KonMari 

Saya hanya punya waktu kira-kira 10 menit sebelum batas waktu pengerjaan kuis berakhir (dan ternyara yang terakhir diminta buat tulisan 🙈)
Berkonmari bagi saya adalah salah satu revolusi hidup karena,

1. Saya baru punya anak (15mo) setelah 6 tahun pernikahan.

2. Saya pulang kembali ke rumah orangtua.

3. Kondisi ibu saya.
Ini menjadikan berbenah bukan hal sederhana bagi saya apalagi saya tipe yang sayang membuang barang jika sekiranya nanti bisa dimanfaatkan (yang akhirnya jadi nanti2 terus 😂) karena idealisme saya untuk tidak menambah beban bumi yang semakin tua ini 😌.
Namun, semuanya memang berawal dari mindset. Ketika tuntas berbenah secara fisik maupun psikis maka in syaa Allah akan lebih produktif dan fokus mencapai tujuan karena berbenah hanya sarana dan dunia jelaslah fana.
Mindset yang saya pegang erat sampai sekarang adalah kelak tiap harta kita yang halal akan dihisab sehingga saya tidak ingin menghamburkan uang dan waktu demi sesuatu yang tak hakiki. Saya pun ingin berbakti pada orangtua saya yang salah satunya saya wujudkan dengan berbenah.
Lebih jauh, saya ingin berkontribusi bagi negeri dan ummat. Semoga dengan tuntas menata diri, saya bisa turut menata negeri tercinta ini 🇮🇩🧡.
Arigatou gozaimashita Niknik Sensei dan tim yang sudah membawa gerakan hebat ini ke tanah air kita… 😊
#quiz3 #shokyuuclass #konmarimethod #konmariindonesia

Advertisements
Posted in Uncategorized

​Selezat Opor

Setelah ijab qabul terucap, maka resmilah saya menjadi bagian dari Bani Hasyim. Menjadi salah satu dari anak Sidtu dan Sidi. Ya, saya tidak pernah dianggap sebagai menantu mereka, akan tetapi anak. What an exciting! Ini menyentuh sekali di saat banyak isu negatif seputar keharmonisan antara menantu dan mertua. Begitu pun dengan ipar-ipar saya. Saya yang anak semata jengkol, kata suami, langsung dapat enam orang adik (sekarang delapan) yang ulala uyee, ipar rasa saudara 😋. Eh tapi bukan itu deng yang mau saya ceritain 😁.

