Nikah itu (selewat 5 tahun)

Nikah itu ibadah.
Maka tengoklah bagaimana tilawah, tahajud, dhuha, shaum dan ibadah sunah lainnya setelah menikah.
Nikah itu sedekah.
Maka tengoklah, sudahkah kita lebih banyak memberi kepada yang membutuhkan, minimal secercah senyuman kepada tetangga.
Nikah itu berkarya.
Maka tengoklah seberapa besar akselerasi amal dan manfaat yang kita berikan  kepada sesama.
Nikah itu dakwah.
Maka tengoklah siapa yang dengan perantaraan keluarga kita, ia menjadi lebih dekat dengan Rabbnya.
Nikah itu ukhuwah.
Maka tengoklah kualitas hubungan kita dengan orang tua, saudara, keluarga, tetangga, sahabat.
Nikah itu bangun cinta.
Maka tengoklah, apakah kebersamaan kita kian menyemai ketaatan dan rasa syukur kepadaNya.
Nikah itu kita.
Aku dan kamu, selamanya, hingga surga… šŸ™‚

Advertisements

Saat yang (kan) kurindu

di depan pintu kamar kita yang menghadap ke kebun belakang, disirami cahya mentari pagi yang kaya, sambil duduk lesehan, engkau tertawa lepas saat ku mengarang cerita tentang semut dan benda-benda yang dibawanya pulang ke sarang. katamu, “kapan-kapan ceritakan lagi ya yang lainnya…”

di atas pohon, kau menampilkan keapa adaanmu berselimut cahya mentari, tersenyum, bergantungan dengan riang menguapkan aura kanak-kanak. hatiku tersenyum memelukmu

berjalan kaki di sepanjang trotoar kota Bogor, daun-daun berguguran dari batang-batang kokoh pohon yang mungkin jauh lebih tua dari kita, kau begitu bersemangat menunjukkan ruang-ruang masa lalumu yang penuh mimpi, harapan, perjuangan. dalam hati ku berdoa, “semoga saat ini selalu terpatri di hati kita” (meskipun aku manyun lantaran kakiku lecet ^^)

jalan pagi ke tempat-tempat yang belum pernah kujamah, menyusuri lika-liku yang tak terraba, menemukan hal-hal unik, membangun mimpi-mimpi. “kapan-kapan kita jalan lebih jauh lagi ya…” katamu tersenyum

tawamu, leluconmu (meskipun kadang garing :p), kepolosanmu, ambekan-mu, manyunmu, diammu, tangismu, cuekmu, menyebalkan-mu, keras kepalamu, cemburumu, perhatianmu, hafalan Qur’anmu, segalamu…

Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang sanggup kau dustakan?

Dengan rindu,

=’)