​Selezat Opor

Setelah ijab qabul terucap, maka resmilah saya menjadi bagian dari Bani Hasyim. Menjadi salah satu dari anak Sidtu dan Sidi. Ya, saya tidak pernah dianggap sebagai menantu mereka, akan tetapi anak. What an exciting! Ini menyentuh sekali di saat banyak isu negatif seputar keharmonisan antara menantu dan mertua. Begitu pun dengan ipar-ipar saya. Saya yang anak semata jengkol, kata suami, langsung dapat enam orang adik (sekarang delapan) yang ulala uyee, ipar rasa saudara 😋. Eh tapi bukan itu deng yang mau saya ceritain 😁.

Banyak pelajaran berharga yang saya dapat dari sosok Sidtu dan Siddi. Sebagai orangtua, saudara, pendidik, juga anggota masyarakat. Selalu ada cerita menarik jika saya meluangkan diri berbincang dengan mereka. Salah satunya saya saksikan sendiri sebagai anak mereka.
Selama bertahun-tahun, Sidtu dan Sidi bertetanggaan dengan sebuah keluarga Nasrani. Rumah mereka berseberangan persis.  Kami biasa menyapa mereka dengan panggilan Mamak Joshua dan Bapak Joshua (Joshua nama anak pertama mereka. Bukan nama sebenarnya). Sidtu dan Sidi benar-benar menunaikan hak sebagai tetangga. Kadang jika Sidi memasak lebih (Sidi adalah koki di rumah. Masakannya suka bikin nagih 😋), Sidtu akan mengirimkannya ke rumah Mamak Joshua. Begitu pun jika hari Natal, Mamak suka mengirimkan opor ayam ke rumah. Jangan ditanya bagaimana kedekatan Joshua dan adik-adiknya, Kevin dan Agnes, dengan keluarga kami. Agnes yang saat itu masih balita, senang sekali bermain di rumah. Ia dekat dengan adik-adik kami. Tak jarang juga Agnes tidur di rumah. Bahkan, saat Agnes sakit, pernah dirawat di rumah kami karena Mamak harus berangkat kerja ke pasar. Agnes pun sering diajak ke Jakarta saat lebaran. Lain waktu, jika antara Mamak dan Bapak sedang ada masalah, Agnes yang tengah menangis diungsikan ke rumah. Sidtu juga kerap menjadi tempat mencurahkan perasaan Mamak soal rumah tangga. Hingga saat pernikahan saya pun, mereka turut menghadiri akad nikah kami di masjid.
Lantas, apakah perbedaan keyakinan ini mengganggu hubungan kami? Tentu tidak. Kami yakin bahwa keragaman (pluralitas) adalah keniscayaan. Entitas yang harus diakui keberadaannya. Lalu bagaimana tentang menjaga keharmonisan? Toleransi? Coba tengok sejarah bagaimana Rasulullah Muhammad saw dalam menebarkan risalahNya. Sekali pun sudah membebaskan suatu wilayah, beliau juga sahabat dan para pemimpin setelahnya mengizinkan keyakinan beragama penduduk setempat tetap demikian seperti yang dialami penduduk Kristen Koptik saat pembebasan Mesir oleh Amr bin Ash. Piagam Madinah pun menjadi bukti bahwa perjanjian dalam Islam sungguh memuliakan kemanusiaan.
Alangkah menyejukkan kaidah bertoleransi yang sudah diwariskan belasan abad silam, “bagiku agamaku dan bagimu agamamu” (al-kafirun: 6), “tak ada paksaan untuk berislam” (al baqarah: 256), “jangan memaki sesembahan mereka selain Allah” (al-an’am:108), “berkata yang baik atau diam” (HR Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47). Ini mencerahkan pandangan kita akan keragaman sekaligus merawat fitrah nurani dan akal kita sebagai manusia.
Setiap agama punya nilai fundamental yang diyakini kebenarannya oleh penganutnya meski berbeda antara satu agama dengan yang lain. Kita perlu berbijak diri untuk menghargai perbedaan ini. Bertoleransi. Mengatakan bahwa semua agama sama (pluralisme) padahal sejatinya berbeda adalah tindakan mencederai keyakinan juga toleransi itu sendiri. Apalagi jika sampai mengolok agama lain (yang kita tak ada ilmu atas hal tersebut) di ranah publik. Sebaliknya, menyebut saudara-saudara kita yang berusaha menjaga keyakinannya dengan sebutan “kurang piknik, nyinyir, intoleran, dsb” juga adalah sikap yang ah, ayolah kita bisa kok memahami sudut pandang mereka secara positif. Kita perlu lebih sering berkaca dari sejarah agar kearifan yang sudah dibangun berabad lalu tak luntur  oleh kedamaian semu atas nama toleransi yang tidak pada tempatnya.
Dengan begitu akan kita insyafi bahwa dalam bertoleransi, meskipun kebaikan bersifat universal, ada tataran yang tak boleh kita masuki terlalu jauh. Cukuplah momen natal dan lebaran menjadi bukti bahwa opor ayam sama lezatnya saat disantap bersama Joshua, Kevin, dan Agnes 😊.

