​Setelah Delapan Tahun(12 Rabiul Awwal 1431-1439)

Masjid ini adalah saksinya. Saat “mitsaaqan ghalizha” itu terucap. Hari ini, delapan tahun yang lalu. Gerimis pun turun membasahi bumi. Sesaat setelah terik matahari menyinari Jumat yang istimewa itu. Berharap itu pertanda awal keberkahan bagi kami.
Delapan tahun menjadi jalan yang panjang. Jalan pembelajaran bagi kami. Agar konsisten dalam taqwa. Bahagia dan duka hanya warna kehidupan. Terkadang muncul rasa tidak suka. Namun kasih sayang lebih memenuhi jiwa. Juga rindu yang memberi nuansa. 
Jangan letih saling menasihati. Seiring waktu yang berganti. Sebagai amanah yang harus dijaga. Juga sabar dan syukur yang dipupuk senantiasa. Dalam kebenaran dan kebaikan, semoga kita dapat terus bersama. Lelah akan hilang. Amal shalih akan kekal.

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Q.S. Ath-Thuur: 21)

-HH-

Advertisements

Rahasia KebajikanNya Yang Menjadi Pembeda

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimush-shalihat 

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, segala kebaikan menjadi sempurna.
MasyaAllah laa quwwata illa billah 

Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada daya kecuali dengan bantuan Allah.
Nuun Khairana Khatulistiwa
Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Khatulistiwa, nama yang ibu persiapkan bahkan sebelum menikah. Tersemat di blog ibu ronakhatulistiwa.wordpress.com. Tempat ibu berbagi rasa dan inspirasi sejak ibu kuliah hingga sekarang. Juga Rumah Khatulistiwa Daycare, wadah ibu berkarya di dunia pendidikan saat ini.

Yang maknanya ibu ambil dari gelar sahabat rasulullah Umar bin Khattab Al Faruq ra. yang berarti pembeda. Bagai bumi Indonesia yang menghamparkan keanekaragaman, ibu berharap agar kelak engkau menjadi pribadi yang luwes, mampu memahami perbedaan dan diterima berbagai kalangan.

Di sisi lain, bagai garis (yang mengiringi kata khatulistiwa), doa ibu kelak kau akan menjadi sosok yang kokoh memegang prinsip, dapat membedakan benar salah, baik buruk, dan menegakkan kebenaran.
Khairana yang berarti kebajikan, kebaikan. Keberadaanmu adalah kebajikanNya, karuniaNya sebagaimana Eyang Kakungmu (bapak ibumu) menitipkan doa yang bermakna karunia dalam namamu. Karunia yang dinantikannya lama setelah kelahiran ibu karena sungguh ini terjadi berkat kebesaranNya. Semoga dengan kebajikanNya, kelak engkau akan menebarkan kebajikan bagi dunia.
Nuun. Hanya Allah yang mengetahui maknanya. Kelak kan dibukakan bagi kita. Rahasia Sang Pencipta. Eyang Siddi, (bapak ayahmu) yang memberikannya. Kami sedang memaknai hikmah apa yang Allah hendak ajarkan kepada kami di balik proses kelahiranmu yang sungguh indah di luar kekuasaan kami. Kelak apa yang kan Allah takdirkan bagi perjalanan hidupmu, hidup kami, juga dunia. Yang kami pinta kepadaNya agar engkau selalu berada di jalanNya hingga ajal menjemput. 
Nama ini takkan terwujud tanpa kebesaran hati ayahmu untuk memberikan haknya menamaimu. Terimakasih banyak ayah :’)
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Rahasia Kebaikan Sang Pencipta yang Menjadi Pembeda. 😊
*Nuun Khairana Khatulistiwa*.

