepercayaan diri, kebersihan, menghargai upaya orang lain pun menghargai makanan. tentunya semua itu dilakukan secara bertahap dan membutuhkan proses sehingga yang perlu kita lakukan adalah pembiasaan dan keteladanan pun perhatikan juga unsur fun-nya sehingga anak senang melakukannya dan lambat laun akan menjadi kebiasaan baik.

5. Mempunyai mekanisme komunikasi yang harmonis dengan ortu. anak kita bukan mobil yang dimasukkan ke bengkel dan bisa kita tinggal sambil makan bakso lalu keluar bengkel sudah terima jadi. sekolah yang peduli dengan kebutuhan anak didiknya tentu akan banyak melibatkan peran ortu dan sering melakukan komunikasi 2 arah untuk menyerasikan apa yang didapat dari rumah dan sekolah, bahkan kalau perlu melibatkan ortu dalam proses KBM.

Kalau sudah begini, tidak perlu kaget kalau prestasi akademis dan non akademis anak melonjak di masa sekolahnya plus berakhlak mulia, karena hak-haknya telah tertunaikan dengan baik dan ia sudah siap untuk menyerap ilmu Alloh yang terbentang di alam semesta ini. percayalah bunda, anak-anak itu lebih cerdas dan lebih peka dari yang kita duga…

Oishii! =3

Oishii (Bahasa Jepang) = enak

Ngubek-ngubek file-file lama nemuin koleksi foto kuliner jaman dulu (jeile berasa lama amat gitu 😀 ), jadi termotivasi untuk membuat kreasi masakan lagi nih! (secara abis ngajar penginnya langsung bobo –“) sumangaika! (semangat karena Alloh logat minang :p)

This slideshow requires JavaScript.

aseli ya, ngeliat mode slide show itu amazed banget dirikuw! >_<

jadi makin semangat posting foto-foto!

“tuhan” 9 cm

 

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

(Taufik Ismail)

Jika bukan karena video di atas, pun puisi di atas, tolonglah, karena Ia saja.

Untukmu yang Mengharamkan Kata “Jangan”: Adakah Engkau Telah Melupakan Kitabmu?

“Al-Qur’an itu kuno,  Bu, konservatif, out of dated!. Kita telah lama hidup dalam nuansa humanis, tetapi Al-Qur’an masih menggunakan pemaksaan atas aturan tertentu yang diinginkan Tuhan dengan rupa perintah dan larangan di saat riset membuktikan kalau pemberian motivasi dan pilihan itu lebih baik. Al-Qur’an masih memakai ratusan kata ‘jangan’ di saat para psikolog dan pakar parenting telah lama meninggalkannya. Apakah Tuhan tidak paham kalau penggunaan negasi yang kasar itu dapat memicu agresifitas anak-anak, perasaan divonis, dan tertutupnya jalur dialog?“ Katanya sambil duduk di atas sofa dan kakinya diangkat ke atas meja.

Pernahkan Bapak dan Ibu sekalian membayangkan kalau pernyataan dan sikap itu terjadi pada anak kita, suatu saat nanti?

Itu mungkin saja terjadi jika kita terus menerus mendidiknya dengan pola didikan Barat yang tidak memberi batasan tegas soal aturan dan hukum. Mungkin saja anak kita menjadi demikian hanya gara-gara sejak dini ia tidak pernah dilarang atau mengenal negasi ‘jangan’.

Saat ini, sejak bergesernya teori psikoanalisa (Freud dan kawan-kawan) kemudian disusul behaviorisme (Pavlov dan kawan-kawan), isu humanism dalam mendidik anak terus disuarakan. Mereka membuang kata “Jangan” dalam proses mendidik anak-anak kita dengan alasan itu melukai rasa kemanusiaan, menjatuhkan harga diri anak pada posisi bersalah, dan menutup pintu dialog. Ini tidak menjadi masalah karena norma apapun menghargai nilai humanisme.

Tidak perlu ditutupi bahwa parenting telah menjadi barang dagangan yang laris dijual. Ada begitu banyak lembaga psikologi terapan, dari yang professional sampai yang amatiran dengan trainer yang baru lulus pelatihan kemarin sore. Promosi begitu gencar, rayuan begitu indah dan penampilan mereka begitu memukau. Mereka selalu menyarankan, salah satunya agar kita membuang kata “jangan” ketika berinteraksi dengan anak-anak. Para orang tua muda terkagum-kagum member applausa. Sebagian tampak berjilbab, bahkan jilbab besar. Sampai di sini [mungkin] juga sepertinya tidak ada yang salah.

Tetapi pertanyaan besar layak dilontarkan kepada para pendidik muslim, apalagi mereka yang terlibat dalam dakwah dan perjuangan syariat Islam. Pertanyaan itu adalah “Adakah Engkau telah melupakan Kitabmu yang di dalamnya berisi aturan-aturan tegas? Adakah engkau lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan”?

Salah satu contoh terbaik adalah catatan Kitabullah tentang Luqman Al-Hakim, Surah Luqman ayat 12 sampai 19. Kisah ini dibuka dengan penekanan Allah bahwa Luqman itu orang yang Dia beri hikmah, orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah..” dst)

Apa bunyi ayat yang kemudian muncul? Ayat 13 lebih tegas menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya “Wahai anakku, JANGANLAH  engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.

Sampai pada ayat 19, ada 4 kata “laa” (jangan) yang dilontarkan oleh Luqman kepada  anaknya, yaitu “laa tusyrik billah”, “fa laa tuthi’humaa”, “Wa laa tusha’ir khaddaka linnaasi”, dan “wa laa tamsyi fil ardli maraha”

Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”. Pun demikian   dengan “Laa” yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.

Adakah pribadi psikolog atau pakar patenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman?  Tidak ada. Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.

Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang, tetapi karena lebih memilih berdamai. Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya. Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut dosa, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.

Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiyatan bertebaran karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”. Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.

Itulah sebenar-benar paham liberal, yang ‘humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan.

Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal. Simpan saja Al-Qur’an di lemari paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.

Sumber:

Madani

Setelah menegamati beberapa forum yang membahas persoalan ini dan diikuti pula oleh sang penulis, disimpulkan bahwa penggunaan kata “mengharamkan” dalam konteks judul di atas memang berlebihan karena maksud sebenarnya dari pelarangan penggunaan kata “jangan” adalah proporsi yang pas (tidak terlalu sering) untuk digunakan orang tua terhadap anak agar anak tidak menjadi pribadi yang peragu atau penakut untuk belajar.

Akan tetapi hemat saya, proporsi ini baiknya jangan sampai memenangkan semua kehendak atau perilaku anak dengan dalih kreativitas atau “supaya anak belajar dari kesalahan” karena mereka sedang dalam masa mempelajari nilai dan norma, mana yang benar dan salah. Maka, dalam hal ini orang tua sebaiknya tidak menjadikan sesuatu yang sudah jelas dasarnya dalam al-Qur’an dan hadits menjadi abu-abu karena ini akan berpengaruh dalam kehidupannya hingga dewasa.

Selain itu, jangan terburu-buru men-judge segala sesuatu yang berasal dari Barat itu “kafir” karena segala ilmu yang ada kebenaran di dalamnya ialah Islam. Hanya saja, jika boleh memilih, gunakanlah sistem yang sudah komperhensif dalam mengatur segala soalan dari mikro hingga makro yang tak perlu lagi tambahan atau pembenaran, ialah dinul Islam.