Advertisements

​Setulus Cinta

Andai aku t’lah dewasa

Ingin aku persembahkan

Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu

Kau s’lalu kucinta
Sebait lagu dari seorang penyanyi cilik tempo dulu yang umumnya kan membuat hati berderai, melayangkan kenangan ke masa terindah bersama mereka yang tercinta, orangtua. Namun, ada sebagian kita yang justru bagai membuka kotak pandora saat mengeja kata itu. Yang lain bisa jadi hanya menemukan ruangan kosong di hatinya. Datar, hampa.
Bagi saya sendiri, relasi antara orangtua dan anak bukanlah perkara yang sederhana. Ada kasih dan sedih. Ada harap dan tanggung jawab. Ada rindu dan takut. Ada hormat dan iba. Ada marah, kecewa, sesal, cinta. Berbaur saling tindih, berkontradiksi dalam waktu yang bersamaan.
Di samping, ada juga keberanian. Ada keikhlasan. Ada kewarasan. Keyakinan.
Keberanian tuk mengingatkan alfanya.

Keikhlasan tuk memaafkan dan menerima segala keterbatasannya sebagai manusia.

Kewarasan tuk memutus rantai pengasuhan yang salah.

Keyakinan bahwa takdirNya tak pernah menzalimi kita.
Semakin ke sini kian kusyukuri ke-islama-anku yang t’lah menanamkan akhlak kepada orangtua. Bagaimana pun pedihnya rasa yang dihadirkan mereka kepada kita. Betapa pun abainya tanggung jawab mereka atas kita. Wajib kita berbuat baik kepada mereka. Bahkan, ketika keyakinan kita dan mereka berlainan tentang Tuhan. Beda dengan humanisme yang melandaskannya pada timbal balik kebaikan semata. Jika pada orangtua tak ada kasih dan tanggung jawab, lantas bagaimana laku kita kepada mereka?
Amat menyentuh doa yang Allah sendiri ajarkan kepada hambaNya dalam Al Qur’an surat Al israa’: 24 yang artinya, 

“Ya Rabb, ampuni aku dan kedua orangtuaku. Kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku, mendidikku di waktu aku masih kecil.” 
Kita dituntun memohon ampun bagi diri sendiri yang begitu lemah dan lalai menjalani berbagai peran dalam hidup. Kita pun diajarkan tuk memohonkan maaf bagi orangtua kita yang ada kalanya alfa, seraya memohon kasih sayangNya kepada mereka. Saat kecil adalah di mana kasih sayang orangtua paling membuncah pada sang buah hati. Saat di mana segalanya demi sang buah hati. Maka sungguh-sungguh indah Allah mengajarkan kita tuk meminta cinta yang paling, bagi mereka yang menjadi sebab adanya kita di dunia.
“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Lihat Al Quran surat Al Furqan: 74.
Sebagai orangtua, tidakkah wajah ananda yang tengah terlelap membuat kita bercermin dan bertanya, bagaimanakah kita mengisi kantung cinta ananda semasa kanak mereka? Apakah dengan ketulusan perhatian dan penerimaan ataukah dengan duka dan luka? Apakah kita t’lah lebih dulu “mencontohkan” durhaka, yang menjadi cetak biru bagi mereka tuk memperlakukan kita kelak? Hingga menjadi pinta mereka kepadaNya agar kita mendapatkan balasan yang sama sebagaimana adab kita kepada mereka di waktu kecil. Pinta yang lahir dari relung terdalam, jauh di bawah lapis kesadaran. Ingat, bahwa ananda tak pernah minta dilahirkan. Tak bisa memilih siapa yang kan menjadi orangtuanya. Lantas, sudahkah kita pantas mengharap mereka menjadi pemimpin peradaban kelak?
Pun sebagai anak, bagaimana selama ini kita mewarnai kehidupan sosok manusia yang kian dimakan usia ini? Apakah dengan tawa bahagia, haru, atau dengan tangis sesal, takut, dan murka mereka? Atau bahkan kesepian yang tak terperi.

