Langkah Baru

“Aku ingin jadi guru TK”

Sebuah cita yang pernah singgah dalam angan seorang bocah di kala duduk di bangku Sekolah Dasar hingga hidup mengambil perhatiannya dan perlahan cita itu terlupakan, tergantikan.

Singkat cerita, cinta memanggil cita itu menyeruak ke alam sadar mewujud dalam laku saat ia memutuskan mengirim biodata plus lamaran ke suatu tempat yang ia yakini mampu membawa mimpinya jauh melampaui usianya membangun sebuah peradaban paripurna yang membawa rahmat bagi semesta alam dipimpin oleh para khalifah yang hendak memakmurkan bumi, mengembalikannya kepada fitrah sebagai hamba Alloh sebelum tutup usia.

Kini, bersama 18 pejuang dengan impiannya masing-masing, seorang bocah yang bertransformasi menjadi muslimah itu, menjalani rangkaian pembelajaran untuk menjadi seorang guru kehidupan, gurunya manusia, melalui sebuah sarana bervisi sekolah kehidupan.

Perjalanan itu belum mencapai akhir, bahkan baru dimulai, tetapi muslimah ini mendapatkan banyak sekali, tidak hanya ilmu dan pengalaman baru tetapi juga harapan dan energi positif yang meluap, memenuhi relung jiwanya.

Guru pembelajar, penggerak kebaikan, pencetak para pemimpin peradaban.

Dengan ketulusan karenaNya, gelora asa, harmoni ilmu, kemantapan langkah serta dukungan aura positif di sekitarnya.

Ia berjanji untuk menjadi lebih baik, semakin baik dari waktu ke waktu hingga menjadi inspirasi.

Melangkahlah ia bersama senandung cinta…

Jejak Wanita

Bismillahirrahmaaniraahiim,
“Di balik (kesuksesan) pria yang besar pasti ada (peran) wanita yang besar” . Sebuah pepatah yang begitu terkenal dan diamini banyak orang dan ternyata, hal tersebut bukan hanya retorika belaka. Beberapa waktu yang lalu hingga kini, saya masih sering menemukan gambar yang manis banget ini beredar di jejaring social Facebook sehingga membuat saya tertarik untuk membuat suatu tulisan tentang keistimewaan wanita.

Sebagai anak, ia membukakan pintu surga bagi ayahnya…

Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata:
دَخَلَتْ امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا تَسْأَلُ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ
Seorang ibu bersama dua putrinya menemuiku meminta makanan, akan tetapi ia tidak mendapati sedikit makananpun yang ada padaku kecuali sebutir kurma. Maka akupun memberikan kurma tersebut kepadanya, lalu ia membagi sebutir kurma tersebut untuk kedua putrinya, dan ia tidak makan kurma itu sedikitpun. Setelah itu ibu itu berdiri dan pergi keluar. Lalu masuklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akupun mengabarkannya tentang ini, maka Nabi bersabda :
مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada mereka maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka”
(HR Al-Bukhari no 1418 dan Muslim no 2629)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثَةُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقَاهُنَّ وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan lalu ia bersabar atas mereka, dan memberi makan mereka, memberi minum, serta memberi pakaian kepada mereka dari kecukupannya, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat”
(HR Ibnu Maajah no 3669 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 294)
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi bersabda
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau)
(HR Muslim no 2631)
Dalam riwayat yang lain :
دَخَلْتُ أَنَا وَهُوَ الْجَنَّةَ كَهَاتَيْنِ – وَأَشَارَ بِأُصْبُعَيْهِ

“Aku dan dia di surga seperti dua jari ini” (dan beliau mengisyaratkan dengan dua jari jemari beliau)
(HR At-Thirmidzi no : 1914 dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Dari Jabir radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ يُؤْوِيْهِنَّ وَيَكْفِيْهِنَّ وَيَرْحَمُهُنَّ فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ الْبَتَّةَ . فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ بَعْضِ الْقَوْمِ : وَثِنْتَيْنِ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : وَثِنْتَيْنِ ] . وَزَادَ فِي رِوَايَةٍ : حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّ إِنْسَانًا ( لَوْ ) قَالَ : وَاحِدَةً ؟ لَقَالَ : وَاحِدَةً
“Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan, ia mengayomi mereka, mencukupi mereka, dan menyayangi mereka maka tentu telah wajib baginya surga”. Maka ada salah seorang dari kaum berkata, “Kalau dua anak perempuan Ya Rasulullah?”. Nabi berkata, “Dua anak perempuan juga”
Dalam riwayat lain ada tambahan, “Sampai-sampai kami menyangka kalau ada orang yang berkata, “Kalau satu anak perempuan?”, maka tentu Nabi akan berkata, “Satu anak perempuan juga”.
(Dihasankan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1027)

