Istri (Shalihah tapi) Manja? Siapa Takut!

Tak semua orang suka bunga. Ada yang menganggap bunga sebagai simbol kelemahan: pembuat lalai dan pembunuh keberanian. Mereka pun menjauhi bunga. Tapi, bunga tetap bunga. Harum. Indah. Menawan.

Sulit mengungkapkan kata yang pas buat suami yang bingung dengan manja sang isteri. Memang, manja buat sebagian suami bisa menyenangkan dan menyegarkan. Ada dunia lain yang ia masuki. Baru dan menarik. Sesuatu yang baru biasanya menyegarkan. Tapi, ada sebagian suami yang tak suka dengan manja. Ia menerjemahkan manja sebagai kekanak-kanakan, cengeng, kurang tegar, lemah pendirian, dan masih banyak sifat lain. Pokoknya, manja serupa dengan kelemahan. Dan Islam tidak suka dengan kelemahan. Dengan kata lain, Islam benci dengan kemanjaan. Benarkah?

Perasaan itulah yang saat ini menggoyang konsentrasi Gani. Satu tahun sudah bahtera rumah tangganya berlayar. Sebuah waktu perjalanan yang tergolong muda. Bahkan, belum apa-apa. Jangankan samudera, pantai tempat berlabuh pun masih jelas terlihat. Walau belum jauh, dan ombak belum menjadi gelombang besar, Gani tak mau hilang waspada. Pengalaman membuktikan, tidak sedikit kapal karam di tepian pantai. Bisa salah kemudi sehingga nabrak pantai berkarang, atau kapalnya sudah bocor. Sejauh itukah tafsiran Gani dengan manja isterinya? Sebenarnya, Gani bingung. Isterinyakah yang tergolong super manja. Atau, ia sendiri yang terlalu kaku dan tegas. Tak pernah terbayang Gani kalau ia akan beristeri seperti itu. Dalam bingkai pandangnya, semua akhwat berjilbab pasti tegas: bicara singkat dan padat, tak boros senyum, pantang merayu. Seperti itulah perkiraan Gani ketika meminang isterinya.

Tapi, dunia nyata ternyata berbeda dengan yang maya. Pandangan bisa mengira, tapi faktalah yang akhirnya bicara. Isteri Gani begitu lembut. Bahkan, teramat lembut. Sungguh di luar jangkauan perkiraan Gani. “Kang, pulangnya jangan malam-malam, ya. Nanti masuk angin. Hati-hati, ya, Yang!” Ungkapan itulah yang tiap hari mengantar kepergian Gani ke tempat kerja. Alunannya begitu merdu. Pernah juga Gani lembur kerja hingga malam. Selepas telepon kantor berdering, suara merdu sang isteri kembali menari-nari di telinga Gani. “Kang, pulangnya teu kenging malem-malem atuh. Teteh sepi, nih, Kang!” Dan suara senyum renyah pun sayup-sayup terdengar menutup pembicaraan.

Apa yang salah dari manja isteri Gani? Mungkin, sebagian suami sama sekali tidak menganggap itu masalah. Bahkan, mungkin terhibur. Cinta yang mulai lelah pun menjadi segar. Tapi, buat Gani lain. Manja isterinya membuat ia mengukur diri. Ada apa dengan saya? Seperti itulah keadaan Gani. Sering ia memuhasabah diri. Ini anugerah, atau bentuk teguran dari Allah. Memang, semasa lajang, Gani dikenal teman-temannya begitu tegas. Terutama, terhadap perempuan. Ia akan bicara seperlunya, tanpa basa-basi sedikit pun. Jangankan senyum, pandangan pun cuma sesekali mengarah ke lawan bicara. Ia tidak akan meladeni seorang perempuan yang bicara dengan penuh kreasi. Setiap kali itu menggejala, mulutnya selalu memotong, “Intinya?” Terus terang, Gani memang tidak suka dengan wanita banyak gaya, kaya basa-basi, dan banyak tingkah. Apalagi bermanja-manja. Nah, sifat itulah yang kini di hadapannya. Bagian dari hidupnya. Dan, mungkin akan menjadi pelengkap hidupnya. Haruskah ia nyatakan ketidaksukaannya dengan gamblang, apa adanya. Seperti yang pernah ia nyatakan ke rekan-rekan wanita di rohis dulu. “Bicara kamu mendayu-dayu amat, kayak sinden kurang sajen.” Seperti itukah teguran Gani ke isterinya? Atau, ia abaikan saja semua manja sang isteri, kemudian memperlihatkan sifat tegas. Toh, lambat laun isterinya akan sadar. Tapi? Gani mendapat pelajaran baru.