Apa yang telah dengan segenap daya kita berikan? Apakah waktu dan perhatian kita yang paling berharga ataukah materi semata (sekali pun jika hanya itu yang mereka berikan kepada kita di waktu kecil) atau jangan-jangan hanya sisa dari itu semua. Yang sudah kita habiskan dengan keluarga kita sendiri, di tempat kerja, lingkungan sekitar, tempat nongkrong, atau bahkan dibandingkan gawai yang selalu menyertai di mana kita. Hingga kita tak pernah tahu apa yang menjadi sebab tangis dalam doa mereka.
Oh… Kutahu kau berharap dalam doamu

Kutahu kau berjaga dalam langkahku

Kutahu s’lalu cinta dalam senyummu

Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku
Ah, ya Rabb, mampukanlah hamba sebagai anak dan orangtua, berbakti kepada yang hamba kasihi semasa hidup mereka dan setelah tiadanya.

Menikah Di Jalan Dakwah

Pernikahan, sungguh bukan hal yang sederhana dan mudah. Sesederhana mendapatkan teman berbagi cerita, mendapatkan orang yang siap menanggung/melayani kita, memberi nafkah, maupun melahirkan anak, atau semudah membangun rumah dan mengisinya dengan berbagai perabot rumah tangga, belanja untuk menunjang kebutuhan hidup, mengatur pemasukan dan pengeluaran keuangan maupun rutinitas harian belaka.

Bukan, bukan itu. Sungguh, jauh lebih dari itu, terutama bagi seorang pejuang dakwah. Ia membawa visi dan misi yang jauh melampaui usianya, zamannya, dunianya. Menikah adalah menggenapkan separuh DiinuLlah, membangun dan melalui sebuah gerbang yang kan mengubah kehidupannya. Ia menikah karena hendak membangun peradaban Islam – menegakkan syahadat di bumi Allah. Ia menikah dengan menyusun satu demi satu pondasi idealisme. Dari “idealisme saya” menjadi “idealisme kita” yang melahirkan sumbangsih bagi dakwah, karya-karya nyata bagi ummat.

Akan tetapi, hei! Alangkah tidak sesederhana mengatakannya. Di saat idealisme melambung tinggi menuju tempat-tempat terjauh yang dapat dijangkau oleh dakwah, tetapi pondasi “idealisme kita” belum kuat, apakah yang akan terjadi? Friksi-friksi itu tak dapat terhindar! Saudaraku, mengertilah, kita tak bisa sembarang menghakimi “Setelah menikah kok fulan/fulanah hilang dari peredaran ya?”, “Kok bisa-bisanya ia meninggalkan amanah yang ada?”, “Dia kok lebih mementingkan urusan pribadi (keluarga)nya sih?” dan cibiran-cibiran serupa lainnya yang naudzubillah secara tidak sadar malah mengecilkan makna ikatan suci pernikahan yang melahirkan sebuah amanah baru yang lebih mendalam perkaranya, yang mungkin pernah kau bayangkan mengenainya namun tak dapat kau jiwai sebelum kau mengalaminya.

Mengertilah saudaraku,bahwa di dalam diri seorang mujahid-mujahidah yang ber’azzam untuk dakwahnya, sesungguhnya bara idealisme itu tak pernah mati atau meredup. Ia hanya sedang bertransformasi dengan wujud yang tak pernah terbayangkan olehmu yang belum mengalaminya. Ia – mereka – sedang mengasah pijakannya agar menjadi batu loncatan yang meledakkan momentum luar biasa menuju perubahan yang adidaya bagi dakwah dengan senantiasa mengharap ridho Allah SWT. Sungguh saudaraku, ada kekhawatiran dalam diri mereka.