Sebagai istri, ia menyempurnakan separuh Diin suaminya…
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
(QS ar-Ruum: 21)
“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”
(QS An-Nisaa’: 4)
Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
الدُّنْيَا مَتاَعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”
(HR. Muslim no. 1467)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu:
أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ
“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.”
(HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)
Ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَاناً ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الآخِرَةِ
“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.”
(HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no. 1505)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.”
(HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى
“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.”
(HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)
Dari Abu Hurairah r.a., berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.”
(HR At-Tirmidzi)
Ada seorang wanita datang kepada Nabi SAW bertanya, “Wahai RasuIullah, sesungguhnya aku adalah delegasi wanita yang diutus kepadamu dan tidak ada satu wanita pun kecuali agar aku keluar untuk menemui engkau.” Kemudian wanita itu mengemukakan permasalahannya dengan mengatakan, “Allah adalah Rabb-nya laki-laki dan wanita dan ilah mereka. Dan engkau adalah utusan Allah untuk laki-laki dan wanita, Allah telah mewajibkan jihad kepada kaum laki-laki sehingga apabila mereka memperoleh kemenangan akan mendapat pahala, dan apabila mati syahid mereka akan tetap hidup di sisi Rabb-nya dan diberi rizki. Amal perbuatan apakah yang bisa menyamai perbuatan mereka dari ketaatan? Nabi SAW menjawab, “Taat kepada suami dan memenuhi hak-haknya tetapi sedikit dari kaum yang bisa melaksanakannya.”
(HR. Tabrani)
Pada pengajarannya yang lain, Rasulullah saw berkata,”Perempuan mana saja yang meninggalkan dunia sementara suaminya meridhainya pasti masuk surga.”
(HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sebagai ibu, surga di bawah telapak kakinya…
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
(QS Luqman: 14)
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(QS Al-Ahqaf: 15)
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS Al-‘Ankabuut: 8)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
(QS Al-Israa’: 23-24)
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, jawab beliau, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.”
(HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)
Hadits Mu’awiyah bin Jahimah, dimana beliau pernah mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya :
“Ya, Rasulallah. Aku ingin ikut dalam peperangan, tapi sebelumnya Aku minta pendapat Anda”. Rasulullah SAW bertanya,”Apakah kamu masih punya ibu?”. “Punya”, jawabnya. Rasulullah SAW,”Jagalah beliau, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua telapak kakinya”.
(HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani — Sanad hadits ini oleh banyak ulama diterima sebagai hadits yang hasan, bahkan Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai hadits shahih.)
Dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
“Arti : Dari Abdullah bin Mas’ud katanya, “Aku berta kpd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yg paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktu (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kpd kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah”
(Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9)
“Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya maka ia akan dipakaikan kepada kedua orangtuanya mahkota yang sinarnya lebih terang daripada sinar matahari di dunia pada hari kiamat nanti, kalaulah sekiranya ada bersama kalian, maka apa perkiraan kalian tentang orang yang mengamalkannya (Al-Qur’an)”
(HR Ahmad, Abu Daud, Al-baihaqi, dan Al-Hakim)
Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ridla Allah tergantung kpd keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kpd kemurkaan orang tua”
(Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152))

Para Wanita Yang Diabadikan Al-Qur’an
Ibunda Musa as. yang diabadikan dalam Surat Al-Qashash: 4-13. Sang pemilik keyakinan teguh atas rahmat Yang Kuasa hingga mengapungkan putranya di aliran Sungai Nil untuk menyelamatkannya dari kekejaman Fir’aun dan atas kuasaNya dipertemukan kembali dengan putranya yang kelak menjadi rasul Alloh.
Istri Imran yang diabadikan Alloh dalam Surat Ali-‘Imraan: 35-36. Istri Imran yang menazarkan anak dalam kandungannya menjadi anak yang shalih dan memohon perlindungan bagi anak dan keturunannya dari setan yang terkutuk.
Maryam, Ibunda Isa as. yang diabadikan dalam Surat Ali-‘Imran: 37-38 serta Surat Maryam: 16-30 tentang pengasuhannya oleh Nabi Zakariya hingga melahirkan Isa yang tidak berayah dan kelak menjadi seorang rasul.
Sarah, istri Nabi Ibrahim as, ibu dari Nabi Ishaq as. dalam Surat Huud: 69-73 tentang para malaikat yang mengabarkan kelahiran Ishaq as. padahal saat itu Nabi Ibrahim dan Sarah sudah berusia lanjut.
Hajar, istri Ibrahim as. ibu dari Nabi Ismail as. dalam Surat Ibrahim: 37 tentang doa Nabi Ibrahim ketika hendak meninggalkan Hajar dan Ismail di padang tandus. Doanya agar mereka mendirikan shalat, mendapat bantuan dari orang-orang dan mendapatkan rizki yang cukup.

