Let It Go

Don´t be embarrassed, don´t be afraid
Don´t let your dreams slip away
It’s determination and using your gift
Everybody has a gift
Never give up, never let it die
Trust your instincts and most importantly
You´ve got nothing to lose
So just go for it

(It’s Amazing​ – Jem)

Lagu ini kurang lebih merepresentasikan rasa yang menggantung 1 tahun belakangan. Di tengah upaya memutar konsep “zona nyaman” dari yang terbiasa nyaman dengan kedinamisan aktivitas luar rumah menjadi nyaman (membangun surga) di rumah. 

Menghidupkan mimpi tak boleh henti sembari menjalani kodrat asasi. Mimpi yang harus terus hidup mendampingi cita akan peradaban rabbani kelak. Mimpi yang harus dirawat bersama “tunas mungil” yang boleh jadi suatu saat menjadi partner terbaik tuk mewujudkan sang mimpi.

Bersama Institut Ibu Profesional (IIP) aku seperti lepas landas, mengepakkan sayap tuk meraih sang mimpi. Bersama para pemimpi yang gairah belajarnya sungguh luar biasa. Semoga sang mimpi melangit bersama doa hingga siap membumi dan menjadi rahmat bagi semesta.

Terima kasih IIP yang telah memberi ruang untuk belajar, beradab, bermimpi, berdaya, berkarya, berbagi. Mudah2an bisa melanjutkan ke jenjang-jenjang berikutnya dengan syukur nan semangat!

Bismillaahirrahmaanirrahiim 😊

Advertisements

Rahasia KebajikanNya Yang Menjadi Pembeda

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimush-shalihat 

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, segala kebaikan menjadi sempurna.
MasyaAllah laa quwwata illa billah 

Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada daya kecuali dengan bantuan Allah.
Nuun Khairana Khatulistiwa
Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Tersemat di blog ibu ronakhatulistiwa.wordpress.com. Tempat ibu berbagi rasa dan inspirasi sejak ibu kuliah hingga sekarang. Juga Rumah Khatulistiwa Daycare, wadah ibu berkarya di dunia pendidikan saat ini.

Yang maknanya ibu ambil dari gelar sahabat rasulullah Umar bin Khattab Al Faruq ra. yang berarti pembeda. Bagai bumi Indonesia yang menghamparkan keanekaragaman, ibu berharap agar kelak engkau menjadi pribadi yang luwes, mampu memahami perbedaan dan diterima berbagai kalangan.

Di sisi lain, bagai garis (yang mengiringi kata khatulistiwa), doa ibu kelak kau akan menjadi sosok yang kokoh memegang prinsip, dapat membedakan benar salah, baik buruk, dan menegakkan kebenaran.
Khairana yang berarti kebajikan, kebaikan. Keberadaanmu adalah kebajikanNya, karuniaNya sebagaimana Eyang Kakungmu (bapak ibumu) menitipkan doa yang bermakna karunia dalam namamu. Karunia yang dinantikannya lama setelah kelahiran ibu karena sungguh ini terjadi berkat kebesaranNya. Semoga dengan kebajikanNya, kelak engkau akan menebarkan kebajikan bagi dunia.
Nuun. Hanya Allah yang mengetahui maknanya. Kelak kan dibukakan bagi kita. Rahasia Sang Pencipta. Eyang Siddi, (bapak ayahmu) yang memberikannya. Kami sedang memaknai hikmah apa yang Allah hendak ajarkan kepada kami di balik proses kelahiranmu yang sungguh indah di luar kekuasaan kami. Kelak apa yang kan Allah takdirkan bagi perjalanan hidupmu, hidup kami, juga dunia. Yang kami pinta kepadaNya agar engkau selalu berada di jalanNya hingga ajal menjemput. 
Nama ini takkan terwujud tanpa kebesaran hati ayahmu untuk memberikan haknya menamaimu. Terimakasih banyak ayah :’)
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Rahasia Kebaikan Sang Pencipta yang Menjadi Pembeda. 😊
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Hadiah terindah dari Illahi di hari kelahiran ibu 6 Januari, yang bertepatan dengan hari Jumat yang barakah (sebagaimana hari waktu ibu dilahirkan 28 tahun silam), sebagaimana hari pernikahan ayah dan ibu. Sungguh tak ada yang kebetulan dalam perjalanan takdir.
Semoga kami menjadi orangtua yang amanah dan bahagia. Kelak dapat mengantarmu tuk menyejukkan dunia dan menjadi pemimpin orang bertakwa. Aamiin _Allahumma aamiin_..
Ibu Nesya & Ayah Huzaifah
Sabtu, 7 Januari 2016 pk 05.26
#menunggu Nuun yang hendak diantar ke kamar ❤