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS At-Taubah: 24)

Pun senantiasa mereka camkan,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6)

Mengertilah saudaraku, bahwa jauh di dalam diri mereka, terjadi pergulatan paradigma, ego, emosi, rasa, harapan, realita, prioritas, idealisme, keyakinan, dan semua itu sedang mereka perjuangkan dalam ikhtiar mereka dengan tetap menjunjung dakwah di mana pun, di atas bumi yang sedang mereka pijak. Doa-doa, sujud-sujud panjang mereka untuk seluruh saudara-saudara seperjuangan di manapun, serta keyakinan dan tawakal yang tak habis-habisnya bahwa Allah masih menjaga mereka di dalam barisan-barisan para mujahid yang senantiasa berjuang mengibarkan panji-panji Islam. Bahwa Allah memberkahi pernikahan mereka.

Apakah pernah kau bertanya terhadap dirimu sendiri, “Apa yang bisa saya bantu bagi saudara/saudari saya ini agar ia tetap dapat berkontribusi bagi dakwah di dalam barisan ini?” ataukah kau memilih berpikir, “Saya mengerti, dunianya sekarang memang sudah berbeda, biarkanlah ia menjalani hidup barunya, kita tak perlu mengharap lebih darinya.” atau yang lebih ekstrem, “Ya, dia sekarang sudah berbeda, lebih baik tak perlu lagi dilibatkan.” Apakah kau puas dengan hanya dapat “mengerti” kondisinya sekarang tanpa berusaha merangkulnya kembali?

Apakah kau membayangkan betapa rindu mereka berada di dalam satu barisan dengan orang-orang shalih yang senantiasa mengingatkan mereka akan lezatnya berukhuwah,nikmat saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran serta saling menanggung peluh dan air mata saudara-saudara seperjuangan dalam menyerukan Islam?

Satu hal yang perlu kau ingat, mereka adalah manusia. Ada saatnya mereka merasa tak berdaya untuk menopang diri dari beratnya perjanjian yang hanya tersebut tiga kali dalam Al-Qur’an ini. Terkadang, mereka ingin sekali menangis, mengadu, tetapi kepada siapa? Dan untuk apa? Ini adalah harga dari pilihan yang secara kesatria telah mereka putuskan. Inilah ujian dari Allah yang memang harus mereka jalani saat ini. Mereka sedang bertahan dalam perjanjian kepada Sang Rabb. Mereka tak pernah berniat untuk mengumbar pahit yang sedang mereka rasakan untuk menarik simpati maupun mencari-cari pembenaran untuk membuat posisi mereka nyaman apalagi untuk sekedar membela diri dari cibiran maupun pujian yang beredar di sekeliling mereka karena mereka yakin bahwa mereka harus tetap teguh dalam menghadapinya. Ini adalah bagian yang juga harus mereka lalui untuk dapat naik ke derajat yang lebih mulia. RadhiAllahu ‘anhum wa radhu anh.

“Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah aku lantaran ketidaktahuan mereka”, (Abu Bakar RA)

Maka dari itu saudaraku, jika ada di antara kita, saudara-saudari kita yang telah menggenapkan separuh Diinnya, kuatkanlah mereka dengan berhusnuzhon terhadap mereka, bayangkanlah wajah mereka dalam doa-doa kita, tetaplah menyemangati mereka dalam menghidupkan bara-bara perjuangan menuju kemenangan hakiki di dalam hati mereka. Karena sungguh, amat berharga satu tatapan penuh cinta karenaNya, seulas senyum, maupun sekedar ajakan untuk berkumpul bersama dalam barisan ini kembali meskipun saat itu mereka tengah menunaikan amanah mereka di tempat lain.

Oleh: Nesya Eka Putri, Depok
Facebook

http://www.fimadani.com/menikah-di-jalan-dakwah/

 

Sebenarnya ini bukan tulisan baru saya, melainkan tulisan renungan saat usia pernikahan saya kurang lebih 7 bulan. Alhadmulillah dapat dimuat di Fimadani. Semoga memberikan hikmah bagi banyak orang.

Belajar Melihat Sudut Pandang Berbeda*)

Suatu hari seorang suami pulang kerja
Dan mendapati tiga orang anaknya sedang berada di depan rumah
Semuanya bermain lumpur, dan masih memakai pakaian tidur
Berarti semenjak bangun tidur, mereka belum mandi dan belum berganti pakaian.
Sang suami melangkah menuju rumah lebih jauh..