Ternyata, memimpin rumah tangga tak semudah memimpin rohis. Bahkan, senat sekali pun. Karena dalam rumah tangga bukan cuma pikiran dan ide yang mesti sama, tegangan rasa pun harus berimbang. Salah menerjemahkan rasa, hubungan bisa koslet berkepanjangan. Gani paham kalau tak mungkin menyetop manja isteri dengan kalimat tegas. Walaupun, itu sering ia lakukan semasa kuliah dulu. Kali ini persoalannya lain. Salah-salah bertindak, keharmonisan rumah tangga bisa membeku. Retak. Bahkan, pecah tak karuan. Mungkin, ada maksud baik di balik manja isteri Gani. Ia ingin mengungkapkan rasa cinta apa adanya. Dan cinta mampu menghias apa pun menjadi lebih indah. Ada hiasan-hiasan cinta isteri yang bisa dipahami suami. Tapi, tidak sedikit yang belum. Atau, bahkan tidak sama sekali.

Nah, adakah manja isteri Gani merupakan bentuk lain dari ungkapan hiasan cinta. Itulah yang mengganggu konsentrasi Gani. Kadang, bayang-bayang negatifnya mengatakan lain. Manja isteri bisa membuat suami takut mati: takut berjuang, putus semangat, dan lemah keberanian. Gimana rasanya kalau suami mau berjihad, sang isteri berpesan lembut, “Kang, barisnya jangan terlalu depan. Nanti kena peluru nyasar!”

Allah telah menciptakan pria dan wanita memang untuk berpasangan. Perbedaan dua jenis manusia itu akan menjadikan hidup lebih dinamis. Ada hal yang tidak mampu dilakukan pria, bisa ditangani wanita. Dan ada sifat-sifat wanita yang justru menjadi pelengkap dari kekosongan sifat pada pria. Mungkin, termasuk manja. Tapi, Islam juga menakar sesuatu dengan ukuran yang imbang dan wajar. Apa pun kalau berlebihan, akan merusak. Umar bin Khattab pernah menyuruh salah satu puteranya untuk menceraikan isteri karena teramat sangat manja. Umar khawatir, anaknya menjadi penakut dan malas berjihad. Dan, Gani memang mesti punya sikap. Mana manja yang wajar sebagai ungkapan hiasan cinta. Mana manja yang rawan melunturkan semangat perjuangan. Tentunya, sikap itu mengalir tenang melalui aliran cinta hidup berumah tangga.

Tak semua orang suka bunga. Tapi, dari bungalah buah terlahir. Dari bunga pula, taman menjadi indah, dan seribu satu karya seni tercipta.

(muhammadnu@eramuslim.com)

sumber: http://www.eramuslim.com/hikmah/jendela/manja-isteri.htm

Sedikit menanggapi cerita di atas (mulai deh ^^), setelah menikah, aku menyadari bahwa seorang istri, apalagi bagi seorang aktivis dakwah, mestilah jadi sosok yang mandiri. Misalnya, ketika kita sakit tetapi sang suami mendapat panggilan dakwah, sebagai istri perindu surga, kita relakanlah suami menjemput ridhoNya dengan berjihad di jalanNya atau ketika kita yang sedang dipanggil oleh dakwah di luar sana karena sadar akan peran kita dalam masyarakat, kita juga musti punya keberanian untuk meninggalkan kenyamanan di tengah keluarga -dengan izin sang suami tentunya- menuju lahan jihad walaupun tidak diantar-jemput (mangnya jelangkung? :p) oleh suami tetapi dengan kesadaran bahwa jihad utama kita adalah sebagai seorang istri dan ibu shalihah bagi keluarga tercinta.