Karena kau Begitu Istimewa

Wanita, ketika tidak bekerja di ranah publik, bukanlah karena ketidakmampuannya maupun keterkungkungan, melainkan karena ia sadar bahwa perannya lebih dari sekedar penghasil materi atau pengejar aktualisasi. Ialah yang melahirkan kemanusiaan dan membesarkan generasi pembangun peradaban.
Bersyukurlah wahai wanita, yang mengikhlaskan dirimu menjadi pintu surga…”

Luar biasa bukan, bagaimana Alloh SWT dan Rasululloh saw memuliakan wanita? Pun, ini baru perannya dalam ranah domestik. Belum lagi jika kita menilik fakta sejarah dan pendapat para ulama tentang peran-peran wanita yang dimuliakan dalam Islam. Contoh nyata ialah Ibunda ‘Aisyah r.a. sang humairaa kesayangan Rasululloh saw yang menguasai bidang keilmuan (Al-Qur’an, hadits, fiqh, qiyas serta prinsip-psinsip ijtihad) yang bisa disejajarkan dengan ilmu para sahabat. Di samping itu, bidang kedokteran, sejarah, retorika dan sastra pun beliau kuasai. Selain beliau, Ibunda Khadijah r.a., kekasih pertama Rasululloh saw yang bisa diteladani dalam bidang perniagaan sebagai seorang international business woman yang merelakan segenap harta dan jiwanya demi membela keyakinannya akan diinulloh. Ada pun Ummu Ammarah, Nusaibah binti Ka’ab r.a yang turut angkat sejata dan memberikan air minum kepada tentara Islam dalam Perang Uhud dan Yamamah, yang mendapat sayatan pedang karena menjadikan raganya sebagai tameng Rasululloh dari musuh yang hendak membunuh beliau atau Asma’ binti Abu Bakar yang mengantarkan perbekalan untuk ayahnya dan Rasululloh saw di kala mengandung. Bekal ini diantarkannya berjalan kaki ke Gua Tsur yang letaknya di atas gunung setiap sore. Ia mengenakan dua ikat pinggang. Yang satu untuk membopong bekal dan yang lain untuk menahan perutnya agar tak keguguran. Tak heranlah jika Rasululloh bersabda, “Sesungguhnya ia telah memiliki dua ikat pinggang di surga”. Sungguh besar kekuatan yang Alloh anugerahkan kepada makhluk bernama wanita ini.
Sungguh indah jika kita benar-benar memahami fitrah kita sebagai wanita. Wanita, ketika memilih perannya di ranah domestik maupun ranah publik (sosial kemasyarakatan, privat maupun pemangku wewenang) berlandaskan niat yang lurus sebagai hambaNya, kesadaran yang matang akan kondisi diri maupun sekitarnya, kompetensi yang mumpuni dalam bidangnya, serta prioritas amal yang dipilih dengan bijaksana. Insya Alloh kita akan menjadi sebaik-baik perhiasan… Insya Alloh para bidadari surga pun akan cemburu padamu… Wallohua’lam bish shawab.
Terakhir, bertepatan dengan tanggal 8 Maret, saya ingin mengucapkan kepada yang teristimewa,

Happy International Women’s Day! (-^0^-)/

Sumber Inspirasi
Al-Qur’an Terjemahan
‘Aisyah radhiyallohu anha: The Greatest Woman in Islam karya Sulaiman an-Nadawi tahun 2007 diterbitkan oleh Qisthi Press.