Hadiah terindah dari Illahi di hari kelahiran ibu 6 Januari, yang bertepatan dengan hari Jumat yang barakah (sebagaimana hari waktu ibu dilahirkan 28 tahun silam), sebagaimana hari pernikahan ayah dan ibu. Sungguh tak ada yang kebetulan dalam perjalanan takdir.
Semoga kami menjadi orangtua yang amanah dan bahagia. Kelak dapat mengantarmu tuk menyejukkan dunia dan menjadi pemimpin orang bertakwa. Aamiin _Allahumma aamiin_..
Ibu Nesya & Ayah Huzaifah
Sabtu, 7 Januari 2016 pk 05.26
#menunggu Nuun yang hendak diantar ke kamar ❤

Perayaan Kata

Kak, sungguh momen berharga malam tadi, sepulangmu 2 hari mengisi acara dari kantormu. Dalam quality time kita sembari mengunyah mangga yang tengah kau potong. Melanjutkan topik yang pernah kita bahas sebelumnya. Kau bicara lamat-lamat tentang kekhawatiranmu,
“Kan sebentar lagi kiamat ya, apa gunanya aku ngambil S2 dan buat boardgame kalau begitu?”.
Tak biasanya aku menyaksikan sosok visioner sepertimu berkata seperti itu dengan sayu.
“Kak, kan ada dalilnya meski besok kiamat, jika di tanganmu ada sebutir benih, tanamlah. Kita tak tahu pasti kapan terjadinya. Jadi untuk mempersiapkan bekal terbaik kita nanti, kita bisa meningkatkan kompetensi, kapasitas kita ke arah sana. S2-mu dan studi selanjutnya juga diarahkan untuk membangun amalan utama kita nanti.” Ujarku
“Kamu kan bilang kalau untuk kemapanan, saat ini kondisi kita sudah cukup tapi aku ingin jadi orang kaya. Bisa lebih banyak sedekah, bantu orang lain. Saat ini kan untuk keluarga pun baru bisa bantu sedikit. Cuma kalau masih di sini (kantornya) sepertinya berat. Makanya aku nyeriusin boardgame ini.” Ujarmu.
“Iya Kak, makanya kita harus optimis. Kita kan mau buat lembaga pendidikan. Kamu juga di sana (kantornya) bukan hanya kerja, singgah sementara tapi bagian dari menyusun anak tangga untuk mencapai amalan utama kita. Bekal jariyah kita nanti. Kamu bangun sistem yang baik di sana dan mempersiapkan kader terbaik untuk menggantikanmu kelak agar sistem kebaikan itu berlanjut. Aku pun rintis daycare sebagai awalan membangun cita-cita kita ke depan. Sembari mempersiapkan pendidikan untuk anak-anak kita, menanamkan tauhid agar mereka jadi pejuang di jalan Allah. Masa mereka nanti pasti tidak mudah. Maka kita perlu mewariskan bekal. Selain iman, kita perlu membangun wadah dan sistemnya. Mau itu sekolah, boarding school atau apa pun yang kita yakini nanti bisa mencetak para pemimpin peradaban kelak. Boardgame-mu kan juga bisa jadi salah satu alat pembelajarannya 😊”. Paparku.
“Nanti, jika memang sampai suasananya chaos, kita sudah punya bekal itu. Meski kita nggak tahu pembangunannya sudah sampai mana, tapi tekad membangunnya sudah harus kita kuatkan. Melihat kondisi umat sekarang, kita nggak tahu kapan dan bagaimana sistem dajjal akan bergerak. Bagaimana kondisi negeri ini nanti. Jika nanti ada pilihan untuk hijrah, apakah kita akan hijrah?” Tanyaku.
“Jika memang ada pilihan ya kita hijrah ke tempat yang lebih baik tapi mudah-mudahan kondisinya tidak akan sampai chaos ya. Wallahua’lam” Jawabmu.
“Lagipula, kita kan sekarang bergabung dalam jamaah (Islam). Kita tak tahu peran apa yang kan diberikan jamaah nanti jika momen chaos itu datang. Bisa jadi peranmu nanti langsung turun ke medan jihad. Bisa juga kan nanti jihadmu di ranah lain untuk menyusun strategi. Apa pun yang terjadi nanti, aku optimis in syaa Allah. Yang paling kupikirkan jika saatnya nanti kita harus hijrah adalah bagaimana mengajak keluarga kita turut serta.” Sambungku.
“Nah itu dia yang juga kupikirkan.” Sahutmu.
“Kalau tanggunganku kan ibu dan bapak… makanya saat ini kita perlu mempersiapkan benar-benar. Bukan hanya membantu mereka (keluarga kita) dari segi finansial tapi juga memberi perhatian yang mentarbiyah mereka, membangun fikroh agar gerak kita ke satu tujuan yang sama sebagaimana yang kuyakini di dalam Islam salah satunya adalah konsistensi dalam kebenaran, yang itu membuat nyaman fitrah kita. Ini yang tidak dimiliki oleh mereka yang munafik. Mudah-mudahan dengan konsistensi ini, hati mereka jadi tergerak untuk ikut.” Harapku.
“Iya aamiin. Aku kalau ketemu orang kayak gitu (munafik) kadang ndoain ‘semoga nanti mereka ditemukan dengan kondisi yg membuat mereka harus memilih, murtad dari agama ini atau mati membela imannya’. Katamu.
“Ah kamu, kalau doa itu yang baik.. eh, tapi baik juga ya kalau sampai mereka mati dalam membela keimanan kan in syaa Allah syahid ya… Habis kesel juga ya sama orang begitu, jahilnya suka nggak ketulungan gitu lho.