Hanya saja, menjadi ukhtivis (klo akhtivis kan buat ikhwan ^^v) dakwah yang tangguh tak berarti melupakan kodrat kelembutan kita sebagai perempuan apalagi bagi seorang istri, ini bisa dibilang kudu harus! Karena lelaki yang sudah menikah itu punya tiga karakter dalam dirinya yakni sosok bocah yang tetap ingin dimanja dan bermain, sosok kebapakan yang ingin melindungi dan dihormati, juga sosok pria dewasa yang menginginkan wanita matang yang mampu memahami kebutuhan fisik dan psikisnya sehingga butuh keluwesan kita sebagai pasangan yang ceria, cerdas sekaligus patuh dan pengertian- semua itu terrangkum dalam satu kata- SHALIHAH.

Sifat manja (yang proporsional) tadi akan menjadi pupuk penyubur cinta dalam pernikahan, insya Allah jika kita bisa menempatkannya dengan tepat. Tidak minta  manja di sembarang situasi apalagi jika suami sedang kelelahan atau dalam urusan yang penting mendesak atau bahkan seperti kisah istri dari anak sang khalifah Umar yang sampai dicerai (na’udzubillah) tapiii…. ini bisa jadi senjata yang paling ampuh jika suami sedang ngambek lho! hehe… caranya? aku yakin masing-masing kita sudah punya trik yang paling jitu untuk menciptakan manja yang efektif bersama suami ;9 dan yang terpenting kita niatkan semua itu untuk beribadah kepadaNya. Insya Allah akan lahir rumah tangga yang mawaddah, penuh cinta dan kasih sayang karenaNya.

So, jadi istri (shalihah tapi) manja? Siapa takut!

Semangat Ramadhan!

‎10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah waktu yang mahal namun bisa menjadi begitu murah jika kita menghabiskannya dalam kelalaian. So, mari kita memberi dan memberi yang terbaik karena kita seolah melihatNya atau setidaknya kita yakin selalu bahwa Ia memperhatikan kita, adalah nikmat yang harus kita kejar! SEMANGKA! (-^________________^-)/ -Inspiredbyifthor210811-

Pemuda Islam? Bergerak!

17 bulan kurang beberapa hari bahtera kami berlayar. Warna-rasa membaur dengan indah menghadir syukur di tiap dayungnya. Segala puji bagi Rabb semesta alam yang telah mengabulkan keinginanku untuk tetap aktif berdakwah selain di keluarga setelah menikah ini dan 1 hal lagi yang kuanggap sebagai kenikmatan barakah bagi pernikahan ini adalah dakwah yang kami semai bersama di lingkungan tempat tinggal kami. Sungguh, “Nikmat Rabb-mu yang manakah yang sanggup engkau dustakan?”.

Sebulan belakangan ini, Kak Huzu (panggilanku akhir-akhir ini terhadap sosok pemimpin dalam keluarga kecil kami ^^) dan aku merevitalisasi kembali Ikatan Remaja Masjid Baitul Ihsan (IRMBI) di komplek PLN P3B ini.

Ini diawali oleh suatu siang di mana kami shalat Dzuhur bersama di masjid. Hari itu – aku lupa tepatnya – adalah hari kerja sehingga kami bertemu dengan teman-teman dari SMP maupun SMK Utama yang dibangun beberapa tahun yang lalu atas kerjasama LAZIS PLN P3B dengan beberapa lembaga keislaman lain bagi anak-anak berprestasi yang membutuhkan dukungan finansial. Memang, peraturan sekolah mengharuskan siswi sekolah ini mengenakan kerudung saat sekolah. Aku senang sekali berada di antara para pemudi yang akan membangun bangsa ke depan ini. Seusai shalat, aku menyapa dan mengajak berkenalan tiga orang di antara mereka yang berseragam SMP dan SMK. Aku bertanya mengenai kegiatan keislaman di sekolah mereka. Subhanallah, ternyata di luar mata pelajaran agama Islam, para remaja ini diberikan waktu khusus untuk menghafal Al-Qur’an. Hanya saja mereka belum mengenal aktivitas mentoring. Maka dari itu, kami ingin menularkan semangat berislam kepada teman-teman di sana. Caranya? Dengan merevitalisasi kembali remaja masjid supaya mereka dapat dilibatkan dalam kegiatan keislaman. Subhanallah, kami juga mendapat dukungan dari pasangan ikhwah muda yang adalah pegawai ayahku. Ayah juga suka memberikan advis atas aktivitas keislaman ini. Maka, Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga Allah ridho.

