Menjumpa CintaNya

Menghitung hari

Detik demi detik
Menunggu itu kan menjemukan
(Menghitung Hari 2)

Seolah menjadi soundtrack hidup saat pernikahan menginjak tahun ketiga dan seterusnya. Upaya pertama kali saat pernikahan baru seumur jagung (belum setahun). Sempat diomelin dokternya lantaran tegang saat hendak diperiksa dalam,
“Wah ini sih belum siap jadi ibu kayaknya”. Aku hanya tertawa kecut sambil membesarkan hati sendiri (dalam hati gitu), ‘Ya, gue baru 21 tahun dan masih kuliah gitu. Obrolan n aktivitas sehari-hari apa lagi kalau bukan urusan kampus, organisasi, n paling jadi pendengar buat muda-mudi yang curhat soal jodoh.’ ‪#‎eaaa‬
Sejak saat itu aku semakin memantapkan hati bahwa wanita itu harus semakin kuat. Bukan hanya mentalnya yang kudu tahan banting dengan berbagai kondisi psikologis-domestik-pendidikan-sosial-ekonomi-politik-kultural yang menjelma ujian hidup, tetapi juga secara fisik harus siap “diapain aja” tu onderdil dalem demi mempersiapkan tempat terlayak bagi ciptaanNya yang paling sempurna, menggenapi tiap ikatan bernama pernikahan.

“Udah isi belum?”, tanya mereka.
“Belum ni, doakan ya…” kalau lagi shalihah atau,
“Udah, isi nasi.” Nyengir terpaksa.
“Udah periksa?”, tanya yang lain.
“Udah, beberapa kali. Suami juga. Memang, ada sesuatu yang perlu penanganan tapi dokter bilang masih bisa hamil kok.” Senyum menghibur diri.
“Sabar ya, belum dapat kepercayaanNya berarti.”,
“Iya ni, doakan ya…” luguku saat itu. Belakangan baru mendapat pencerahan yang nyata bahwa di luar sana banyak oknum esek-esek yang begitu mudah hamil tanpa usaha keras (pun tanpa keinginan sama sekali) lalu aborsi begitu aja atau membuang anaknya entah di mana atau jadi pelaku KDRT pada anaknya karena nikah tanpa siap jadi orangtua. Apa berarti mereka lebih dipercaya ya? Kalau begitu kaidahnya, Tuhan nggak adil dong, tapi mustahil Ia seperti itu. Berarti sikap kita yang mesti lebih bijak mengolah hikmah atas kehidupan apalagi sampai berani mengomentari orang lain yang pakaiannya saja belum tentu muat kita pakai, ya to?

Aku Tak Sendiri

Kali lain, jumpa teman-teman seperjuangan yang ikhtiar dan kesabarannya menanti buah hati sudah jauh lebih dariku. Ah, sungguh tak sampai hati bersangka bahwa mereka belum layak mendapat kepercayaanNya. Mereka adalah sosok-sosok insan yang taat kepadaNya, nyata karyanya, besar kontribusinya bagi sesama, dan yang mengharukan adalah interaksinya dengan anak-anak yang akan membuat kita berpikir, ‘Alangkah beruntungnya sang buah hati dalam buaian mereka kelak’.
Ini benar-benar tak semudah memilih pakaian yang mau dipakai pas kondangan meski rada ribet juga sih, eh? Ini tentang kuasaNya yang menetapi tiap pilihan hidup manusia. Meski kita dikaruniai daya untuk memilih, tetaplah takdirNya yang bertahta. Rencana kita ada dalam rencanaNya. Maka begitu pulalah kita perlu bersikap arif kepada mereka yang belum bertemu jodohnya, yang punya banyak anak dan nampak kelelahan, yang lahiran nggak bisa normal atau yang ASInya nggak keluar, yang anaknya sakit-sakitan atau nggak segemuk anak seusianya, yang tengah berjuang menerima penyakitnya, yang rizkinya tak kunjung memenuhi hidupnya dan keluarga, yang memiliki masalah pelik dalam hidupnya dan berbagai tantangan kehidupan. Semua sungguh sudah tertulis pada lembaran yang telah mengering tintanya. Sebagai ketetapanNya. HakNya.