Makanya yang perlu kita kuatkan juga dari sekarang itu ibadah kita kak. Shalat malam, interaksi dengan Qur’an, dhuha, puasa, sedekah, amalan sunah kita. Semoga dengan itu Allah tambah rizki kita. Bukan hanya dalam bentuk harta. Kalau shalat malam kan punya efek kesehatan, juga bisa menjernihkan pikiran. In syaa Allah waktu kita akan semakin berkah. Selain itu Allah akan karuniakan qaulan tsaqiila (perkataan berbobot) yang menyentuh hati. Mudah-mudahan kian menguatkan kita dalam dakwah ya.” Pungkasku.
Kau tersenyum. Makan malam pun usai seiring berakhirnya percakapan tersebut. Selanjutnya kita ke kamar untuk beristirahat. Setelah kita melafalkan ayat-ayatNya sambil mengusap-usap perutku (buah hati kita yang in syaa Allah kelak jadi pejuang di jalanNya), kantuk belum juga datang.
“Ngobrol apa lagi ya?” Tanyaku.
“Baca buku yuk!” Ajakmu seraya keluar kamar untuk mengambil buku.
“Stratifikasi sosial dan…”
“Ih enggak!” Sergahku tertawa menanggapi candamu.
Kau bawakan Kisah Para Nabi karya Imam Ibnu Katsir.

“Ni buku berat (masanya) amat yak.” Ujarmu. 
“Iya, makanya aku suka males mau baca. Kudu pake meja n duduk di kursi. Hehe alesan, bilang aja maunya dibacain.” 😋
Kau pun membacakan lanjutan bacaanmu sebelumnya tentang sosok khalilullah Ibrahim sambil mendiskusikan betapa inspiratifnya sosok bapak para nabi ini ditambah penggambaran di buku yang jelas berdasar hadits shahih. 
Matamu kian redup. Kita cukupkan malam ini dengan penuh syukur, muhasabah dan taubat.

Semoga nyawa yang diembuskan kembali esok hari menjadi energi positif tuk berjuang atau jika diangkat oleh Sang Empunya malam ini, kan mengakhiri segala keburukan dan menanti kebaikan.
Depok, 1 Desember 2016 pk 10.20
#goodtime

#7tahunperayaancinta (12 Rabiul Awwal 1431-1438 H)

#Uhibbukafillah Hudzaifah Hanum ❤

#35Wof1stpregnancy

Nikah itu (selewat 5 tahun)

Nikah itu ibadah.
Maka tengoklah bagaimana tilawah, tahajud, dhuha, shaum dan ibadah sunah lainnya setelah menikah.
Nikah itu sedekah.
Maka tengoklah, sudahkah kita lebih banyak memberi kepada yang membutuhkan, minimal secercah senyuman kepada tetangga.
Nikah itu berkarya.
Maka tengoklah seberapa besar akselerasi amal dan manfaat yang kita berikan  kepada sesama.
Nikah itu dakwah.
Maka tengoklah siapa yang dengan perantaraan keluarga kita, ia menjadi lebih dekat dengan Rabbnya.
Nikah itu ukhuwah.
Maka tengoklah kualitas hubungan kita dengan orang tua, saudara, keluarga, tetangga, sahabat.
Nikah itu bangun cinta.
Maka tengoklah, apakah kebersamaan kita kian menyemai ketaatan dan rasa syukur kepadaNya.
Nikah itu kita.
Aku dan kamu, selamanya, hingga surga… 🙂