Alhamdulillahirabbil’alamiin, seruan kami mendapat respon positif dari para remaja berpotensi ini. Memang, di awal butuh pendekatan ekstra dan ini justru dimulai dari generasi pertama komplek ini (kami adalah generasi kedua). Suamiku yang Alhamdulillah menjadi anggota tetap shalat berjamaah sering berdiskusi dengan para bapak tentang berbagai hal termasuk aktivitas remaja komplek ini, apalagi momennya pas untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Sebagai awalan diundanglah para remaja putra untuk perkenalan sekaligus mewacanakan revitalisasi ini ba’da Subuh. Beberapa ikhwan sebayaku menyambut usulan itu maka pertemuan dilanjutkan dengan mengundang semua remaja komplek yang mayoritas adalah muslim. Rapat pertama diawali di hari Ahad di mana masjid memang menjadi tempat pilihan kami karena kami ingin menghidupkan masjid sebagaimana di zaman Rasulullah yang merupakan pusat berbagai aktivitas bagi kaum muslim saat itu.

Dus, beberapa remaja putra dan putri hadir dalam rapat awal itu. Kami coba mengungkapkan lagi tujuan dan urgensi merevitalisasi remaja masjid ini di samping memotivasi mereka sebagai generasi pemuda-pemudi Islam yang siap membangun bangsa. Salah kata-kata “sakti” adalah motto dari seorang tokoh muslim nasional yang menginspirasi yakni,

“Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid. Bergerak atau mati!”

(HOS Tjokroaminoto)

Dalam rapat itu dan rapat-rapat selanjutnya, kami kembali membentuk struktur yang baru dimulai dari pemilihan sang ketua kemudian korput karena ketua yang lama sudah hengkang ke Bandung (kuliah di UNPAD gitu) dan korputnya sudah menikah (uhuk2! ^^). Di sini harus benar-benar ditekankan bahwa ketua itu bukan tumbal yang nantinya ditinggal sendirian mengerjakan semuanya. So, karena musyawarah tidak menghasilkan mufakat (sepertinya peserta rapat memang nggak terbiasa syuro karena bawaannya bercanda melulu ^^), maka diptuskanlah kita memilih dengan voting dan hasilnya kira-kira >90% mengerucut pada satu nama dan apa boleh buat sang terpilih mesem-mesem aja. suamiku juga sampai diwejangi oleh ayah sang ketua terpilih karena sekarang beliau sudah kelas 3 SMA sehingga harus fokus ke akademis. “siap Pak!”. Korput pun terpilih dari hasil voting para peserta putrid dan terpilihlah seorang mahasiswi semester 2 lulusan pesantren yang memang terlihat punya bakat public speaking dan kepemimpinan yang baik. Barakallah…

Selanjutnya, kami ber-20-an, membahas program kerja selama setahun ke depan. Rencananya, divisi yang akan bekerja hanya 2 yakni (Pengembangan Sumber Daya Manusia) PSDM dan Pengabdian Masyarakat (Pengmas). PSDM bertugas mengembangkan potensi remaja masjid itu sendiri dengan mengadakan pelatihan kepemimpinan, public speaking, motivasi berprestasi, penulisan, hingga memperingati ulang tahun bersama dan yang terpenting adalah Kajian Keislaman (KK) “Kalau remaja masjid nggak mengkaji Islam sama aja boong” pungkas suamiku. Alhamdulillah mereka setuju dan pelaksanaannya akan dilakukan 2x per bulan. Insya Allah aku yang menjadi penanggung jawab akan KK ini sedangkan suamiku menjadi PJ dari Pengembangan Kompetensi dan Tulisan Kita. Divisi Pengmas yang memiliki koordinator sendiri menghadirkan proker seperti baksos, garage sale, kerja bakti, penyuluhan lingkungan, pengumpulan botol bekas dan sebagainya yang insya Allah bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Pemuda = kontributif kan? 😉

Alhamdulillah, sekarang ini sudah masuk pekan ke-4 berdirinya IRMBI kembali dan masing-masing divisi sedang membuat penjabaran atas proker masing-masing. So, doakan agar kami bisa komitmen dan mendapat ridho Allah SWT ya!

SEMANGat Karena Allah selalu!!! q(-^____________^-)p

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”

(HR. Thabrani dan Daruquthni dengan isnad shahih)

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).”