Perayaan Kata

Kak, sungguh momen berharga malam tadi, sepulangmu 2 hari mengisi acara dari kantormu. Dalam quality time kita sembari mengunyah mangga yang tengah kau potong. Melanjutkan topik yang pernah kita bahas sebelumnya. Kau bicara lamat-lamat tentang kekhawatiranmu,
“Kan sebentar lagi kiamat ya, apa gunanya aku ngambil S2 dan buat boardgame kalau begitu?”.
Tak biasanya aku menyaksikan sosok visioner sepertimu berkata seperti itu dengan sayu.
“Kak, kan ada dalilnya meski besok kiamat, jika di tanganmu ada sebutir benih, tanamlah. Kita tak tahu pasti kapan terjadinya. Jadi untuk mempersiapkan bekal terbaik kita nanti, kita bisa meningkatkan kompetensi, kapasitas kita ke arah sana. S2-mu dan studi selanjutnya juga diarahkan untuk membangun amalan utama kita nanti.” Ujarku
“Kamu kan bilang kalau untuk kemapanan, saat ini kondisi kita sudah cukup tapi aku ingin jadi orang kaya. Bisa lebih banyak sedekah, bantu orang lain. Saat ini kan untuk keluarga pun baru bisa bantu sedikit. Cuma kalau masih di sini (kantornya) sepertinya berat. Makanya aku nyeriusin boardgame ini.” Ujarmu.
“Iya Kak, makanya kita harus optimis. Kita kan mau buat lembaga pendidikan. Kamu juga di sana (kantornya) bukan hanya kerja, singgah sementara tapi bagian dari menyusun anak tangga untuk mencapai amalan utama kita. Bekal jariyah kita nanti. Kamu bangun sistem yang baik di sana dan mempersiapkan kader terbaik untuk menggantikanmu kelak agar sistem kebaikan itu berlanjut. Aku pun rintis daycare sebagai awalan membangun cita-cita kita ke depan. Sembari mempersiapkan pendidikan untuk anak-anak kita, menanamkan tauhid agar mereka jadi pejuang di jalan Allah. Masa mereka nanti pasti tidak mudah. Maka kita perlu mewariskan bekal. Selain iman, kita perlu membangun wadah dan sistemnya. Mau itu sekolah, boarding school atau apa pun yang kita yakini nanti bisa mencetak para pemimpin peradaban kelak. Boardgame-mu kan juga bisa jadi salah satu alat pembelajarannya 😊”. Paparku.
“Nanti, jika memang sampai suasananya chaos, kita sudah punya bekal itu. Meski kita nggak tahu pembangunannya sudah sampai mana, tapi tekad membangunnya sudah harus kita kuatkan. Melihat kondisi umat sekarang, kita nggak tahu kapan dan bagaimana sistem dajjal akan bergerak. Bagaimana kondisi negeri ini nanti. Jika nanti ada pilihan untuk hijrah, apakah kita akan hijrah?” Tanyaku.
“Jika memang ada pilihan ya kita hijrah ke tempat yang lebih baik tapi mudah-mudahan kondisinya tidak akan sampai chaos ya. Wallahua’lam” Jawabmu.
“Lagipula, kita kan sekarang bergabung dalam jamaah (Islam). Kita tak tahu peran apa yang kan diberikan jamaah nanti jika momen chaos itu datang. Bisa jadi peranmu nanti langsung turun ke medan jihad. Bisa juga kan nanti jihadmu di ranah lain untuk menyusun strategi. Apa pun yang terjadi nanti, aku optimis in syaa Allah. Yang paling kupikirkan jika saatnya nanti kita harus hijrah adalah bagaimana mengajak keluarga kita turut serta.” Sambungku.
“Nah itu dia yang juga kupikirkan.” Sahutmu.
“Kalau tanggunganku kan ibu dan bapak… makanya saat ini kita perlu mempersiapkan benar-benar. Bukan hanya membantu mereka (keluarga kita) dari segi finansial tapi juga memberi perhatian yang mentarbiyah mereka, membangun fikroh agar gerak kita ke satu tujuan yang sama sebagaimana yang kuyakini di dalam Islam salah satunya adalah konsistensi dalam kebenaran, yang itu membuat nyaman fitrah kita. Ini yang tidak dimiliki oleh mereka yang munafik. Mudah-mudahan dengan konsistensi ini, hati mereka jadi tergerak untuk ikut.” Harapku.
“Iya aamiin. Aku kalau ketemu orang kayak gitu (munafik) kadang ndoain ‘semoga nanti mereka ditemukan dengan kondisi yg membuat mereka harus memilih, murtad dari agama ini atau mati membela imannya’. Katamu.
“Ah kamu, kalau doa itu yang baik.. eh, tapi baik juga ya kalau sampai mereka mati dalam membela keimanan kan in syaa Allah syahid ya… Habis kesel juga ya sama orang begitu, jahilnya suka nggak ketulungan gitu lho.