Ternyata .. kotak-kotak bekas bungkus makanan tersebar di mana-mana
Kertas-kertas bungkus dan plastic bertebaran tidak karuan
Dan … pintu rumah bagian depan dalam keadaan terbuka.

Begitu ia melewati pintu dan memasuki rumah …

masyaAllah … kacau … berantakan …

ada lampu yang pecah
ada sajjadah yang tertempel dengan permen karet di dinding
televisi dalam keadaan on dan dengan volume maksimal
boneka bertebaran di mana-mana
pakaian acak-acakan tidak karuan menyebar ke seluruh penjuru ruangan,

dapur? Ooooh tempat cucian piring penuh dengan piring kotor
sisa makanan pagi masih ada di atas meja makan
pintu kulkas terbuka lebar,

sang suami mencoba melihat lantai atas
ia langkahi boneka-boneka yang berserakan itu
ia injak-injak pula pakaian yang berserakan tersebut
maksudnya adalah hendak mendapatkan istrinya
siapa tahu ada masalah serius dengannya.

pertama sekali ia dikejutkan oleh air yang meluber dari kamar mandi
semua handuk berada di atas lantai dan basah kuyup
sabun telah berubah menjadi buih
tisu kamar mandi sudah tidak karuan rupa, bentuk dan tempatnya
cermin penuh dengan coretan-coretan odol,

dan….

begitu ia melompat ke kamar tidur…

ia dapati istrinya sedang tiduran sambil membaca komik!!!

?????#$%!? 

Melihat kepanikan sang suami, sang istri memandang kepadanya dengan tersenyum.

Dengan penuh keheranan sang suami bertanya: “apa yang terjadi hari ini wahai istriku?!!”.

Sekali lagi sang istri tersenyum seraya berkata:

“Bukankah setiap kali pulang kerja engkau bertanya dengan penuh ketidakpuasan: ‘apa sih yang kamu kerjakan hari ini wahai istriku’, bukankah begitu wahai suamiku tersayang?”

“Betul” jawab sang suami.

“Baik,” kata sang istri,

“hari ini, aku tidak melakukan apa yang biasanya aku lakukan”.

…….
…….
…….

PESAN yang ingin disampaikan adalah:

1. Penting sekali semua orang memahami, betapa orang lain mati-matian dalam menyelesaikan pekerjaannya, dan betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang lain itu agar kehidupan ini tetap berimbang, berimbang antara MENGAMBIL dan MEMBERI, TAKE and GIVE.

2. Dan … agar tidak ada yang mengira bahwa dialah satu-satunya orang yang habis-habisan dalam berkorban, menanggung derita, menghadapi kesulitan dan masalah serta menyelesaikannya.

3. Dan … jangan dikira bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang tampaknya santai, diam, dan enak-enakan … jangan dikira bahwa mereka tidak mempunyai andil apa-apa.

4. Oleh karena itu, HARGAILAH JERIH PAYAH DAN KIPRAH ORANG LAIN dan JANGAN MELIHAT DARI SUDUT PANDANG YANG SEMPIT.

Penulis: Ust. Musyaffa Abdurrahim, Lc.*
Bidang Pembinaan Kader DPP-PKSUst. Musyaffa: “Terus terang apa yang saya postingkan ini, saya sendiri pun sedang berusaha untuk mentarbiyah diri dengannya.”*) Judul Asli: Jangan Melihat dari Sudut Pandang Sempit

* sumber: email ustatdz Musyaffa

Peran Muslimah dalam Tradisi Keilmuan Islam

Suatu malam mengikuti diskusi Lentera 20 di PPSDMS yang mendatangkan narasumber Dr. Adian Husaini. meskipun saat itu topiknya mengenai Gerakan Islam, saya menangkap hal menarik tentang peran muslimah di sana, pun ditambah dengan perenungan akan kodrat wanita sebagai istri dan ibu.