(HR. Thabrani dengan isnad hasan)

Sumber hadits: http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hadits-manusia-paling-bermanfaat.htm

Terima Kasihku Kuucapkan… =’)

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb yang menguasai jagad alam semesta hingga sanubari terdalam seorang manusia. Sesungguhnya segala sesuatu berasal dariNya dan akan kembali kepada-Nya. Shalawat serta salam bagi manusia paripurna, Rasulullah Muhammad saw serta keluarga, para sahabat dan generasi penerus risalahnya, yang melalui perjuangan dan pengorbanan mereka lah penulis dapat merasakan manisnya Islam dan iman serta dapat menyelesaikan karya akademis ini dengan penuh syukur kepada Nya.

Skripsi ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Kesejahteraan Sosial dari Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Penulisan skripsi ini berawal dari ketertarikan penulis terhadap modal yang terhimpun dari adanya interaksi sosial (kapital sosial) dalam  ranah ekologi sosialnya, khususnya peserta PPSDMS Nurul Fikri. Penulis berharap agar tulisan ini dapat menambah wawasan mengenai topik tersebut serta menjadi masukan yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas pembinaan di PPSDMS sendiri.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, maka skripsi ini tidak akan selesai dengan baik. Maka dari itu, penulis hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini hingga selesai baik secara langsung maupun tidak langsung:

  1. Mas Rissalwan Habdy Lubis. M.Si. selaku pembimbing skripsi yang meluangkan waktu, tenaga, pemikirannya bagi penulis dengan gaya khas yang santai namun berbobot. Terima kasih banyak Mas. Juga kepada Dra. Dwi Amalia Chandra Sekar M, Si. selaku penguji atas masukkannya yang bermanfaat bagi perbaikan karya tulis saya.
  2. Mas Priadi Permadi M. Si. selaku Pembimbing Akademis dan ayah bagi penulis di kampus, Mbak Dra. Fitriyah M. Si., dan Mbak Dra. Wisni Bantarti M. Kes. selaku pembimbing praktikum yang telah banyak membantu penulis baik secara akademis maupun personal. Prof. Isbandi Rukminto Adi, Ph.D,  Dra. Ety Rahayu, M.Si serta jajaran dosen dan staf administrasi Ilmu Kesejahteraan Sosial yang banyak memberikan ilmu pengetahuan serta dukungan moril. Terima kasih banyak atas pengajaran dan bimbingan yang telah diberikan. Semoga Allah SWT memberikan sebaik-baik balasan di dunia dan akhirat.
  3. Keluarga besar PPSDMS Nurul Fikri meliputi pengurus pusat yang profesional, supervisor asrama yang tangguh, serta peserta dan alumni yang solid dan dahsyat, khususnya para informan. Semoga visi besar PPSDMS dan Islam dapat terwujud melalui tangan-tangan kalian.
  4. Pemimpin dunia-akhirat (amiin), suami terkasih Kak Huzu, Hudzaifah Hanum yang begitu banyak memberi. Semoga Allah SWT memberkahi tiap tarikan nafasmu dan melayarkan bahtera kita hingga ke surgaNya. Ana uhibbuka fillah.
  5. Ayahku tercinta Sunardjito yang telah mengajarkan ananda arti sabar dan berkorban, ibunda tersayang Rian Sulistiowati yang mengasup makanan dan cemilan di tengah penyusunan skripsi ananda. Juga Sidtu Riyati dan Siddi Andy Hasyim Nuh yang menjadi tempat belajar tentang perjuangan. Doa dan kasih sayang yang tak putus dari kalian amat berharga bagi ananda. Peluk dan doa untuk kalian. Semoga Allah mengumpulkan kita kembali di surgaNya.
  6. Adik-adik yang berwarna-warni sebagai anugerah terindah lainnya dari Allah SWT. Dengan keceriaan, mereka mengajariku makna menjadi kakak: Muhammad Althaf Ntap, Ulyn Nuha Mbul, Hujjatul Balighah Iqoh, Shafwatuts Tsana Cuppa Kuppa Syuppa Syalala, Shafwatun Nawa Acha, dan Dedek Naila Natalia Aufar juga Rasha, Rashi dan Apin. Kangen kalian selalu. Semoga rahmat dan keselamatan senantiasa tercurah atas kalian.
  7. Keluarga besar Soenarwi, Abdul Manap, Kampung Melayu & Pedati. Meskipun tidak banyak berinteraksi tapi aku yakin kalian selalu mendoakan keberhasilanku.
  8. Keluarga bahagia Kessos 2007 dan keluarga besar Kessos: Agustin Setyowardani, Andi Fitri Damayanti, Annisah Anis, Aprilia Nabila Apri, Aprilia Nur Fitri Noni, Aprishi Alita Pishy, Budhi Dharma, Chyntia Apsari, Dewi Evarini, Devi Yulianto, Dinna Nocharyta, Dwia Safitri Efit, Faisal Ical Herina Chorni, Hosea Obricanto, Lendi Andita, Maya Ryandita, Meidyta, Muhammad Iqbal, Mujie Abadi, Mutiara Nurul Aini Aya, Nurul Fajar, Nurul Hikmah, Nur Rahma Hanifa, Rhany Agustine, Taufika Diany Ikha, Theo Fransesca, Tsania, Tyas Amalia, Windy Trihapsari, Yayuk Mulyati. Sebenarnya saya nggak pernah ingat jumlah kita ada berapa tapi saya yakin bahwa kita satu untuk help people to help themeselve J.
  9. Keluarga kecil di Cilandak yang penuh kehangatan, AIR dan ROHIS 34 yang terus mengembangkan sayapnya dengan komitmen, Akhwat Ceria (ACER) yang “menjaga” dalam cerianya, keluarga besar FSI dan ARC yang senantisa melakukan perubahan untuk membangun peradaban Islam, CERDAS, panitia KADAIS 2008 kalian takkan terlupa, Usroh yang tak terdefinisi namun pernuh arti. Binaan 2008 di FISIP yang memiliki ruang tersendiri di hati. Fathan Mubiina, Barisan Muslimah serta rekan-rekan dakwah kampus yang berjuang tanpa kenal lelah dan menyerah. Peer Counselor UI, BKM UI yang telah memberikan tempat nyaman dan advis berharga selama pengerjaan skripsi (maaf ya karena lupa kucantumkan… T-T). Bunda, ummi, mama, di Ummi’s Corner yang luar biasa. FLOEM, Animerz, Big Family yang selalu membangkitkan kenangan yang ceria, Remaja Komplek PLN P3B dan Masjid Baitul Ihsan yang sedang bangkit menuju kemenangan. Insya Allah kan kita lanjutkan kisah kita di surgaNya kelak (amiin).

