Izinkan Bapak Mencoba (Catatan Sederhana Buat Ananda)

siluet ayah

Sudah lima tahun, Nak.
Lima tahun yang lalu, Bapak ingat, ibumu melahirkanmu dengan rasa sayang yang amat besar kepadamu. Sempat khawatir waktu itu ketika engkau tidak bisa menangis. Bapak memelukmu, dan ibumu menatap dengan pandangan yang teduh. Ada airmata yang meleleh di pelupuk Bapak karena rasa haru, bahagia dan sekaligus merasa khawatir tak bisa memenuhi tanggung-jawab yang diberikan Allah dengan sebaik-baiknya.

Ketika malam itu engkau menangis untuk pertama kali, setelah beberapa jam Bapak dan ibu menanti, rasanya tak bisa kuungkapkan kepadamu, Nak. Bahagia sekali. Aku lihat raut wajah ibumu berubah kerna rasa bahagia yang tak terungkapkan lewat kata. Engkau tahu, Nak. Puncak kesedihan adalah tangis, dan puncak kebahagiaan juga tangis.

Begitu bahagia perasaan ibumu, sampai-sampai seakan tak pernah ada rasa sakit yang ia rasakan. Padahal baru delapan jam yang lalu ia melahirkanmu, Nak. Ketika malam itu engkau menangis keras-keras sekuat tenaga, ibumu dengan bersemangat belajar menyusuimu. Padahal malam telah benar-benar amat larut, dan manusia sedang lelap-lelapnya tertidur.

Engkau tahu, Nak. Semua keletihan itu tak terasa karena engkau sangat berarti. Semua kepenatan itu tak terhiraukan karena ada rasa bahagia yang amat dalam, sembari diam-diam Bapak berdo’a agar kelahiranmu menjadi kebaikan bagi agama ini. Bagi ummat ini. Itu sebabnya, kami namakan engkau Fathimatuz Zahra -sebagaimana Rasulullah Saw. menamai putrinya-meski kebaikan bapakmu sama sekali tak sebanding dengan beliau.

Sudah lima tahun, Nak.
Sudah cukup bagimu untuk merasakan bagaimana Bapak mendidikmu. Mungkin banyak luka yang membekas di hatimu karena Bapakmu ini, tak selalu mampu mendidikmu dengan kelembutan. Mungkin banyak coretan-coretan buram karena Bapak ini, ternyata tak bisa mengusapmu selembut Rasulullah Saw menyayangi putrinya, Fathimatuz Zahra. Bukan karena Bapak tak cinta kepadamu, Sayang. Tetapi karena jiwa Bapakmu yang masih lemah.

Sudah lima tahun, Nak.
Ingin Bapak menyayangimu sebagaimana Rasulullah menyayangi putri-putrinya. Tetapi hati yang masih keruh, tujuan hidup yang belum bersih, membuat ajakanmu untuk bercanda kadang justru Bapak sikapi dengan kalut. Teriakan kerasmu yang engkau pekikkan dengan penuh semangat, kadang masih saja Bapak hadapi dengan gusar. Padahal itu menunjukkan jiwamu benar-benar hidup.

Sikap yang tidak pada tempatnya ini, bukan karena Bapak tidak menyayangimu, Nak. Bukan. Rasa sayang itu amat besar. Kalau engkau sakit, Bapak merasa kehilangan sekali. Tetapi kegusaran itu ada, semata karena hati yang belum jernih. Ada sedikit pekerjaan yang harus Bapak selesaikan, di saat engkau dan adik-adikmu membutuhkan Bapak untuk bermain bersama. Seperti kata penyair Charles Bukowski, “Bukan masalah besar yang mengirim kita ke rumah gila, bukan hilangnya kekasih, melainkan hanya putusnya tali sepatu di saat kita mesti bergegas.”