Fikih Politik Kaum Perempuan, Pedoman Peran Sosial Politik Muslimah Tinjauan Sirah Shahabiyah karya Cahyadi Takariawan tahun 2002 diterbitkan oleh Tiga Lentera Utama.
Masyarakat Berbasis Syariat Islam: Hukum, Perekonomian, Perempuan karya Dr. Yusuf Qardhawi tahun 2003 diterbitkan oleh Era Intermedia.
Perempuan Istimewa Teladan Di Medan Dakwah karya Muhammad Husain Isa tahun 2010 diterbitkan oleh Tarbawi Press.
Petunjuk Jalan karya Sayyid Quthb tahun 2001 diterbitkan oleh Gema Insani Press.
The Great Power of Mother, Inspirasi Dahsyat Dunia Akhirat karya Solikhin Abu Izzuddin & Dewi Astuti tahun 2007 diterbitkan oleh Pro-U Media.
http://firanda.com/index.php/artikel/keluarga/248-keutamaan-anak-perempuan
http://rumahfahima.org/en/artikel/percikan-iman/208-melacak-karakter-istri-sholihah-dalam-al-quran.html
http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/03/mendambakan-wanita-sholehah/
http://s463na.blogspot.com/2008/05/wanita-sebagai-istri.html
http://wagenugraha.wordpress.com/2008/10/29/mencontoh-rasulullah-saw-menjadi-suami-teladan/

http://blog.re.or.id/keutamaan-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-dan-pahalanya.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Ibu

“tuhan” 9 cm

 

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

(Taufik Ismail)

Jika bukan karena video di atas, pun puisi di atas, tolonglah, karena Ia saja.

Kedokteran Nabi saw Antara Realitas dan Kebohongan

Bismillahirrahmaanirrahiim

 “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan obat untuk penyakit itu.”

(HR Bukhari)

Saya yakin, pembahasan mengenai pengobatan tradisional tentunya bukan barang baru bagi pembaca blog sekalian. Dari isu konspirasi pengobatan modern hingga pengalaman pribadi masyarakat yang kurang mampu secara finansial yang membuktikan bahwa pengobatan herbal memiliki hasil penyembuhan yang ampuh dan juga minim – jika tidak bisa dikatakan bebas- efek samping. Di samping itu, umat Islam sekarang ini sedang bersemangat mewarisi ilmu nabinya yang dikaruniai Allah berbagai mukjizat dalam menjalankan peran-peran terbaik manusia termasuk sebagai seorang dokter yang mendapatkan didikan langsung dari Yang Memiliki Ilmu.

Akan tetapi, semangat ini kadang tidak diimbangi dengan telaah mendalam mengenai pengobatan a la nabi yang mengakibatkan penyempitan makna ilmu pengobatan Islam itu sendiri. Mereka mengira pengobatan nabi hanya sebatas jinten hitam, madu dan bekam lantas menolak mentah-mentah penggunaan obat maupun teknologi modern konvensional untuk menyembuhkan penyakit pada diri maupun keluarganya. Mirisnya, pengetahuan yang terbatas ini disebarkan kepada orang lain yang sama tidak tahunya dengan label “pengobatan Islami” sehingga buruklah citra Islam dalam dunia medis modern dan bahkan diragukan oleh umat muslim sendiri.

Saya pribadi memang lebih memilih mengonsumsi herbal ketimbang kimia dalam hal suplemen makanan maupun obat namun tidak menutup mata dari pengobatan modern konvensional jika dinilai tidak bertentangan dengan syariat Islam dan menjadi cara yang paling efektif dalam menyembuhkan penyakit karena semua itu dikembalikan lagi pada keyakinan kita terhadap Rabb yang memberikan penyakit pun kesembuhan padanya.

Kembali merebaknya isu-isu seputar dunia kesehatan khususnya yang menyangkut kebutuhan buah hati tercinta seperti boleh tidaknya penggunaan susu formula dan vaksinasi, membuat saya tertarik untuk menyelami lebih dalam mengenai pengobatan a la nabi. Saat jalan-jalan ke toko buku dan melirik ke buku-buku Islam bagian kesehatan, akhirnya saya menambatkan hati pada sebuah buku yang berjudul “Kedokteran Nabi saw Antara Realitas dan Kebohongan” sebagaimana judul di atas yang ditulis oleh Abu Umar Basyier yakni seorang penulis buku-buku Islam best seller seperti Sutra Ungu dan Sandiwara Langit. Pemaparan yang cerdas mengenai ilmu pengobatan modern konvensional dipadukan dengan telaah yang objektif atas hadits-hadits nabi juga pengutipan yang baik dari ulama yang memiliki kafaah baik dalam hal kedokteran Islam seperti Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, disertai dengan ilustrasi realitas di sekitar kita menjadikan buku ini sangat layak untuk dibaca setiap muslim agar tidak lagi berpikiran sempit mengenai pengobatan Islami bahkan -meminjam istilah seseorang- membonsai ilmu pengetahuan Islam itu sendiri.