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”

(Al-Qur’an Surat Al-Ahzab: 70-71)

Depok, 20 Juni 2011

Penulis

-NE-

Memahami Psikologi Suami-Istri

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

(QS Ar-Ruum: 21)

Maha benar Allah dengan segala firmanNya dan Maha Suci Ia yang telah mengaruniakan kecenderungan, ketentraman serta kasih sayang kepada pasangan hidup kita. Lantas, untuk mensyukurinya, hendaklah kita membangun cinta dengan kerja-kerja ikhlas karenaNya.

Salah satu kerja cinta adalah menjaga kelancaran komunikasi dengan pasangan, tidak memandang apakah usia pernikahan kita 1, 5, 10, 20 atau 50 tahun, tentunya komunikasi akan menjadi pupuk yang senantiasa menyuburkan cinta bagaimana pun bentuknya. Di sini, saya akan mengutip tulisan Dr. Thariq Kamal An-Nu’aimi yang berjudul Psikologi Suami-Istri: Memahami Perbedaan Tabiat dan Karakter Seksis Laki-laki dan Perempuan Demi Membangun Keharmonisan Hidup Berkeluarga.*

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah fitrah yang kodrati maka masing-masing hendaknya saling mengerti kekhasan pasangannya. Perbedaan yang ada bukan dipelajari hanya untuk mengetahui kelemahan pasangan sehingga kita berhak menghakiminya atau mendiamkannya begitu saja tanpa upaya memperbaiki. Akan tetapi, masing-masing memahami kelebihan dan kekhasan pasangannya agar dapat saling bersinergi dan melahirkan sakinah, mawaddah wa rahmah. Dengan begitu, insya Allah dapat dibangun hubungan yang langgeng dan diridhoi olehNya. 

Tulisan ini sendiri akan dibagi perbab agar mudah untuk membaca, menghayati dan megamalkannya, insya Allah.