Bukan hilangnya rasa cinta yang membuat Bapak kadang marah kepadamu, tetapi karena terburu oleh perkara kecil. Tapi seperti sebutir debu yang masuk ke mata, perkara yang kecil itu kadang membuat Bapak tidak melihat dengan jernih. Ada yang terganggu saat memandang, dan baru terasa ketika telah berlalu. Seperti raut tegang di wajah Bapakmu, sebenarnya tidak perlu ada. Bukankah tanpa itu kita bisa bermain-main riang? Kita juga bisa bercanda. Sesudah itu engkau bermain-main sendiri, atau mengajak adikmu. Sedangkan Bapak bisa meneruskan pekerjaan dengan hati tenang.

Teringat Bapak pada Ummu Fadhl. Suatu saat ia menggendong putranya dan membawa ke hadapan Nabi Saw. Anak yang masih bayi ini kemudian digendong Nabi, lalu pipis di dada beliau. Ummu Fadhl segera merenggutnya dengan kasar. Ia gusar karena anaknya pipis di dada Nabi Saw. Tetapi Nabi justru menegurnya. Kata Nabi, “Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa yang dapat membersihkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?”

Itu sebabnya, Nak Bapak kadang menangis sendirian di saat engkau telah tertidur. Bapak ingin tak pernah ada raut muka yang tegang, suara yang memekik keras, dan mata memerah yang menatap tajam. Bapak ingin senantiasa menatapmu dengan teduh, menyambutmu dengan canda, mendekapmu dengan hangat, dan membisikkan kepadamu kalimat yang bisa engkau pegangi untuk hidup di hari kemudian. Seperti saat engkau masih bayi, Bapakingin membisikkan di telingamu bahwa tidak ada yang layak engkau sembah kecuali Allah. Dan bahwa hidupmu harus memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.

Dan itu semua, Nak… nilainya tak bisa diukur dengan benda. Uang memang tidak mengalir setiap hari. Benda-benda juga tak datang sendiri. Tetapi rusaknya benda berharga karena engkau jadikan alat untuk belajar, tak ada nilainya apa-apa dibanding ilmu yang engkau dapat dan pengalaman yang menghidupkan jiwamu.

Tetapi, Nak…
Izinkan bapak mencoba sekali lagi. Betapa pun inginnya Bapak mendidikmu sebaik Luqmanul Hakim mendidik putranya, tetap saja ada yang kurang. Selalu saja di setiap penghujung malam, Bapak melihat langkah-langkah keliru. Ingin bersikap tegas kepadamu agar engkau teguh dalam berprinsip, tetapi yang muncul kadang justru sikap keras. Ingin bersikap lembut kepadamu agar engkau bisa menjadi penolong agama Allah, tetapi yang muncul kadang justru sikap lemah.

Ah…, sudah lima tahun usiamu, Nak.
Sudah cukup banyak yang engkau saksikan dari Bapak ibumu. Kelak engkau bisa belajar, mana yang baik dan mana yang buruk dari perilaku Bapak ibumu. Yang baik, ambillah. Do’akan semoga Allah jadikan sebagai amalan yang disukai-Nya, sehingga Ia berkenan memanggil kita ke surga-Nya sebagaimana Allah Ta’ala berkata, “Wahai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” Dan atas keburukan yang engkau dapati, ingatkanlah Bapak ibumu ini dengan perkataan qaulan karima. Maafkanlah kesalahan-kesalahan itu, ikhlaskanlah kekurangan-kekurangan itu, dan mohonkanlah kepada Allah agar memberi ampunan yang sempurna.