Buku ini ditulis oleh sang penulis dengan tujuan utama: Pertama, untuk membuktikan kembali keunggulan kedokteran Islam atau kedokteran a la Nabi saw, dibandingkan segala bentuk ilmu kedokteran manusia yang hanya bersandar pada penemuan dan penelitian ilmiah semata. Kedua, menyingkap kembali sebagian intisari pembahasan yang mengagumkan dari Ibnul Qayyim dalam Ath-Thibbun Nabawi, dengan tambahan berbagai penjelasan dan pendalaman sesuai dengan disiplin ilmiah ilmu kedokteran dan pengetahuan medis saat ini. Tentu, saya (penulis) hanya bisa menguliti kerangka pembahasan Ibnul Qayyim dan pokok-pokok pemikirannya secara umum saja, karena beberapa alasan di antaranya, beliau banyak melakukan pembahasan tambahan yang tidak terkait dengan ilmu kedokteran sehingga tidak disertakan dalam buku ini, ada beberapa hadits yang digunakan terbukti tidak shahih dan tidak bisa dijadikan rujukan, istilah medis yang digunakan tidak lagi dikenal saat ini karena mengalami kuntaminasi bahasa maupun perkembangan penelitian ilmiah, dan berbagai alasan lain yang intinya perlu pengkajian lebih atas tulisan ulama ini dengan penelitian-penelitian ilmiah terkini. Meskipun begitu, karya Ibnul Qayyim ini sungguh mengagumkan dan tidak tergantikan dalam banyak sisinya. Ketiga, terdapat beberapa buku terjemahan bahasa Arab dan juga tulisan berbahasa Indonesia seputar kedokteran Nabi saw, yang ternyata hanya jiplakan mentah-mentah dari Ath-Thibbun Nabawi karya Ibnul Qayyim bahkan tanpa menyandarkan kepada kitab aslinya dan parahnya, nyaris tidak mengubah sistematikanya secara lebih apik dan mudah dipahami pun penyajian-penyajian lain yang tidak kalah menyedihkan mengenai buku tersebut.

Buku ini sendiri ditulis oleh penulis (Abu Umar Basyier) sebagai prolog dari pengobatan Nabi saw. Buku-buku berikutnya akan menyusul dan masing-masing akan difokuskan pada sub-sub bahasan tertentu dari disiplin kedokteran Nabi saw yang sangat luas. Meskipun buku ini tidak banyak memuat hal-hal praktis, tetapi insya Allah jejak-jejak kedokteran Nabi saw akan coba dikuak selebar-lebarnya.

Penulis sendiri tidak memiliki latar belakang pendidikan medis tetapi dengan keyakinan bahwa segala ilmu itu dapat dipelajari walaupun disadari bahwa hasil yang dicapai mungkin kurang optimal. Selanjutnya, semoga buku ini dapat mendorong penelitian ilmiah di bidang kedokteran dan ilmu-ilmu Islam yang lebih mendalam tentang pengobatan a la nabi. Tentunya saran dan kritik yang membangun amat diperlukan untuk perbaikan karya ini juga karya-karya penulis selanjutnya. Isi buku ini terdiri dari pasal-pasal sebagai berikut:

^ Islam dan Ilmu Pengobatan

 ^ Pengobatan Klasik dan Modern

^ Ath-Thibbun Nabawi (Pengobatan a la Rasulullah saw) dalam Telaah yang mencakup sub bab pengobatan Nabi saw bukanlah ‘madu’ dan ‘jinten hitam’, kedokteran Nabi saw tidak anti terhadap terapi dan obat-obatan modern, pengakuan kedokteran Nabi saw terhadap medis (tradisional) dan modern, kekeliruan anggapan tentang superioritas ‘bekam’ sebagai ‘kedokteran nabi’ terbaik, kedokteran Nabi saw tak terbatas pada penggunaan obat-obat yang pernah digunakan Nabi saw saja, obat-obatan kimiawi tidak selamanya ‘dilarang’ dalam konsep At-Thibbun Nabawi.