Makanya yang perlu kita kuatkan juga dari sekarang itu ibadah kita kak. Shalat malam, interaksi dengan Qur’an, dhuha, puasa, sedekah, amalan sunah kita. Semoga dengan itu Allah tambah rizki kita. Bukan hanya dalam bentuk harta. Kalau shalat malam kan punya efek kesehatan, juga bisa menjernihkan pikiran. In syaa Allah waktu kita akan semakin berkah. Selain itu Allah akan karuniakan qaulan tsaqiila (perkataan berbobot) yang menyentuh hati. Mudah-mudahan kian menguatkan kita dalam dakwah ya.” Pungkasku.
Kau tersenyum. Makan malam pun usai seiring berakhirnya percakapan tersebut. Selanjutnya kita ke kamar untuk beristirahat. Setelah kita melafalkan ayat-ayatNya sambil mengusap-usap perutku (buah hati kita yang in syaa Allah kelak jadi pejuang di jalanNya), kantuk belum juga datang.
“Ngobrol apa lagi ya?” Tanyaku.
“Baca buku yuk!” Ajakmu seraya keluar kamar untuk mengambil buku.
“Stratifikasi sosial dan…”
“Ih enggak!” Sergahku tertawa menanggapi candamu.
Kau bawakan Kisah Para Nabi karya Imam Ibnu Katsir.

“Ni buku berat (masanya) amat yak.” Ujarmu. 
“Iya, makanya aku suka males mau baca. Kudu pake meja n duduk di kursi. Hehe alesan, bilang aja maunya dibacain.” 😋
Kau pun membacakan lanjutan bacaanmu sebelumnya tentang sosok khalilullah Ibrahim sambil mendiskusikan betapa inspiratifnya sosok bapak para nabi ini ditambah penggambaran di buku yang jelas berdasar hadits shahih. 
Matamu kian redup. Kita cukupkan malam ini dengan penuh syukur, muhasabah dan taubat.

Semoga nyawa yang diembuskan kembali esok hari menjadi energi positif tuk berjuang atau jika diangkat oleh Sang Empunya malam ini, kan mengakhiri segala keburukan dan menanti kebaikan.
Depok, 1 Desember 2016 pk 10.20
#goodtime

#7tahunperayaancinta (12 Rabiul Awwal 1431-1438 H)

#Uhibbukafillah Hudzaifah Hanum ❤

#35Wof1stpregnancy

Pemuda Islam? Bergerak!

17 bulan kurang beberapa hari bahtera kami berlayar. Warna-rasa membaur dengan indah menghadir syukur di tiap dayungnya. Segala puji bagi Rabb semesta alam yang telah mengabulkan keinginanku untuk tetap aktif berdakwah selain di keluarga setelah menikah ini dan 1 hal lagi yang kuanggap sebagai kenikmatan barakah bagi pernikahan ini adalah dakwah yang kami semai bersama di lingkungan tempat tinggal kami. Sungguh, “Nikmat Rabb-mu yang manakah yang sanggup engkau dustakan?”.

Sebulan belakangan ini, Kak Huzu (panggilanku akhir-akhir ini terhadap sosok pemimpin dalam keluarga kecil kami ^^) dan aku merevitalisasi kembali Ikatan Remaja Masjid Baitul Ihsan (IRMBI) di komplek PLN P3B ini.

Ini diawali oleh suatu siang di mana kami shalat Dzuhur bersama di masjid. Hari itu – aku lupa tepatnya – adalah hari kerja sehingga kami bertemu dengan teman-teman dari SMP maupun SMK Utama yang dibangun beberapa tahun yang lalu atas kerjasama LAZIS PLN P3B dengan beberapa lembaga keislaman lain bagi anak-anak berprestasi yang membutuhkan dukungan finansial. Memang, peraturan sekolah mengharuskan siswi sekolah ini mengenakan kerudung saat sekolah. Aku senang sekali berada di antara para pemudi yang akan membangun bangsa ke depan ini. Seusai shalat, aku menyapa dan mengajak berkenalan tiga orang di antara mereka yang berseragam SMP dan SMK. Aku bertanya mengenai kegiatan keislaman di sekolah mereka. Subhanallah, ternyata di luar mata pelajaran agama Islam, para remaja ini diberikan waktu khusus untuk menghafal Al-Qur’an. Hanya saja mereka belum mengenal aktivitas mentoring. Maka dari itu, kami ingin menularkan semangat berislam kepada teman-teman di sana. Caranya? Dengan merevitalisasi kembali remaja masjid supaya mereka dapat dilibatkan dalam kegiatan keislaman. Subhanallah, kami juga mendapat dukungan dari pasangan ikhwah muda yang adalah pegawai ayahku. Ayah juga suka memberikan advis atas aktivitas keislaman ini. Maka, Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga Allah ridho.