Perbedaan Pokok antara Laki-laki dan Perempuan

Perbedaan yang nampak kasat mata adalah perbedaan fiisik yang sudah jelas seperti organ reproduksi. Kemudian kulit laki-laki lebih tebal dari kulit perempuan maka kulit perempuan lebih cepat keriput. Jika saya hubungkan dengan aspek psikis maka wajar jika perempuan lebih memperhatikan kecantikannya, akan tetapi tidak lantas para kaum hawa ini memberikan perhatian yang berlebihan pada fisiknya sehingga melupakan kecantikan yang lebih hakiki yakni kecantikan jiwanya. Kemudian pita suara perempuan lebih pendek dari pita suara laki-laki yang menyebabkan suara laki-laki lebih keras dan dalam dari suara perempuan. Darah perempuan dan laki-laki pun berbeda di mana darah laki-laki lebih tebal daripada darah perempuan dan jumlah butir darah merah laki-laki lebih banyak dari darah perempuan. Perbedaan itu mencapai 20% yang berarti laki-laki menghasilkan oksigen lebih banyak daripada perempuan dan laki-laki bernafas lebih dalam daripada perempuan sedangkan perempuan lebih besar frekuensi nafasnya.

Perbedan lainnya adalah susunan tulang. Tulang laki-laki ukurannya lebih besar dari tulang perempuan juga berbeda susunannya sehingga membuat cara jalannya berbeda dan besar langkahnya pun berbeda. Maka dari itu, wajar jika perempuan berjalan lebih lama dari laki-laki karena untuk mengimbangi langkah laki-laki, perempuan mengeluarkan tenaga lebih banyak. Ini juga akan menguji kesabaran suami ketika berjalan bersama istirnya ;). Tulang pinggul perempuan yang lebar juga sudah didesain oleh Allah SWT untuk mempermudahnya melahirkan anak.

Perbedaan lainnya adalah otot pada tubuh laki-laki perimbangannya lebih banyak daripada kandungan lemaknya sehingga laki-laki lebih mudah menurunkan berat badannya daripada perempuan atau jika makan banya, laki-laki tidak begitu cepat gemuk meski berat badannya bertambah. Akan tetapi, lapisan lemak yang berada di bawah kulit perempuan memiliki kelebihan dapat menjaga kondisi tubuh lebih baik saat udara dingin dibandingkan dengan laki-laki.

Struktur otak perempuan pun berbeda dengan laki-laki. Louann Brizendine dalam bukunya yang berjudul The Female Brain hal.32 menjelaskan bahwa ketika masih berada di dalam rahim ibu, suatu gelombang besar testosteron yang dimulai pada minggu ke-8 akan mengubah otak uniseks ini menjadi otak laki-laki dengan mematikan sel-sel tertentu di pusat komunikasi dan menumbuhkan lebih banyak sel di pusat seks dan agresi. Jika gelombang testosteron ini tidak terjadi, otak perempuan ini terus tumbuh tanpa hambatan. Sel-sel otak janin bayi perempuan ini menumbuhkan lebih banyak lagi koneksi di pusat-pusat komunikasi serta area-area yang memproses emosi. Maka dari itu, perempuan akan lebih suka berbicara dan mampu memahami emosi seseorang dari bahasa nonverbalnya seperti ekspresi wajah, intonasi suara sejak ia masih kecil dibandingkan dengan laki-laki. Akan tetapi hemat saya, ini bukan harga mati karena setiap orang unik dan dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti pola asuh keluarga serta lingkungannya sehingga laki-laki masih bisa berubah dengan belajar memahami lingkungannya, pun perempuan yang satu dengan yang lain berbeda-beda.

Oleh karena itu, tidak perlu minder atau membangga-banggakan diri dengan karunia yang Allah berikan kepada diri dan pasangan. Senantiasalah bersyukur atas keindahan tubuh yang Allah berikan secara cuma-cuma ini 🙂 

Perbedaan Psikologis Secara Umum

Perbedaan ini yang akan dibahas lebih mendalam dalam buku Psikologi Suami-Istri (PSI). Sebagai contoh, perempuan sering dikatakan lebih berperasaan dari laki-laki, tabiat perempuan untuk mengeratkan hubungan dengan orang lain lebih besar dari laki-laki, responnya ketika menghadapi kesulitan dan kelelahan berbeda dengan laki-laki. Sebagain orang mengatakan bahwa perbedaan ini disebabkan oleh pola asuh orang tua padahal ini kembali ke perbedaan struktur fisiologis seperti yang dijelaskan sebelumnya di samping faktor pola asuh orang tua, pendidikan, serta masyarakat yang mengelilinginya. Jadi tidak dibenarkan jika dikatakan bahwa laki-laki hanya memiliki sifat kelaki-lakian saja begitu pula sebaliknya.