^ Dasar-dasar dan Kaidah Ath-Thibbun Nabawi (Kedokteran Nabi saw) yakni 1)dasar kedokteran Nabi saw adalah wahyu, 2) tiga formula medis dalam kedokteran Nabi saw adalah menjaga kesehatan, menjaga tubuh dari unsur berbahaya, mengeluarkan unsur berbahaya dari dalam tubuh, kemudian 3) dua model terapi: preventif dan kuratif (penyembuhan), konsep dasar pencegahan penyakit: diet, pencegahan penyaklit melalui kebersihan, 4) dua jenis terapi kenabian: penyembuhan substansi penyakit dan pembuangan zat-zat berbahaya dari dalam tubuh, 5) dua jenis terapi: terapi Ilahiyyah (bermuatan ajaran wahyu murni) dan terapi obat-obbatan, 6) syarat-syarat tenaga medis yang layak berpraktik dalam dunia pengobatan, hal-hal yang harus diperhatikan seorang tenaga medis dalam terapi, dilema malpraktik, 7) penyebab umum terjadinya penyakit menurut Ibnul Qayyim, 8.) dua jenis penyakit: akibat penyumbatan dan ketidaksempurnaan metabolisme, 9) metode karantina bagi orang-orang sakit.

^ Kedokteran Nabi, Antara Terapi Modern dan Pengobatan Tradisional

^ Contoh-contoh Praktis Pengobatan yang Pernah Dilakukan Nabi saw

^ Pengobatan dengan Air Putih

^ Terapi dengan Makanan Sehat

^ Kedokteran Nabi saw terhadap Penyakit Kejiwaan

^ Jenis-jenis Penyakit Jiwa dan Terapinya Menurut Al-Qur’an dan Hadits

^ Proses Terapi dan Penyembuhan Penyakit Kejiwaan

^ Beberapa Jenis Herbal yang Disebut dalam Al-Qur’an atau Al-Hadits dan Fungsinya menurut Ath-Thibbun Nabawi

^ Berobat dengan Tidur

^ Berobat dengan Puasa

^ Beberapa Contoh Pengobatan Alternatif dan Relevansinya dengan Ath-Thibbun Nabawi yang mencakup jenis pengobatan alternatif seperti terapi pikiran dan spiritual, terapi fisik, dan terapi energi Terakhir dilampirkan pula doa saat mengobati seseorang atau saat sebelum minum obat.

Buku ini mungkin memang belum bisa menjawab pertanyaan spesifik mengenai teknologi pengobatan modern tetapi kembali kepada tujuan penulis yakni membuka selebar-lebarnya jalan untuk memahami jejak-jejak kedokteran Nabi saw.

Untuk menghindari kejemuan jika saya memperpanjang tulisan ini. Maka dari itu, saya cukupkan tulisan ini. Semoga pembaca dapat mengambil manfaat dan semakin tertarik untuk mendalami topik ini. Terakhir, sebagai seorang muslim yang berilmu tentunya kita ingin menjadi sosok yang semakin rendah hati, sungguh-sungguh, dan peka terhadap sekitar kan?

Wallahua’lam bish shawab.

Buku Kedokteran Nabi saw Antara Realitas dan Kebohongan dapat diperoleh salah satunya pada link ini

Istri (Shalihah tapi) Manja? Siapa Takut!

Tak semua orang suka bunga. Ada yang menganggap bunga sebagai simbol kelemahan: pembuat lalai dan pembunuh keberanian. Mereka pun menjauhi bunga. Tapi, bunga tetap bunga. Harum. Indah. Menawan.

Sulit mengungkapkan kata yang pas buat suami yang bingung dengan manja sang isteri. Memang, manja buat sebagian suami bisa menyenangkan dan menyegarkan. Ada dunia lain yang ia masuki. Baru dan menarik. Sesuatu yang baru biasanya menyegarkan. Tapi, ada sebagian suami yang tak suka dengan manja. Ia menerjemahkan manja sebagai kekanak-kanakan, cengeng, kurang tegar, lemah pendirian, dan masih banyak sifat lain. Pokoknya, manja serupa dengan kelemahan. Dan Islam tidak suka dengan kelemahan. Dengan kata lain, Islam benci dengan kemanjaan. Benarkah?