Selebihnya, belajarlah untuk menghormati ibumu. Cintailah ia dengan penghormatan yang tinggi dan perhatian yang tulus. Sesungguhnya, surgamu ada di telapak kakinya. Kalau sekali waktu ibumu tampak membelalak atau wajahnya sedikit cemberut, ketahuilah Nak tentang penat yang ia rasakan karena harus menyayangimu -dan juga adik-adikmu-tanpa batas waktu. Kalau hari ini engkau bisa berlari-lari gembira, itu karena ibumu mengikhlaskan keletihannya untuk mencurahkan kasih-sayang kepadamu saat tulang-tulangmu belum kuat. Kekuatan ibumulah yang engkau hisap saat kakimu belum mampu berdiri tegak, sehingga sekarang teriakanmu bisa lantang.

Sungguh, Nak. Besarnya kasih-sayang seorang ibu tak akan mungkin sanggup digantikan oleh seorang Bapak yang sangat mencintai anak-anaknya. Seperti kata-kata orang bijak, “Satu malam yang dijalankan oleh seorang ibu dalam mengurusi anaknya, bernilai lebih besar daripada bertahun-tahun kehidupan seorang ayah yang setia. Kelembutan dan kasih-sayang yang terkandung dalam mata berbinar seorang ibu adalah kilatan kasih dan sayang Tuhan Sekalian Alam.”

Sudah lima tahun, Nak. Tak terasa.
Begitu banyak yang terjadi dalam waktu yang amat panjang itu, tetapi amat sedikit yang bapak ingat. Seakan hidup ini tak kita pertanggung-jawabkan.

Rasanya baru kemarin engkau lahir. Bapak tak tahu harus tertawa atau menangis ketika ingat teriakanmu yang sangat lantang, lalu Bapak berkata mantap, “Teriakannya membangunkan jiwa yang tertidur. Semoga Allah jadikan ia sebagai kebaikan bagi agama ini.”

Hari ini, kata-kata itu masih menjadi cita-cita di hati Bapakmu.

Ah, sudah lima tahun, Nak.
Ada yang sering Bapak ingat tentang Fatimatuz Zahra putri Nabi Saw. Darinya kuambil namamu. Pernah ada yang bertanya, kenapa kuambil nama putri Nabi untuk namamu? Karena, tak banyak perempuan seperti dia. Dan Bapak ingin engkau bisa bercermin pada kemuliaannya.

Dialah, Nak seorang yang dipenuhi dengan kebaikan. Kalau malam sudah hampir berakhir, ia banyak menangis kepada Tuhan. Ia banyak berdoa untuk orang lain. Doa untuk tetangganya, ia panjatkan lebih dulu daripada doa untuk dirinya sendiri. Sementara ketika hari sudah siang, tangannya banyak menolong hamba-hamba Allah. Pada dirinya berhimpun kebaikan, keimanan, ketakwaan, kedermawanan, kezuhudan, kecerdasan, keberanian, dan tulusnya kasih sayang.

Ya… ya… ya… lima tahun sudah waktu berlari. Banyak yang sudah kita lalui, dan insya Allah masih banyak yang akan kita jalani. Ada yang pasti, dan ada yang harus engkau usahakan. Bapak ibumu akan semakin tua, adalah kepastian. Tetapi tentang nasib kita kelak di Yaumil-Qiyamah, ada yang harus kita persiapkan. Ada banyak pintu yang bisa engkau masuki dengan karunia yang diberikan Allah kepadamu. Atas kecerdasan dan kesempatan yang engkau miliki – di saat jutaan anak lainnya hanya bermimpi menghidupkan akalnya – gunakanlah untuk menolong agama ini. Sebab Allah tak akan memberikannya kepadamu kecuali bahwa ada kebaikan yang bisa engkau kerjakan.

Atas jiwamu yang hidup dan merdeka, sucikanlah! Sesungguhnya setiap saat ada bisikan-bisikan yang mengajak kepada fujur (penyimpangan) dan takwa. Dan berbahagialah engkau jika senantiasa engkau sucikan jiwamu. Sebab Allah sendiri telah berfirman, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. “ (Q.s. asy-Syams [91]: 8-10)

Sumber : Saat Berharga Untuk Anak Kita karya Mohammad Fauzil Adhim

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s