Dalam tradisi keilmuan Islam, baik muslim maupun muslimah tidak dibeda-bedakan karena sala satu kewajiban muslim adalah menuntut ilmu. ilmu yang bagaimana? ada 2 kategori ilmu dalam Islam yakni yang fardhu ‘ain (setiap orang harus pelajari) seperti tauhid, ushul fiqh, nahwu-sharf, dsb juga fardhu kifayah (sejumlah orang hingga mencukupi untuk menebarkan kebaikannya) seperti sains, kesehatan, dan sosial humaniora.

Seringkali terdapat pemikiran destruktif bahwa kaum muslimah tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi-tinggi apalagi yang sudah menikah dan hanya mengambil tugas di ranah domestik padahal anggapan ini salah. Pertama, karena ada penyempitan makna dari pendidikan atau ilmu sendiri padahal sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat dan sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain sesuai hadits nabi. Maka dari itu, ketika memutuskan membina sebuah keluarga, sebenarnya peran seorang muslimah kian bertambah dan ini membutuhkan ketinggian ilmu agar dapat memberikan manfaat besar bagi sekitarnya maupun dirinya sendiri (kompetensi dan kapasitasnya).

Seorang ibu adalah koki, ahli gizi, dokter, psikolog, guru dan ulama sekaligus — selain sebagai manajer keuangan, Pengembangan SDM, humas, ahli kecantikan, event organizer saat ia memutuskan untuk menyempurnakan setengah agamanya. Hal ini tentu sebagai upaya untuk menyejahterakan keluarganya baik kebutuhan bilologis maupun psikologisnya.

Pertama, sebagai koki dan ahli gizi, ibu menjamin gizi keluarganya dengan menyediakan makanan dan minuman yang halal dan baik untuk dikonsumsi serta keterampilan menyajikan santapan yang mengundang selera. Ini pun sangat terkait dengan peran ulama yang paham tentang rizki yang halal dan pengaruhnya bagi keluarga. Sebagai dokter dan psikolog, ibu memahami tumbuh kembang anak, cara menangani ‘luka’ yang dialami oleh anggota keluarga baik secara fisik maupun psikis sehingga penanganannya pas serta tidak berlebihan maupun terkesan mengabaikan.

Sebagai guru dan ulama, ibu memiliki peran sebagai Al-Ummu madrasah Al-ula (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya). Peran ini membutuhkan kapasitas ilmu yang memadai seperti yang Pak Munif Chatib tuturkan dalam buku Orangtuanya Manusia yakni mengokohkan alasan mengapa anak harus belajar (niat atau motivasinya karena Alloh SWT). Bagaimana proses belajar yang efektif dan menyenangkan. Ini terkait dengan gaya belajar anak, kecerdasan majemuknya (multiple intelligences). Juga hasil dari proses belajar anak yakni perubahan perilaku, pola pikir juga membangun konsep baru dari aktivitas belajarnya. Selain itu, yang paling penting adalah menjadi pintu pertama bagi anak dalam mengenal Penciptanya.

Akan tetapi, kendala muslimah biasanya terkait dengan kodratnya sendiri untuk melahirkan, menyusui, dsb sehingga waktu untuk menuntut ilmu tidaklah seluang para kaum adam. Maka dari itu, sebagai muslim (baca: suami & ayah) yang bijak, harus menjadi corong ilmu dan saling berbagi ilmu dengan istrinya semisal sering melakukan diskusi keilmuan di sela waktu keluarga. Selain itu, terinspirasi dari http://keluargahanif.blogspot.com/2011/03/emang-gampang-jadi-suami.html), seorang istri tidaklah wajib dibebankan seluruh tugas mengurus rumah tangga dari pagi hingga pagi lagi karena tugas utama istri adalah melayani suami dan mendidik anak sehingga ia memiliki waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu terkait serta memberikan manfaat bagi masyarakatnya sebagai ikhtiar membangun peradaban terbaik bagi anak-cucunya kelak.

waLlahua’lam bish shawab

 

Dunia butuh sosiolog muslimah

Dunia butuh dokter-dokter muslimah

Dunia butuh pakar fiqh  muslimah

Dunia butuh para ummul madrasah yang melahirkan para mujahid Islam

Dunia butuh kita wahai para muslimah!

Bangkitlah! dan tunjukkan bahwa dengan hijab yang Allah muliakan dirimu dengannya, engkau dapat menyuburkan bumi Allah ini.

ALLAHU AKBAR!

-NE-

inspired by here