Perasaan itulah yang saat ini menggoyang konsentrasi Gani. Satu tahun sudah bahtera rumah tangganya berlayar. Sebuah waktu perjalanan yang tergolong muda. Bahkan, belum apa-apa. Jangankan samudera, pantai tempat berlabuh pun masih jelas terlihat. Walau belum jauh, dan ombak belum menjadi gelombang besar, Gani tak mau hilang waspada. Pengalaman membuktikan, tidak sedikit kapal karam di tepian pantai. Bisa salah kemudi sehingga nabrak pantai berkarang, atau kapalnya sudah bocor. Sejauh itukah tafsiran Gani dengan manja isterinya? Sebenarnya, Gani bingung. Isterinyakah yang tergolong super manja. Atau, ia sendiri yang terlalu kaku dan tegas. Tak pernah terbayang Gani kalau ia akan beristeri seperti itu. Dalam bingkai pandangnya, semua akhwat berjilbab pasti tegas: bicara singkat dan padat, tak boros senyum, pantang merayu. Seperti itulah perkiraan Gani ketika meminang isterinya.

Tapi, dunia nyata ternyata berbeda dengan yang maya. Pandangan bisa mengira, tapi faktalah yang akhirnya bicara. Isteri Gani begitu lembut. Bahkan, teramat lembut. Sungguh di luar jangkauan perkiraan Gani. “Kang, pulangnya jangan malam-malam, ya. Nanti masuk angin. Hati-hati, ya, Yang!” Ungkapan itulah yang tiap hari mengantar kepergian Gani ke tempat kerja. Alunannya begitu merdu. Pernah juga Gani lembur kerja hingga malam. Selepas telepon kantor berdering, suara merdu sang isteri kembali menari-nari di telinga Gani. “Kang, pulangnya teu kenging malem-malem atuh. Teteh sepi, nih, Kang!” Dan suara senyum renyah pun sayup-sayup terdengar menutup pembicaraan.

Apa yang salah dari manja isteri Gani? Mungkin, sebagian suami sama sekali tidak menganggap itu masalah. Bahkan, mungkin terhibur. Cinta yang mulai lelah pun menjadi segar. Tapi, buat Gani lain. Manja isterinya membuat ia mengukur diri. Ada apa dengan saya? Seperti itulah keadaan Gani. Sering ia memuhasabah diri. Ini anugerah, atau bentuk teguran dari Allah. Memang, semasa lajang, Gani dikenal teman-temannya begitu tegas. Terutama, terhadap perempuan. Ia akan bicara seperlunya, tanpa basa-basi sedikit pun. Jangankan senyum, pandangan pun cuma sesekali mengarah ke lawan bicara. Ia tidak akan meladeni seorang perempuan yang bicara dengan penuh kreasi. Setiap kali itu menggejala, mulutnya selalu memotong, “Intinya?” Terus terang, Gani memang tidak suka dengan wanita banyak gaya, kaya basa-basi, dan banyak tingkah. Apalagi bermanja-manja. Nah, sifat itulah yang kini di hadapannya. Bagian dari hidupnya. Dan, mungkin akan menjadi pelengkap hidupnya. Haruskah ia nyatakan ketidaksukaannya dengan gamblang, apa adanya. Seperti yang pernah ia nyatakan ke rekan-rekan wanita di rohis dulu. “Bicara kamu mendayu-dayu amat, kayak sinden kurang sajen.” Seperti itukah teguran Gani ke isterinya? Atau, ia abaikan saja semua manja sang isteri, kemudian memperlihatkan sifat tegas. Toh, lambat laun isterinya akan sadar. Tapi? Gani mendapat pelajaran baru.

Ternyata, memimpin rumah tangga tak semudah memimpin rohis. Bahkan, senat sekali pun. Karena dalam rumah tangga bukan cuma pikiran dan ide yang mesti sama, tegangan rasa pun harus berimbang. Salah menerjemahkan rasa, hubungan bisa koslet berkepanjangan. Gani paham kalau tak mungkin menyetop manja isteri dengan kalimat tegas. Walaupun, itu sering ia lakukan semasa kuliah dulu. Kali ini persoalannya lain. Salah-salah bertindak, keharmonisan rumah tangga bisa membeku. Retak. Bahkan, pecah tak karuan. Mungkin, ada maksud baik di balik manja isteri Gani. Ia ingin mengungkapkan rasa cinta apa adanya. Dan cinta mampu menghias apa pun menjadi lebih indah. Ada hiasan-hiasan cinta isteri yang bisa dipahami suami. Tapi, tidak sedikit yang belum. Atau, bahkan tidak sama sekali.