Kembali kepada perbedaan psikologis umum. Laki-laki memiliki cara berfikir memusat sehingga orientasinya pada pekerjaan fokus dan besar terhadap diri sendiri bahkan bisa menjadi egois. Sedangkan perempuan mempunyai perhatian yang besar terhadap orang lain melebihi dirinya sendiri bahkan ekstremnya sampai mengabaikannya dan sulit untuk mengemukakan kebutuhan-kebutuhan pribadinya. Maka dari itu, masing-masing harus memahami dan berusaha menyeimbangkan karakter yang ada dalam diri agar terjadi hubungan yang harmonis. Maka dari itu pula, munculnya rasa saling membutuhkan dan saling melengkapi antara keduanya sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ruum: 21.

Sebab, Pemecahannya  serta Nasihat Penting

Pernikahan dalam pengertian ilmu sosial adalah ikatan antara laki-laki dan perempuan dengan perjanjian yang bersifat sakral yang membolehkan keduanya hidup bersama di bawah satu atap. Berarti pernikahan adalah perkumpulan yang menggabungkan dua orang yang berbeda. Kedua orang tersebut tidur dan bangun bersama, makan dan minum bersama, berfikir, berencana, dan mengambil keputusan penting secara bersama-sama yang juga berkaitan langsung dengan perjalanan hidup mereka untuk masa depannya.

Lantas, apakah mudah antara kedua makhluk ini saling memahami dan bersepakat antara satu dengan lainnya? Apakah keduanya berfikir dengan bentuk dan cara yang sama? serta menyikapi masalah dengan cara yang sama? Mari kita renungi sabda Rasulullah saw berikut,

Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda,“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186)

atau

“Nasihatilah perempuan dengan cara yang baik! Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, sementara yang paling bengkok itu bagian teratasnya. Jika engkau bersikeras meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika engkau membiarkannya, ia akan bengkok selamanya. Maka nasihatilah perempuan dengan cara yang baik!” (HR Bukhari, Muslim, Ibnu Abi Syaibah, dan Baihaqi)

Bagaimana kita menyikapi hadits ini? Apa yang sebenarnya Rasulullah maksud dengan hadits ini? Rasulullah saw seperti kita ketahui adalah insan terbaik di dunia ini, yang salah satu sifatnya adalah fatanah atau cerdas sehingga tak mungkin haditsnya mendiskreditkan suatu golongan atau menurut kehendak nafsunya sendiri. Ada pun ketidak pahaman kita lebih disebabkan karena kita tidak memahami sumbernya dengan benar seperti memahami asbaabul wurud (sebab musabab hadits) juga kaidah-kaidah bahasa Arab serta kelurusan niat kita dalam memahaminya. Tanpa bermaksud memperpanjang pembahasan, arti dari hadits di atas sesungguhnya adalah bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan yang esensial dalam cara berfikir sehingga perbuatan dan pemahaman pada suatu peristiwa, pandangan terhadap kehidupan dan dalam menjalaninya akan berbeda antara keduanya.

Jelaslah bahwa perbedaan itu merupakan hal yang esensial sehingga masing-masing pihak tidak semestinya memaksakan sudut pandanganya yang mengakibatkan tegangnya hubungan suci antara suami-istri. Bersikap terbuka dengan perbedaan ini akan mempermudah kita untuk belajar cara merespon dengan tepat setiap emosi dan perilaku yang ditunjukkan oleh pasangan.

Semoga Allah mengaruniai kita dan pasangan kita hati yang lembut, perangai yang santun, serta niat yang lurus karenaNya dalam mendayung bahtera pernikahan kita menyusuri lautan kehidupan hingga kelak jumpa di jannahNya… =) 

to be continued…

 

*Buku ini cocok sekali sebagai kado pernikahan (promosi mode on 😉 )

Sumber

An-Nu’aimi, Thariq Kamal. (2009). Psikologi Suami-Istri: Memahami Perbedaan Tabiat dan Karakter Seksis Laki-laki dan Perempuan Demi Membangun Keharmonisan Hidup Berkeluarga. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Brizendine, Louann. (2006). The Female Brain. Jakarta: Ufuk Press.