Anugerah Terindah

Puji syukur selalu karena di lingkaran terkasih ada dua pasang orangtua yang hampir tak pernah menuntut kecuali sesekali menasihati, turut mengupayakan jalan atau mengungkap rindu pada cucu pertama (aku anak tunggal dan suami anak pertama) tanpa bermaksud memaksa. Ah, sungguh tak seberapa perasaanku saat datang kabar bahagia dari teman-teman seangkatan yang belakangan menikah, adik-adik tingkat, bahkan iparku yang menikah di tahun keempat pernikahanku.
Ah, inilah yang kuinsyafi bahwa baktiku terhadap mereka masihlah perlu diasah.
Rabbighfirli wali wali dayya warhamhuma kamaa rabbayani shaghiiraa

Pernah, sang musuh abadi manusia mengembus rasa berjuang sendiri, bertepuk sebelah tangan, tapi siapa yang tahu dalamnya hati? Hingga suatu saat terlontar dari bibir imamku,
“Aku juga kesal saat orang selalu bertanya tetapi aku berusaha nampak baik-baik saja, santai, supaya mereka nggak menekanmu dan membuatmu stress.”
“Ney, meski akhirnya Allah nggak ngasih kita keturunan, aku tetap ingin kita berdua sampai ke surgaNya.” Kau katakan dengan penuh keyakinan. Betapa romantis meski aku nggak mengucapkannya saat itu karena kamu pasti akan menyangkal dan bilang begini dengan muka sok iye a la bercanda berat,
‘Kamu ini inferiority complex atas identitas muslim terhadap kebudayaan Roma’
Ah, lagi-lagi menginsyafi bahwa taatku kepadamu masih perlu kutambal sulam sayang. Sungguh, kini semakin ingin kuraih ridhamu, Ibu dan Bapak, Sidtu dan Siddi. Setelah dulu sempat beranggapan lebih baik menyibukkan diri bagi sesama agar menjadi amal yang layak menjadi bekalku menghadapNya kelak, ketimbang meratapi nasib seolah diri yang paling merana di bumi. Kusadari bahwa keluarga adalah anugerah terindah yang paling berhak kuberi bakti setelah Sang Maha dan utusanNya yang mulia.

Sebuah Jawaban

6 tahun bahtera kami berlayar. Sungguh yang terjadi jauh lebih uwow dari yang dapat dilukis kata. Tempaan-tempaan iman tlah membuatku tak mudah mengibai diri. Sampai pada satu titik di mana pencarian jawaban akan satu dinamika hidup menemukan sendiri kepingan yang lama dicari. Doa yang terjawab bukanlah apa yang sedang dipinta, melainkan apa yang sudah lama diikhlas-pasrahkan. Hingga dua garis sejajar itu hanya membuatku senyum tersipu sambil menertawai diri karena pertama kalinya muncul pada instrumen yang sudah kadaluarsa tiga tahun, haha. Mencoba kedua kalinya tanpa gejolak berlebih. Hanya harap yang berselimut doa. Alhamdulillah untuk ke sekian kalinya Ia memberi lebih indah dari yang kupinta. Tanpa euforia dan kadang masih rasa tak percaya. Sampai ibu melihat sendiri denyut jantungmu. Sungguh menakjubkan penciptaan manusia dalam kuasaNya.
“Selamat datang Nak dalam kehidupan ibu dan ayah.”
Meski menurut ukuran manusia ini bukan kondisi terbaik kami, tetapi Ia yang paling tahu dan Maha Tahu yang paling baik dan tepat bagi hambaNya.
“Mari Nak, kita belajar bersama menjiwai kehidupan, perjuangan. Ajari ibu untuk selalu bersyukur, bersabar, bahagia ya Nak, hingga kelak kita saling menatap dan memahami tanpa banyak kata. Hingga kelak kita bersama menjumpai Yang Tercinta.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang sanggup engkau dustakan?

Rumahku surgaku,
1Juni 2016 03.30
Pekan ke-8 bersama yang dinanti

dedek mudghah 7w5d

 

Advertisements
Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s