Banyak pelajaran berharga yang saya dapat dari sosok Sidtu dan Siddi. Sebagai orangtua, saudara, pendidik, juga anggota masyarakat. Selalu ada cerita menarik jika saya meluangkan diri berbincang dengan mereka. Salah satunya saya saksikan sendiri sebagai anak mereka.
Selama bertahun-tahun, Sidtu dan Sidi bertetanggaan dengan sebuah keluarga Nasrani. Rumah mereka berseberangan persis.  Kami biasa menyapa mereka dengan panggilan Mamak Joshua dan Bapak Joshua (Joshua nama anak pertama mereka. Bukan nama sebenarnya). Sidtu dan Sidi benar-benar menunaikan hak sebagai tetangga. Kadang jika Sidi memasak lebih (Sidi adalah koki di rumah. Masakannya suka bikin nagih 😋), Sidtu akan mengirimkannya ke rumah Mamak Joshua. Begitu pun jika hari Natal, Mamak suka mengirimkan opor ayam ke rumah. Jangan ditanya bagaimana kedekatan Joshua dan adik-adiknya, Kevin dan Agnes, dengan keluarga kami. Agnes yang saat itu masih balita, senang sekali bermain di rumah. Ia dekat dengan adik-adik kami. Tak jarang juga Agnes tidur di rumah. Bahkan, saat Agnes sakit, pernah dirawat di rumah kami karena Mamak harus berangkat kerja ke pasar. Agnes pun sering diajak ke Jakarta saat lebaran. Lain waktu, jika antara Mamak dan Bapak sedang ada masalah, Agnes yang tengah menangis diungsikan ke rumah. Sidtu juga kerap menjadi tempat mencurahkan perasaan Mamak soal rumah tangga. Hingga saat pernikahan saya pun, mereka turut menghadiri akad nikah kami di masjid.
Lantas, apakah perbedaan keyakinan ini mengganggu hubungan kami? Tentu tidak. Kami yakin bahwa keragaman (pluralitas) adalah keniscayaan. Entitas yang harus diakui keberadaannya. Lalu bagaimana tentang menjaga keharmonisan? Toleransi? Coba tengok sejarah bagaimana Rasulullah Muhammad saw dalam menebarkan risalahNya. Sekali pun sudah membebaskan suatu wilayah, beliau juga sahabat dan para pemimpin setelahnya mengizinkan keyakinan beragama penduduk setempat tetap demikian seperti yang dialami penduduk Kristen Koptik saat pembebasan Mesir oleh Amr bin Ash. Piagam Madinah pun menjadi bukti bahwa perjanjian dalam Islam sungguh memuliakan kemanusiaan.
Alangkah menyejukkan kaidah bertoleransi yang sudah diwariskan belasan abad silam, “bagiku agamaku dan bagimu agamamu” (al-kafirun: 6), “tak ada paksaan untuk berislam” (al baqarah: 256), “jangan memaki sesembahan mereka selain Allah” (al-an’am:108), “berkata yang baik atau diam” (HR Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47). Ini mencerahkan pandangan kita akan keragaman sekaligus merawat fitrah nurani dan akal kita sebagai manusia.
Setiap agama punya nilai fundamental yang diyakini kebenarannya oleh penganutnya meski berbeda antara satu agama dengan yang lain. Kita perlu berbijak diri untuk menghargai perbedaan ini. Bertoleransi. Mengatakan bahwa semua agama sama (pluralisme) padahal sejatinya berbeda adalah tindakan mencederai keyakinan juga toleransi itu sendiri. Apalagi jika sampai mengolok agama lain (yang kita tak ada ilmu atas hal tersebut) di ranah publik. Sebaliknya, menyebut saudara-saudara kita yang berusaha menjaga keyakinannya dengan sebutan “kurang piknik, nyinyir, intoleran, dsb” juga adalah sikap yang ah, ayolah kita bisa kok memahami sudut pandang mereka secara positif. Kita perlu lebih sering berkaca dari sejarah agar kearifan yang sudah dibangun berabad lalu tak luntur  oleh kedamaian semu atas nama toleransi yang tidak pada tempatnya.
Dengan begitu akan kita insyafi bahwa dalam bertoleransi, meskipun kebaikan bersifat universal, ada tataran yang tak boleh kita masuki terlalu jauh. Cukuplah momen natal dan lebaran menjadi bukti bahwa opor ayam sama lezatnya saat disantap bersama Joshua, Kevin, dan Agnes 😊.

​Surga Tanpa Gawai

“Hanya mampir sebentar kok. Sudah lama mau ngantar kue, baru sempat sekarang.”
Ujar seorang saudari yang sudah bertahun-tahun tidak jumpa. Hanya sesekali menyapa di medsos. Tidak menyangka kehadirannya begitu nyata, tiba-tiba dan singkat. Namun, amat membekas. 
Di waktu yang singkat itu ia sempat mendengarkan cerita tentang Nuun yang baru sembuh. Menanyakan kabar keluarga, mendoakan, juga menyisipkan canda khasnya. Ah iya semendalam itu arti kunjunganmu Kak.
Semoga Allah senantiasa memberkahimu sekeluarga yang dengan ringannya melangkah tuk menyambung silaturahim dan memberi hadiah. *1
Eh, tapi kenapa judulnya begitu ya? 🤔 Hehe
Jadi sebenarnya sempat ada lintasan pikiran begini, “Nanti di surga masih ada gawai nggak ya? Kita bisa minta apa saja kan? *2 Aku ingin surga tanpa gawai. Kalau mau ketemu siapa-siapa bisa langsung ketemu. Tinggal pilih tempat PW buat ketemuan (di surga mana ada yang ga enak cobaaa). Nggak perlu lagi punya kamera canggih buat wefie. Untuk apa coba kalau kebahagiaan bertemu yang terkasih bisa dengan mudah diakses. Jadi fokus menikmati kebersamaan tanpa ribet mematut diri demi tampil kece di laman medsos ~padahal pas ketemuan sibuk sama gawai masing-masing~ 😛.
Lalu, yakin masih perlu gawai buat dengerin lagu, buka YouTube, main game online atau belanja online 🤣 sedangkan surga sudah menghampar dengan segala kelezatannya tak terbayangkan akal manusia. Pun, perlukah menunjukkan eksistensi, padahal kita telah mencapai radhiallahu anhu/a. *3  Apalagi buat transfer tagihan, ngedit kerjaan, nyatet pengeluaran dan tetek bengek lainnya yang ya kali bakal masih kepikiran entar 😝.
Ah, bermimpi itu indah ya… Dan harus serius dikejar agar jadi kenyataan kelak. Tinggal nggarap tugas kita tuk beribadah dan ngejar ridhoNya kan? Sembari memakmurkan bumi dengan namaNya 😊. *4
“Nesya lama nggak main FB lagi ya? Jarang lihat statusnya.”
“Nggak Kak, mau menepi. Inginnya bisa silaturahim langsung kayak gini. 😊”
(Ayok ayaaah kita realisasikan daftar kunjungan kita ke rumah saudara2 kita 😃