Alhamdulillahirabbil’alamiin, seruan kami mendapat respon positif dari para remaja berpotensi ini. Memang, di awal butuh pendekatan ekstra dan ini justru dimulai dari generasi pertama komplek ini (kami adalah generasi kedua). Suamiku yang Alhamdulillah menjadi anggota tetap shalat berjamaah sering berdiskusi dengan para bapak tentang berbagai hal termasuk aktivitas remaja komplek ini, apalagi momennya pas untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Sebagai awalan diundanglah para remaja putra untuk perkenalan sekaligus mewacanakan revitalisasi ini ba’da Subuh. Beberapa ikhwan sebayaku menyambut usulan itu maka pertemuan dilanjutkan dengan mengundang semua remaja komplek yang mayoritas adalah muslim. Rapat pertama diawali di hari Ahad di mana masjid memang menjadi tempat pilihan kami karena kami ingin menghidupkan masjid sebagaimana di zaman Rasulullah yang merupakan pusat berbagai aktivitas bagi kaum muslim saat itu.

Dus, beberapa remaja putra dan putri hadir dalam rapat awal itu. Kami coba mengungkapkan lagi tujuan dan urgensi merevitalisasi remaja masjid ini di samping memotivasi mereka sebagai generasi pemuda-pemudi Islam yang siap membangun bangsa. Salah kata-kata “sakti” adalah motto dari seorang tokoh muslim nasional yang menginspirasi yakni,

“Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid. Bergerak atau mati!”

(HOS Tjokroaminoto)

Dalam rapat itu dan rapat-rapat selanjutnya, kami kembali membentuk struktur yang baru dimulai dari pemilihan sang ketua kemudian korput karena ketua yang lama sudah hengkang ke Bandung (kuliah di UNPAD gitu) dan korputnya sudah menikah (uhuk2! ^^). Di sini harus benar-benar ditekankan bahwa ketua itu bukan tumbal yang nantinya ditinggal sendirian mengerjakan semuanya. So, karena musyawarah tidak menghasilkan mufakat (sepertinya peserta rapat memang nggak terbiasa syuro karena bawaannya bercanda melulu ^^), maka diptuskanlah kita memilih dengan voting dan hasilnya kira-kira >90% mengerucut pada satu nama dan apa boleh buat sang terpilih mesem-mesem aja. suamiku juga sampai diwejangi oleh ayah sang ketua terpilih karena sekarang beliau sudah kelas 3 SMA sehingga harus fokus ke akademis. “siap Pak!”. Korput pun terpilih dari hasil voting para peserta putrid dan terpilihlah seorang mahasiswi semester 2 lulusan pesantren yang memang terlihat punya bakat public speaking dan kepemimpinan yang baik. Barakallah…

Selanjutnya, kami ber-20-an, membahas program kerja selama setahun ke depan. Rencananya, divisi yang akan bekerja hanya 2 yakni (Pengembangan Sumber Daya Manusia) PSDM dan Pengabdian Masyarakat (Pengmas). PSDM bertugas mengembangkan potensi remaja masjid itu sendiri dengan mengadakan pelatihan kepemimpinan, public speaking, motivasi berprestasi, penulisan, hingga memperingati ulang tahun bersama dan yang terpenting adalah Kajian Keislaman (KK) “Kalau remaja masjid nggak mengkaji Islam sama aja boong” pungkas suamiku. Alhamdulillah mereka setuju dan pelaksanaannya akan dilakukan 2x per bulan. Insya Allah aku yang menjadi penanggung jawab akan KK ini sedangkan suamiku menjadi PJ dari Pengembangan Kompetensi dan Tulisan Kita. Divisi Pengmas yang memiliki koordinator sendiri menghadirkan proker seperti baksos, garage sale, kerja bakti, penyuluhan lingkungan, pengumpulan botol bekas dan sebagainya yang insya Allah bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Pemuda = kontributif kan? 😉

Alhamdulillah, sekarang ini sudah masuk pekan ke-4 berdirinya IRMBI kembali dan masing-masing divisi sedang membuat penjabaran atas proker masing-masing. So, doakan agar kami bisa komitmen dan mendapat ridho Allah SWT ya!

SEMANGat Karena Allah selalu!!! q(-^____________^-)p

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”

(HR. Thabrani dan Daruquthni dengan isnad shahih)

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).”

(HR. Thabrani dengan isnad hasan)

Sumber hadits: http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hadits-manusia-paling-bermanfaat.htm