Nah, adakah manja isteri Gani merupakan bentuk lain dari ungkapan hiasan cinta. Itulah yang mengganggu konsentrasi Gani. Kadang, bayang-bayang negatifnya mengatakan lain. Manja isteri bisa membuat suami takut mati: takut berjuang, putus semangat, dan lemah keberanian. Gimana rasanya kalau suami mau berjihad, sang isteri berpesan lembut, “Kang, barisnya jangan terlalu depan. Nanti kena peluru nyasar!”

Allah telah menciptakan pria dan wanita memang untuk berpasangan. Perbedaan dua jenis manusia itu akan menjadikan hidup lebih dinamis. Ada hal yang tidak mampu dilakukan pria, bisa ditangani wanita. Dan ada sifat-sifat wanita yang justru menjadi pelengkap dari kekosongan sifat pada pria. Mungkin, termasuk manja. Tapi, Islam juga menakar sesuatu dengan ukuran yang imbang dan wajar. Apa pun kalau berlebihan, akan merusak. Umar bin Khattab pernah menyuruh salah satu puteranya untuk menceraikan isteri karena teramat sangat manja. Umar khawatir, anaknya menjadi penakut dan malas berjihad. Dan, Gani memang mesti punya sikap. Mana manja yang wajar sebagai ungkapan hiasan cinta. Mana manja yang rawan melunturkan semangat perjuangan. Tentunya, sikap itu mengalir tenang melalui aliran cinta hidup berumah tangga.

Tak semua orang suka bunga. Tapi, dari bungalah buah terlahir. Dari bunga pula, taman menjadi indah, dan seribu satu karya seni tercipta.

(muhammadnu@eramuslim.com)

sumber: http://www.eramuslim.com/hikmah/jendela/manja-isteri.htm

Sedikit menanggapi cerita di atas (mulai deh ^^), setelah menikah, aku menyadari bahwa seorang istri, apalagi bagi seorang aktivis dakwah, mestilah jadi sosok yang mandiri. Misalnya, ketika kita sakit tetapi sang suami mendapat panggilan dakwah, sebagai istri perindu surga, kita relakanlah suami menjemput ridhoNya dengan berjihad di jalanNya atau ketika kita yang sedang dipanggil oleh dakwah di luar sana karena sadar akan peran kita dalam masyarakat, kita juga musti punya keberanian untuk meninggalkan kenyamanan di tengah keluarga -dengan izin sang suami tentunya- menuju lahan jihad walaupun tidak diantar-jemput (mangnya jelangkung? :p) oleh suami tetapi dengan kesadaran bahwa jihad utama kita adalah sebagai seorang istri dan ibu shalihah bagi keluarga tercinta.

Hanya saja, menjadi ukhtivis (klo akhtivis kan buat ikhwan ^^v) dakwah yang tangguh tak berarti melupakan kodrat kelembutan kita sebagai perempuan apalagi bagi seorang istri, ini bisa dibilang kudu harus! Karena lelaki yang sudah menikah itu punya tiga karakter dalam dirinya yakni sosok bocah yang tetap ingin dimanja dan bermain, sosok kebapakan yang ingin melindungi dan dihormati, juga sosok pria dewasa yang menginginkan wanita matang yang mampu memahami kebutuhan fisik dan psikisnya sehingga butuh keluwesan kita sebagai pasangan yang ceria, cerdas sekaligus patuh dan pengertian- semua itu terrangkum dalam satu kata- SHALIHAH.

Sifat manja (yang proporsional) tadi akan menjadi pupuk penyubur cinta dalam pernikahan, insya Allah jika kita bisa menempatkannya dengan tepat. Tidak minta  manja di sembarang situasi apalagi jika suami sedang kelelahan atau dalam urusan yang penting mendesak atau bahkan seperti kisah istri dari anak sang khalifah Umar yang sampai dicerai (na’udzubillah) tapiii…. ini bisa jadi senjata yang paling ampuh jika suami sedang ngambek lho! hehe… caranya? aku yakin masing-masing kita sudah punya trik yang paling jitu untuk menciptakan manja yang efektif bersama suami ;9 dan yang terpenting kita niatkan semua itu untuk beribadah kepadaNya. Insya Allah akan lahir rumah tangga yang mawaddah, penuh cinta dan kasih sayang karenaNya.

So, jadi istri (shalihah tapi) manja? Siapa takut!