Ada yang mau dimasukkan ke daftar? 😉) 

#nulislagi

#nuliskilat(selagibocahbobo)

#pemanasanIIP

#nyambungsilaturahim

#sehidupsesurga

#asyiknyangejarsurgaramerame
*1 Aisyah radhiyallahu ‘anha menyatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya.”

(HR. Bukhari, no. 2585)
Sumber : https://rumaysho.com/15422-21-faedah-tentang-hadiah.html
*2 “dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya” 

(QS. Az-Zukhruf: 71)
“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya”

(QS. Qaaf: 35)
https://muslim.or.id/17201-mengenal-pasar-di-surga.html
*3. “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)
*4. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” 

(QS. Adz Dzariyat: 56)
Sumber : https://rumaysho.com/342-untuk-apa-kita-diciptakan-di-dunia-ini.html
“Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS Al an’am: 165)
“Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.”

(HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sumber : https://rumaysho.com/3099-akibat-mencari-ridho-manusia.html

Let It Go

Don´t be embarrassed, don´t be afraid
Don´t let your dreams slip away
It’s determination and using your gift
Everybody has a gift
Never give up, never let it die
Trust your instincts and most importantly
You´ve got nothing to lose
So just go for it

(It’s Amazing​ – Jem)

Lagu ini kurang lebih merepresentasikan rasa yang menggantung 1 tahun belakangan. Di tengah upaya memutar konsep “zona nyaman” dari yang terbiasa nyaman dengan kedinamisan aktivitas luar rumah menjadi nyaman (membangun surga) di rumah. 

Menghidupkan mimpi tak boleh henti sembari menjalani kodrat asasi. Mimpi yang harus terus hidup mendampingi cita akan peradaban rabbani kelak. Mimpi yang harus dirawat bersama “tunas mungil” yang boleh jadi suatu saat menjadi partner terbaik tuk mewujudkan sang mimpi.

Bersama Institut Ibu Profesional (IIP) aku seperti lepas landas, mengepakkan sayap tuk meraih sang mimpi. Bersama para pemimpi yang gairah belajarnya sungguh luar biasa. Semoga sang mimpi melangit bersama doa hingga siap membumi dan menjadi rahmat bagi semesta.

Terima kasih IIP yang telah memberi ruang untuk belajar, beradab, bermimpi, berdaya, berkarya, berbagi. Mudah2an bisa melanjutkan ke jenjang-jenjang berikutnya dengan syukur nan semangat!

Bismillaahirrahmaanirrahiim 😊

​Setelah Delapan Tahun(12 Rabiul Awwal 1431-1439)

Masjid ini adalah saksinya. Saat “mitsaaqan ghalizha” itu terucap. Hari ini, delapan tahun yang lalu. Gerimis pun turun membasahi bumi. Sesaat setelah terik matahari menyinari Jumat yang istimewa itu. Berharap itu pertanda awal keberkahan bagi kami.
Delapan tahun menjadi jalan yang panjang. Jalan pembelajaran bagi kami. Agar konsisten dalam taqwa. Bahagia dan duka hanya warna kehidupan. Terkadang muncul rasa tidak suka. Namun kasih sayang lebih memenuhi jiwa. Juga rindu yang memberi nuansa. 
Jangan letih saling menasihati. Seiring waktu yang berganti. Sebagai amanah yang harus dijaga. Juga sabar dan syukur yang dipupuk senantiasa. Dalam kebenaran dan kebaikan, semoga kita dapat terus bersama. Lelah akan hilang. Amal shalih akan kekal.

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Q.S. Ath-Thuur: 21)

-HH-